Dunia Masih Haus Minyak, Segini Dampak UEA Cabut dari OPEC

3 hours ago 5

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

29 April 2026 16:25

Jakarta, CNBC Indonesia- Uni Emirat Arab (UEA) resmi keluar dari OPEC pada Jumat pekan ini (1/5/2026). Langkah tersebut datang saat pasar minyak global berada dalam tekanan geopolitik, terutama setelah gangguan pelayaran di Selat Hormuz. Reaksi harga pada hari pertama relatif tenang. Namun dari sisi struktur pasar, keputusan ini berat.

Laporan bulanan OPEC memperkirakan permintaan minyak dunia mencapai 105,7 juta barel per hari pada kuartal I-2026.

Pada kuartal II-2026, kebutuhan global diproyeksi tetap tinggi di 105,1 juta barel per hari. Konsumsi terbesar masih berasal dari Amerika Serikat sekitar 20,5 juta barel per hari, disusul China 17,2 juta barel per hari dan India 5,9 juta barel per hari. Dunia masih haus energi.

Di sisi pasokan, OPEC mencatat produksi minyak mentah kelompoknya turun ke 25,9 juta barel per hari pada kuartal I-2026, dari rata-rata 27,6 juta barel per hari sepanjang 2025. Artinya, saat kebutuhan dunia tetap tinggi, kartel sedang memasok lebih sedikit minyak ke pasar. Dalam fase seperti ini, setiap barel tambahan punya arti besar.

UAE bukan anggota kecil dan ada di kelompok produsen utama OPEC bersama Arab Saudi, Irak, Iran, dan Kuwait. Namun bobot UAE tidak berhenti pada angka produksi harian. Nilai strategisnya ada pada kapasitas cadangan yang siap dipakai sewaktu-waktu.

Kapasitas cadangan atau spare capacity adalah produksi yang belum digunakan dan bisa dinaikkan cepat saat pasar kekurangan pasokan. Menurut analis Rystad Energy Jorge León kebada CNBC Internasional, UEA) berada di posisi kedua setelah Arab Saudi dalam hal cadangan produksi di internal OPEC. Bersama Saudi, keduanya menguasai mayoritas kapasitas cadangan global yang diperkirakan melebihi 4 juta barel per hari.

Menurut trading economics, produksi minyak mentah di Uni Emirat Arab turun menjadi 1.908 ribu barel per hari pada Maret 2026, dari 3.390 ribu barel per hari pada Februari 2026.

Sepanjang 2025, produksi minyak UEA mencapai 3,8 juta bpd.

Produsen minyak terbesar duniaFoto: Visual capitalist

Secara historis, produksi minyak mentah UEA rata-rata mencapai 2.237,44 ribu barel per hari sepanjang periode 1973 hingga 2026. Rekor tertinggi tercatat pada April 2020 sebesar 4.033 ribu barel per hari, sementara level terendah terjadi pada Agustus 1984 sebesar 990 ribu barel per hari.

Artinya ketika perang pecah, sanksi dijatuhkan, atau produksi negara lain turun mendadak, dua negara ini memiliki kemampuan menambah barel ke pasar dalam waktu singkat. Instrumen seperti itu selama ini menjadi salah satu alasan OPEC masih relevan. Kartel tidak hanya bicara kuota, tetapi juga kemampuan menenangkan pasar saat krisis.

Produksi Crude Oil UAEFoto: Trading Economics

Dengan keluarnya UEA, OPEC kehilangan salah satu mesin cadangan terpentingnya. Arab Saudi masih memegang pengaruh besar, tetapi ruang geraknya menyempit. Jika suplai global terganggu, beban tambahan akan lebih banyak jatuh ke Riyadh. Jika pasar kelebihan minyak, koordinasi pemangkasan juga berpotensi lebih rumit karena satu pemain utama berada di luar pagar organisasi.

Bagi Arab Saudi, ini juga soal kepemimpinan. Selama beberapa tahun terakhir Riyadh memikul pemotongan produksi terbesar demi menopang harga minyak. Peran itu efektif ketika ada dukungan anggota utama lain. Saat UEA pergi, kemampuan Saudi mengarahkan ritme OPEC melemah meski belum hilang.

Dari sisi Abu Dhabi, menteri Energi Suhail Al Mazrouei mengatakan UAE ingin kebebasan lebih besar dalam menentukan kebijakan produksi.

Negara itu menargetkan kapasitas 5 juta barel per hari pada 2027. Dengan target sebesar itu, pembatasan kuota dipandang menghambat monetisasi investasi hulu yang sudah ditanam bertahun-tahun.

Ada juga faktor ketegangan regional. Serangan terhadap kapal dan eskalasi konflik dengan Iran menekan arus ekspor melalui Hormuz, jalur vital bagi ekonomi Teluk. Meski UAE tidak mengaitkan keputusan keluar secara resmi dengan perang, momentum pengumuman di tengah krisis memberi konteks kuat bahwa keamanan pasokan kini menjadi prioritas utama.

Dalam jangka pendek, pasar belum tentu berubah drastis. Selama Hormuz masih terganggu, trader akan fokus pada risiko distribusi harian. Namun setelah konflik reda, skenario baru terbuka. UAE bisa menaikkan produksi lebih agresif, memakai kapasitas cadangan yang selama ini tertahan, lalu merebut pangsa pasar Asia. Tambahan suplai seperti itu berpotensi menekan harga minyak global.

Namun masih ada resijo volatilitas. Saat permintaan dunia melemah, pasar biasanya mengandalkan koordinasi OPEC untuk menahan kejatuhan harga. Dengan UAE di luar organisasi, disiplin kolektif menjadi lebih rapuh. Harga bisa bergerak lebih tajam, naik saat suplai terganggu, turun cepat saat barel berlebih masuk pasar.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |