Jakarta, CNBC Indonesia - Perang yang melibatkan Iran berdampak langsung pada operasi gas di Qatar, pemasok gas alam cair (LNG) terbesar di dunia.
Akibatnya, harga helium yang merupakan produk sampingan gas alam melonjak tajam dan memicu kekhawatiran gangguan rantai pasok chip global.
Di tengah kekhawatiran tersebut, Korea Selatan justru menyatakan kondisi relatif aman. Negara yang menjadi basis raksasa chip dunia seperti Samsung Electronics dan SK Hynix ini mengaku memiliki cadangan helium yang cukup hingga pertengahan tahun.
Pemerintah Korea Selatan memastikan pasokan masih terkendali dan belum melihat potensi gangguan dalam waktu dekat. Bahkan, industri disebut telah mengamankan stok untuk kebutuhan hingga 4-6 bulan ke depan.
Meski demikian, langkah antisipasi tetap dilakukan. Perusahaan-perusahaan chip kini rela membayar lebih mahal demi mengunci pasokan, terutama dari Amerika Serikat sebagai produsen utama.
"Terlepas dari harga, mengamankan stok saat ini adalah prioritas utama," ungkap sumber pemerintah, dikutip dari Reuters, Rabu (1/3/2026).
Di sisi lain, tekanan global belum mereda. Qatar, yang menyumbang hampir sepertiga pasokan helium dunia, terpaksa menghentikan sebagian kewajiban kontraknya setelah serangan terhadap fasilitas gas mereka.
Kondisi ini menambah ketidakpastian di pasar energi dan bahan baku industri. Dampaknya pun sudah mulai terasa. Sejumlah pelaku industri mengaku produksi chip sudah mulai terdampak, meskipun belum signifikan.
Tak hanya helium, bahan penting lain seperti bromin juga terancam terganggu jika konflik berkepanjangan. Ditambah lagi, lonjakan harga energi menjadi beban baru bagi industri teknologi global.
Ketua SK Group, Chey Tae-won, bahkan menegaskan bahwa krisis ini memaksa perusahaan mencari sumber energi alternatif lain.
(fab/fab)
Addsource on Google

3 hours ago
2
















































