loading...
AI Jadi Mata yang Bisa Melihat dan Deteksi Kanker Paru-paru. Foto/Daily
LONDON - AI Jadi Mata yang Bisa Melihat dan Deteksi Kanker Paru-paru
New York- Dengan kemampuannya mengidentifikasi nodul paru-paru mikroskopis dan memberikan probabilitas keganasan hingga 97%, kecerdasan buatan (AI) berperan sebagai "asisten pintar," membantu dokter mendeteksi penyakit pada tahap awal.
Kanker paru-paru seringkali berkembang tanpa gejala, artinya sekitar 85% pasien baru didiagnosis pada stadium lanjut. Untuk mengatasi masalah ini, Rumah Sakit Bach Mai, bekerja sama dengan Universitas Teknologi (Universitas Nasional Vietnam, Hanoi) dan rumah sakit serta lembaga penelitian lainnya, telah mengembangkan sistem kecerdasan buatan "Buatan Bach Mai" di Pusat Kedokteran Nuklir dan Onkologi.
Saat ini, Rumah Sakit Bach Mai telah mengembangkan tiga model untuk mendiagnosis kanker paru-paru berdasarkan analisis big data dan AI.
Model pertama mendiagnosis kanker paru-paru berdasarkan analisis hasil pemindaian tomografi terkomputasi (CT) paru-paru. Model kedua mendiagnosis kanker paru-paru berdasarkan analisis waktu nyata dari citra endoskopi pernapasan dan bronkoskopi. Model ketiga mendiagnosis kanker paru-paru berdasarkan analisis citra histopatologi.
Sistem ini mampu memindai setiap irisan gambar secara otomatis, menentukan lokasi lesi yang dicurigai, dan mengklasifikasikan sel. Dalam implementasi praktis, model AI ini telah mencapai akurasi yang melampaui dokter dengan pengalaman profesional selama lima tahun.
Nodul kecil dan samar di bawah 1 cm, yang mudah terlewatkan oleh mata telanjang tetapi memiliki tingkat keganasan lebih dari 60%, kini dapat diidentifikasi oleh AI, membantu dokter menentukan secara tepat kapan intervensi bedah diperlukan, bukan hanya pemantauan yang berkepanjangan.
Pergelangan tangan dokter yang terentang dalam praktik klinis.
Di Rumah Sakit Universitas Kedokteran Hanoi, AI juga telah menjadi alat rutin dalam pencitraan diagnostik. Dr. Nguyen Ngoc Cuong, Kepala Departemen Radiologi Intervensional, mengatakan bahwa AI bertindak sebagai "pembaca kedua," beroperasi secara stabil dan tidak terpengaruh oleh faktor subjektif seperti kelelahan, stres, atau emosi.















































