Diminta Trump Kirim Kapal ke Selat Hormuz, Reaksi China Tak Terduga

7 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China secara tegas memberikan sinyal tidak akan membantu Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz yang terblokir akibat ketegangan militer. Keputusan ini muncul setelah Presiden Donald Trump meminta bantuan Beijing untuk mengamankan jalur perdagangan minyak vital tersebut, di tengah risiko Negeri Paman Sam yang kian terperosok dalam konflik di Timur Tengah pada Rabu, (18/03/2026).

Kementerian Luar Negeri China memberikan jawaban yang tidak pasti ketika ditanya apakah pihaknya akan membantu membuka kembali selat tersebut, namun mereka justru mendesak penghentian eskalasi. Melalui pernyataan resminya, pihak kementerian mengulangi seruannya agar semua pihak segera menghentikan operasi militer, menghindari eskalasi lebih lanjut dari situasi yang tegang, dan mencegah gejolak regional yang berdampak lebih jauh pada ekonomi global.

Direktur program China di Stimson Center, Sun Yun menilai bahwa permintaan Trump terkait Iran kini menjadi tidak terlalu mendesak untuk dipenuhi oleh Beijing. Menurut Yun, para diplomat China justru sedang sibuk menjalin hubungan dengan negara-negara di Timur Tengah lainnya dan menjanjikan peran konstruktif dalam meredakan ketegangan serta memulihkan perdamaian tanpa harus mengikuti keinginan Washington.

Peneliti senior di American Enterprise Institute, Zack Cooper bahkan meyakini bahwa China merasa diuntungkan dengan posisi AS saat ini yang kembali terseret dalam konflik Timur Tengah. Cooper mengatakan bahwa dirinya percaya China senang menunda kunjungan kenegaraan Trump dan merap keuntungan saat Amerika Serikat sekali lagi terjebak di Timur Tengah.

"Saya rasa sebagian besar pakar dan pejabat China percaya bahwa Amerika Serikat sedang merusak dirinya sendiri, jadi mereka hanya perlu menyingkir dari jalan tersebut," kata Cooper dikutip Arab News, Rabu (18/3/2026).

Situasi ini berkembang saat perang yang dilancarkan Trump terhadap Iran memasuki minggu ketiga, di mana tekanan terhadap Washington kian memuncak karena terhentinya arus minyak global. Sementara itu, para sekutu AS menolak untuk ikut campur dalam mengamankan selat tersebut, yang memicu kekhawatiran bahwa China sebagai rival geopolitik utama AS justru akan diuntungkan dari perang yang dianggap banyak pihak tidak terencana ini.

Penasihat penelitian dan advokasi senior untuk hubungan AS-China di International Crisis Group, Ali Wyne berpendapat bahwa permintaan Trump untuk menunda pertemuan puncaknya dengan Presiden Xi Jinping menunjukkan betapa sang presiden meremehkan dampak dari Operasi Epic Fury. Wyne menyebut unjuk kekuatan AS yang awalnya dimaksudkan untuk mengintimidasi Beijing justru merusak ilusi tentang kekuatan absolut AS.

"Karena tidak mampu membuka kembali Selat Hormuz sendirian, Washington kini membutuhkan pesaing strategis utamanya untuk membantu mengelola krisis yang dibuatnya sendiri," ujar Wyne.

Meskipun hubungan memanas, Beijing memberikan sinyal tetap membuka pintu komunikasi dengan menyatakan bahwa kedua belah pihak tetap berkomunikasi untuk menjadwal ulang kunjungan Trump yang tertunda. Pihak China bahkan membantu mengklarifikasi bahwa penundaan kunjungan yang semula dijadwalkan pada 31 Maret tersebut tidak ada hubungannya dengan penolakan mereka membantu di Selat Hormuz.

Presiden Donald Trump sendiri memberikan keterangan pada hari Selasa waktu setempat bahwa pihak China tidak keberatan dengan penundaan tersebut. Trump mengklaim bahwa dirinya memiliki hubungan kerja yang sangat baik dengan China meskipun situasi di lapangan menunjukkan adanya kebuntuan dukungan militer.

Di sisi lain, Beijing menunjukkan pengaruhnya di Timur Tengah melalui jalur kemanusiaan dengan mengirimkan paket bantuan darurat senilai US$ 200.000 ke Iran pada hari Minggu melalui Palang Merah. Bantuan tersebut ditujukan bagi keluarga korban pemboman gedung sekolah dasar Shajarah Tayyebeh di Minab, di mana duta besar China untuk Iran secara terbuka mengutuk keras serangan tersebut sebagai bentuk simpati diplomatik kepada Teheran.

Direktur pelaksana di praktik China pada The Asia Group, Brett Fetterly menilai penundaan kunjungan kenegaraan ini sebenarnya memberikan ruang bernapas bagi kedua negara di tengah ketidakpastian ekonomi. Fetterly menganggap lingkungan politik saat ini sangat sulit bagi Amerika Serikat jika harus melakukan perjalanan luar negeri di saat sang panglima tertinggi sedang mengelola operasi militer yang pelik.

"Di pihak China, tidak ada ruginya mengulur waktu untuk memahami lebih baik apa sebenarnya yang diinginkan Presiden Trump," tutur Fetterly.

Fetterly juga menambahkan bahwa pembicaraan perdagangan terbaru di Paris antara kedua pemerintah tampak mengalami jalan buntu dalam menangani perbedaan struktural pada sektor teknologi dan keamanan ekonomi. Menurutnya, saat ini kedua belah pihak memang membutuhkan waktu lebih lama untuk menentukan hasil nyata yang bisa dicapai dalam kesepakatan di masa depan.

Kekhawatiran terakhir muncul terkait strategi AS di Asia, di mana pemindahan aset militer besar-besaran dari Indo-Pasifik ke Timur Tengah dianggap dapat melemahkan posisi Washington di hadapan sekutunya. Cooper memperingatkan bahwa semakin lama perang ini berlanjut, semakin besar kekhawatiran sekutu Asia tentang keterbatasan sumber daya AS, termasuk kemungkinan penundaan penjualan senjata ke Taiwan yang selama ini menjadi titik paling sensitif dalam hubungan kedua negara.

(tps)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |