Doa Mbah Mardijiyono di Raudhah, Jemaah Haji Indonesia Berusia 103 Tahun

11 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Senyum tak pernah lepas dari wajah Mbah Mardijiyono. Duduk di tepi kasur hotel di Madinah, jemaah haji Indonesia berusia 103 tahun asal Yogyakarta itu tampak menyambut hangat orang yang datang menemuinya.

Kaus terbaik yang dikenakannya tak sedikit pun mengurangi sorot bahagia di wajahnya. Tangannya sesekali bergerak pelan membetulkan posisi duduk, sementara napasnya terdengar pendek setelah beberapa hari menjalani rangkaian ibadah di Kota Nabi.

Di kamar hotel itu, Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah, Khalilurrahman datang menghampiri sambil memeluknya erat seperti seorang anak memeluk ayahnya sendiri. Dengan bahasa Jawa halus, ia bertanya apakah Mbah Mardijiyono sudah makan.

"Dhahar nopo mbah (Makan apa mbah)?," tanya Khalilurrahman, Senin 11 Mei 2026.

"Bubur," jawab Mbah Mardijiyono sambil tertawa kecil.

Pendengaran Mbah Mardijiyono memang tak lagi sempurna. Karena itu, setiap pertanyaan harus dibisikkan pelan ke telinga kirinya oleh dr. Dini Desi, dokter yang sejak keberangkatan dari Yogyakarta setia mendampinginya.

Rahasia Umur Panjang dan Pengalaman di Raudhah

Saat ditanya rahasia umur panjangnya, Mbah Mardijiyono tak memberi jawaban rumit. Baginya, usia lebih dari seabad hanyalah titipan Tuhan yang harus disyukuri.

"Umur niki sing maringi Gusti Allah, kulo bersyukur mawon kaleh nikmate Gusti Allah (Umur ini adalah pemberian Allah, saya bersyukur saja atas nikmat yang diberikan-Nya)," kata Mbah Mardijiyono lirih.

Namun, ada satu momen yang paling membuat mata Mbah Mardijiyono berbinar, yakni saat menceritakan pengalamannya berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW dan salat di Raudhah.

"Kulo remen, seneng saget sowan ten Kanjeng Nabi Muhammad (Saya senang, saya senang berziarah ke makam Nabi Muhammad)," ucapnya pelan.

Ia mengaku sangat bahagia akhirnya bisa datang langsung ke makam Rasulullah setelah menunggu puluhan tahun. Bagi lelaki yang mengaku sudah tak ingat lagi jumlah cucunya itu, kesempatan berada di dekat makam Nabi bukan sekadar perjalanan ibadah, melainkan anugerah terbesar dalam hidupnya.

Panjatkan Doa untuk Semua

Napas Mbah Mardijiyono sempat terengah ketika mengenang momen di Raudhah. Di tempat itulah ia memanjatkan doa bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga bagi seluruh jemaah dan petugas haji Indonesia.

Ia berharap semua orang yang datang ke Tanah Suci diberi kesehatan, umur panjang, dan pulang dengan predikat haji mabrur.

"Semoga semua sehat dan hajinya diterima Allah," kata dia.

Mbah Mardijiyono bersiap meninggalkan Madinah menuju Makkah untuk melanjutkan rangkaian ibadah haji. Sebelum tiba di Kota Suci, rombongannya akan singgah lebih dulu di Masjid Bir Ali untuk mengambil miqat dan memulai niat umrah wajib.

Meski tubuhnya tampak rapuh dimakan usia, semangat Mbah Mardijiyono justru terlihat begitu kuat. Ia berkali-kali mengatakan dirinya kini merasa sehat dan siap melanjutkan perjalanan menuju Baitullah.

Ia kembali menunjukkan semangatnya setelah sempat menjalani perawatan di Madinah. Pria berusia 103 tahun itu sebelumnya dirawat selama tiga hari di rumah sakit, namun kini dinyatakan pulih dan siap melanjutkan perjalanan ibadah ke Makkah.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |