3.500 Tentara AS Tiba di Timur Tengah!

1 hour ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak lebih dari 3.500 tentara Amerika Serikat (AS), termasuk kapal induk USS Tripoli yang mengangkut sekitar 2.500 personel Marinir, telah tiba di Timur Tengah pada Sabtu, (28/03/2026). Kedatangan bala bantuan militer besar-besaran ini terjadi di tengah serangan yang kian intensif dalam perang Iran yang terus memanas di kawasan tersebut.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan dalam unggahan media sosial bahwa USS Tripoli, yang menjadi kapal bendera bagi Tripoli Amphibious Ready Group / 31st Marine Expeditionary Unit, telah tiba di area tanggung jawabnya. Kapal perang amfibi ini merupakan versi paling mutakhir dari jenis kapal "big deck", yang memberikan ruang lebih luas bagi jet tempur siluman F-35, pesawat Osprey, serta pesawat tempur lainnya.

Kapal tersebut sebelumnya berbasis di Jepang sebelum akhirnya menerima perintah pengerahan ke Timur Tengah hampir dua pekan lalu. CENTCOM menjelaskan bahwa selain membawa pasukan Marinir, Tripoli juga membawa pesawat angkut dan jet tempur serang, serta aset serbuan amfibi, sementara kapal USS Boxer dan dua kapal lainnya beserta unit ekspedisi Marinir lainnya juga telah diperintahkan menuju wilayah tersebut dari San Diego.

Eskalasi serangan udara juga dilaporkan terus meningkat tajam sejak dimulainya operasi militer besar-besaran. Berdasarkan lembar fakta yang dirilis CENTCOM pada hari Sabtu, lebih dari 11.000 target telah digempur sejak Operasi Epic Fury resmi dimulai pada 28 Februari lalu.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memberikan pernyataan terkait strategi militer Washington pada hari Jumat lalu. Rubio menegaskan bahwa Amerika Serikat dapat mencapai tujuannya di kawasan tersebut tanpa harus melibatkan pengerahan pasukan darat secara langsung.

"Amerika Serikat dapat memenuhi tujuannya tanpa pasukan darat mana pun. Namun, Presiden Trump harus bersiap untuk berbagai kemungkinan dan pasukan Amerika tersedia untuk memberikan pilihan maksimal bagi presiden serta kesempatan maksimal untuk menyesuaikan diri dengan kemungkinan-kemungkinan yang muncul jika hal itu terjadi," ujar Rubio.

Pengerahan pasukan ini merupakan respons atas serangan Iran yang melukai personel Amerika sebelumnya. Setidaknya 10 tentara AS, termasuk dua orang yang terluka parah, mengalami cedera saat Iran menembakkan enam rudal balistik dan 29 drone ke pangkalan udara Pangeran Sultan di Arab Saudi.

Perang yang terus mengganas ini telah mengacaukan penerbangan sipil global, mengganggu ekspor minyak, dan memicu lonjakan harga bahan bakar. Blokade Iran terhadap Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan strategis, telah memperburuk dampak ekonomi di tingkat global.

Kondisi semakin rumit setelah pemberontak Houthi yang didukung Iran menyatakan bergabung dalam peperangan pada hari Sabtu. Kelompok tersebut mengeklaim telah meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel yang menurut otoritas setempat berhasil dicegat.

Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menyatakan dalam pesan rekaman yang disiarkan televisi Al-Masirah bahwa pihaknya telah meluncurkan serangan kedua ke Israel. Saree menyebut serangan ke Israel selatan itu dilakukan bersamaan dengan serangan dari Iran dan Hizbullah, meski ia tidak merinci lokasi pastinya.

Keterlibatan Houthi dikhawatirkan akan merusak jalur pengiriman barang global jika mereka kembali menargetkan kapal-kapal di Selat Bab el-Mandeb. Analis senior Yaman di International Crisis Group, Ahmed Nagi, memperingatkan bahwa peningkatan serangan terhadap perkapalan komersial akan mendorong kenaikan harga minyak dan mengganggu stabilitas keamanan maritim secara keseluruhan.

"Dampaknya tidak akan terbatas pada pasar energi saja," kata Nagi.

Akibat penutupan Selat Hormuz, banyak negara kini berebut mencari rute alternatif untuk pengiriman komoditas. Selat Bab el-Mandeb di ujung selatan Semenanjung Arab menjadi jalur krusial bagi kapal menuju Terusan Suez, di mana Arab Saudi kini mengirimkan jutaan barel minyak mentah per hari melalui jalur tersebut.

Sebagai informasi, sekitar 12% perdagangan dunia dan 10% perdagangan maritim global-termasuk 40% lalu lintas kapal kontainer-melewati Terusan Suez setiap tahunnya. Ancaman Houthi sangat nyata mengingat antara November 2023 hingga Januari 2025, mereka telah menyerang lebih dari 100 kapal dagang dan menenggelamkan dua di antaranya.

Hingga saat ini, ketegangan politik antara Washington dan Teheran masih menemui jalan buntu. Presiden Donald Trump telah memberikan tenggat waktu kepada Iran hingga 6 April untuk membuka kembali Selat Hormuz, namun pihak Iran bersikeras tidak akan melakukan negosiasi apa pun.

Utusan Trump, Steve Witkoff, mengungkapkan bahwa Washington telah menyampaikan 15 poin "daftar tindakan" kepada Iran untuk gencatan senjata, termasuk pembatasan program nuklir. Namun, Teheran menolak proposal tersebut dan justru mengajukan lima poin tuntutan balik yang mencakup pembayaran reparasi serta pengakuan kedaulatan Iran atas jalur perairan tersebut.

(tps)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |