Asal-Usul Bulan Syawal Sering Jadi "Musim Nikah" di Indonesia

8 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki bulan Syawal, satu fenomena yang hampir selalu berulang di Indonesia adalah ramainya pesta pernikahan. Lantas, kenapa Syawal identik dengan "musim nikah"?

Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil perpaduan faktor agama, budaya, hingga pertimbangan praktis. Awalnya dalam sejarah Arab pra-Islam, Syawal sempat dianggap bulan yang kurang baik untuk menikah. Namun, pandangan ini kemudian dipatahkan oleh Nabi Muhammad. 

Nabi Muhammad melangsungkan pernikahan dengan Aisyah pada bulan Syawal sesuai Hadits Nabi sebagai berikut. 

"Sayyidah 'Aisyah ra berkata: Rasulullah saw menikahiku pada bulan Syawal dan mengadakan malam pertama pada bulan Syawal. Istri Rasulullah mana yang lebih bentuntung ketimbang diriku di sisi beliau?," ungkapnya dikutip dari Hadits Riwayat Muslim.

Selain menikahi Aisyah, Nabi Muhammad juga menikahi Saudah binti Zam'ah dan Ummu Salamah (Hindun binti Abi Umayyah) pada bulan Syawal. Riwayat ini kemudian menjadi dasar bahwa menikah di bulan Syawal bukan hanya boleh, tetapi juga dianjurkan sebagai bentuk meneladani sunnah Nabi. 

Di Indonesia, tradisi mudik Idulfitri turut berperan membentuk kebiasaan ini. Banyak keluarga besar berkumpul di kampung halaman, sehingga mempermudah penyelenggaraan pesta pernikahan dengan kehadiran tamu yang lebih maksimal. Faktor praktis lain adalah ketersediaan waktu dan fleksibilitas jadwal. Banyak orang masih libur kerja atau cuti, sehingga memudahkan kegiatan hajatan.

Meski Syawal identik dengan "musim nikah", dalam Islam menikah boleh dilakukan kapan saja sepanjang syarat dan niat terpenuhi. Bulan Syawal hanyalah salah satu momen yang dianjurkan karena sejarah dan tradisi, bukan batasan wajib. Intinya, menikah adalah ibadah dan sunnah yang bisa dijalankan kapan pun sesuai kesiapan pasangan.

(mfa/mfa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |