Cadangan Minyak Terbesar Dunia Bakal Dilepas, Tapi Harga Tetap Tinggi

5 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengumuman pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah oleh Amerika Serikat dan sekutunya ternyata tidak serta-merta mampu meredakan kekhawatiran terhadap kenaikan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Lebih dari 30 negara di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur Laut sepakat melepas sekitar 400 juta barel minyak ke pasar global guna menekan lonjakan harga energi. AS memimpin upaya ini dengan melepas172 juta barel dari cadangan minyak strategisnya, setara 43% dari total pelepasan yang dikoordinasikan oleh International Energy Agency (IEA).

Langkah ini menjadi pelepasan cadangan minyak terbesar dalam 50 tahun sejarah IEA, organisasi yang bertugas menjaga keamanan energi negara-negara anggotanya saat terjadi krisis global.

Namun, langkah tersebut belum berhasil menenangkan pasar. Harga minyak mentah justru melonjak lebih dari 17% sejak pengumuman pelepasan cadangan darurat pada Rabu lalu. Harga minyak Brent, yang menjadi patokan internasional ditutup di atas US$100 per barel pada hari Jumat untuk sesi kedua berturut-turut.

Analis PVM yang berbasis di London, Tamas Varga mengatakan kondisi geopolitik masih menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga. Serangan terhadap kapal tanker di Teluk Persia serta penutupan Selat Hormuz dan pemimpin tertinggi Iran yang baru telah bersumpah untuk menjaga agar jalur perdagangan tersebut tetap tertutup.

"Sampai transit diaktifkan kembali, pengumuman kebijakan semacam itu akan memiliki dampak terbatas," kata Tom Liles, wakil presiden senior riset hulu di perusahaan konsultan Rystad Energy, dikutip dari CNBC Indonedsia, Sabtu (14/3/2026).

Liles mengatakan Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab mengekspor sekitar 14 juta barel per hari (bpd) sebelum perang. Adapun, sekitar 5 juta bpd hingga 6 juta bpd dapat diekspor melalui jalur pipa Saudi dan UEA yang berakhir di Laut Merah dan Teluk Oman, katanya.

Hal ini menyisakan sekitar 9 juta barel per hari, atau sekitar 10% dari pasokan global, yang hanya dapat melewati Selat dan akan tetap terhambat di wilayah tersebut hingga transit kembali normal, kata Liles. Sekilas, 400 juta barel darurat tersebut akan mencakup sekitar 40 hari dari pasokan yang hilang.

Namun kenyataannya jauh lebih rumit, kata Liles. "Hanya ada volume terbatas yang dapat dilepaskan selama periode tertentu. Bukan berarti 400 juta barel langsung muncul di pasar," ujarnya.

Stok Tidak Aman

Pasokan minyak yang terganggu oleh perang jauh lebih besar daripada stok yang dapat dilepaskan IEA setiap hari. Akibatnya, tindakan tersebut akan berdampak terbatas pada lintasan harga minyak, kata analis di Bernstein.

AS akan melepaskan 172 juta barel selama periode 120 hari. Ini berarti 1,4 juta barel per hari, yang hanya 15% dari pasokan yang hilang akibat penutupan Selat Hormuz. Setidaknya, dibutuhkan 13 hari agar barel tersebut masuk ke pasar sejak otorisasi Presiden Donald Trump.

IEA tidak memerinci kapan maupun berapa volume pelepasan cadangan dari negara anggota lainnya. Namun masing-masing dari 32 negara anggotanya akan memutuskan berdasarkan keadaan yang sesuai bagi mereka.

IEA terakhir kali melepaskan cadangan darurat sebagai respons terhadap invasi Rusia ke Ukraina. Anggotanya berhasil mencapai rekor tertinggi gabungan sebesar 1,3 juta barel per hari pada September 2022, menurut perusahaan konsultan Rapidan Energy. IEA mungkin dapat meningkatkan laju pelepasan mendekati 2 juta barel per hari.

"Ini memberi waktu, tetapi tidak menyelesaikan krisis," kata analis Bernstein.

(ven/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |