China Kasih Peringatan Bahaya, Satu Dunia Rasakan Dampaknya

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perdagangan China memberikan peringatan krisis chip yang makin parah di 2026, imbas konflik baru antara produsen chip Belanda, Nexperia, dengan anak usahanya di China, dikutip dari Reuters, Senin (9/3/2026).

Sebagai informasi, dunia dilanda krisis kelangkaan chip sejak akhir 2025 lalu. Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat produsen chip memprioritaskan chip berkinerja tinggi untuk AI atau yang diistilahkan HBM (High Bandwidth Memory).

Produksi chip HBM dinilai lebih menguntungkan, sehingga chip konvensional untuk perangkat elektronik konsumen seperti HP dan laptop dikesampingkan. Di saat bersamaan, permintaan chip HBM dan chip konvensional sama-sama melonjak.

Hal ini membuat kelangkaan di pasar dan memicu kenaikan chip gila-gilaan, baik untuk HBM maupun chip konvensional. Eskalasi konflik antara Nexperia dan anak usahanya di China memperuncing krisis yang saat ini terjadi dan berdampak ke industri teknologi.

Pada Oktober 2025 lalu, produksi industri otomotif sudah terganggu karena Beijing memberlakukan kontrol ekspor untuk chip Nexperia buatan China. Hal ini dipicu tindakan Den Haag yang mengambil alih perusahaan tersebut dari perusahaan induknya di China, Wingtech. Chip Nexperia sendiri banyak digunakan dalam sistem elektronik mobil.

Meskipun kelangkaan chip sempat mereda setelah negosiasi diplomatik, konflik antara perusahaan induk Nexperia di Belanda dan unitnya berbasis China ternyata terus berlanjut.

Nexperia di Belanda mendukung penghapusan kontrol Wingtech, sementara Wingtech tetap ingin mempertahankan posisinya.

Peringatan terbaru Beijing pada Sabtu (8/3) waktu setempat, muncul sehari setelah unit pengemasan Nexperia di China menuduh induknya di Belanda mematikan akun-akun kantor para karyawan di China.

"Ini memicu konflik baru dan menciptakan kesulitan dan tantangan baru dalam proses negosiasi perusahaan-ke-perusahaan," kata Kementerian Perdagangan China dalam pernyataan yang dipublikasikan di laman resminya, dikutip dari Reuters.

"Nexperia di Belanda secara serius merusak operasional dan proses produksi normal cabangnya di China. Hal ini kembali memicu krisis produksi dan rantai pasok semikonduktor global. Belanda harus bertanggung jawab penuh atas situasi ini," kementerian menambahkan.

Dalam pernyataannya, entitas Nexperia di belanda tidak membantah aksi terbarunya. Namun, entitas itu membantan tuduhan anak usahanya di China bahwa hal itu berdampak ke proses produksi di fasilitas perakitan dan pengujian di provinsi Guangdong, China.

Anak usaha Nexperia di China merespons penghapusan kontrol Wingtech pada September 2025 dengan mendeklarasikan diri sebagai entitas mandiri yang terlepas dari induknyua di Belanda.

Sejak saat itu, kedua entitas terlibat konflik perdagangan yang panas. Induk di Belanda juga telah menangguhkan suplai wafer di fasilitas di Guangdong.

Upaya dari Beijing, Den Haag, dan Brusssel sebagai mediator dalam negosiasi, sejauh ini belum menghasilkan titik tengah yang signifikan.

Beijing menuduh Den Haag tidak berbuat cukup untuk memaksa kompromi dari kantor pusat Nexperia di Belanda, atau mengakhiri proses pengadilan di Amsterdam yang mengalihkan saham Wingtech kepada seorang pengacara Belanda pada Oktober 2025.

(fab/fab)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |