Fakta Terbaru: Perang Trump di Iran Berbalik 'Hantam' Warga Amerika

5 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik militer Amerika Serikat (AS) di Iran berpotensi menimbulkan beban jumbo hingga merugikan warga Amerika sendiri sebagai pembayar pajak. Seorang akademisi dari Harvard memperkirakan total biaya perang ini bisa menembus US$1 triliun atau sekitar Rp17.000 triliun (asumsi kurs Rp17.000/US$).

Dalam enam hari pertama operasi gabungan AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari, Pentagon melaporkan biaya mencapai US$11,3 miliar atau sekitar Rp192,1 triliun. Namun angka ini dinilai belum mencerminkan biaya sebenarnya.

Profesor kebijakan publik di Harvard Kennedy School, Linda Bilmes, memperingatkan bahwa biaya riil bisa jauh lebih besar dan berdampak langsung pada masyarakat AS. "Saya yakin kita akan mencapai US$1 triliun untuk perang Iran," ujar Bilmes, seperti dikutip CNBC International, Rabu (15/4/2026).

Meski sempat terjadi gencatan senjata sementara pada 8 April, situasi di lapangan masih memanas. Upaya damai belum membuahkan hasil, bahkan pasukan AS kembali meningkatkan tekanan dengan memulai blokade pelabuhan Iran setelah negosiasi gagal.

Bilmes menjelaskan, biaya jangka pendek perang bisa mencapai US$2 miliar per hari atau sekitar Rp34 triliun. Ini terutama untuk amunisi, pengerahan pasukan, hingga kerusakan aset militer. Salah satu contohnya adalah jatuhnya tiga jet tempur F-15 akibat salah sasaran.

Menurutnya, laporan Pentagon cenderung meremehkan biaya karena menggunakan nilai historis inventaris, bukan harga penggantian aktual yang jauh lebih mahal. "Kesenjangan ini membuat angka US$11,3 miliar lebih mendekati US$16 miliar (Rp272 triliun)," jelasnya.

Selain itu, biaya pengisian ulang persenjataan juga menjadi sorotan. AS harus mengeluarkan sekitar US$4 juta (Rp68 miliar) per unit pencegat rudal, jauh lebih mahal dibandingkan drone Iran yang hanya sekitar US$30.000 (Rp510 juta).

Dalam jangka panjang, beban biaya akan semakin membengkak. Selain rekonstruksi aset militer dan infrastruktur sekutu di kawasan Teluk, pemerintah AS juga harus menanggung tunjangan cacat seumur hidup bagi sekitar 55.000 tentaranya yang terpapar bahaya lingkungan selama penugasan.

Di sisi lain, Gedung Putih telah mengajukan kenaikan anggaran pertahanan menjadi US$1,5 triliun (Rp25.500 triliun). Hal itu belum termasuk tambahan US$200 miliar (Rp3.400 triliun) khusus untuk perang Iran.

"Bahkan jika tidak disetujui penuh, kemungkinan besar setidaknya US$100 miliar (Rp1.700 triliun) per tahun akan ditambahkan ke anggaran pertahanan karena perang ini," kata Bilmes.

Kondisi ini dinilai akan semakin menekan defisit fiskal AS yang sudah tinggi. Saat ini, utang publik AS telah melampaui US$31 triliun (Rp527.000 triliun), jauh lebih besar dibandingkan periode perang Irak.

"Kita membiayai perang ini dengan utang yang lebih mahal, di atas basis utang yang sudah sangat besar," ujar Bilmes. "Biaya ini bukan hanya sekarang, tapi akan diwariskan ke generasi berikutnya," tegasnya menyebut beban bunga utang akan terus bertambah dan pada akhirnya ditanggung generasi mendatang di AS.

(tfa/sef) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |