Amalia Zahira, CNBC Indonesia
31 March 2026 09:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak kelapa sawit (CPO) kembali menguat dan mencetak level tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Berdasarkan kontrak acuan FCPOc3 di Bursa Malaysia, harga pada hari ini, Selasa (31/3/2026) bahkan telah melampaui puncak sebelumnya yang tercatat pada 17 Desember 2024, menandai momentum bullish baru.
Kenaikan ini terjadi di tengah kombinasi faktor eksternal mulai dari penguatan harga minyak kedelai di Chicago, reli harga minyak mentah, hingga lonjakan ekspor Malaysia yang memperkuat sentimen pasar.
Tembus Level Tertinggi Sejak Desember 2024
Data perdagangan menunjukkan harga FCPOc3 pada hari ini, (31/3/2026) menyentuh MYR 4.828 per ton atau menguat 0,59% per pukul 8:00 WIB. Level ini melampaui puncak sebelumnya pada 17 Desember 2024 yang berada di kisaran MYR 4.779 per ton. Harga CPO juga sudah menguat empat hari beruntun dengan menguat 6,8%.
Harga sawit kini berada pada posisi tertinggi dalam sekitar 15 bulan terakhir. Sepanjang 2025, harga sempat mengalami tekanan dan bergerak di bawah level tersebut sebelum akhirnya kembali menguat di awal 2026.
Jika tren ini berlanjut, potensi penguatan lanjutan masih terbuka, meskipun pasar tetap berpotensi mengalami koreksi jangka pendek.
Didorong Minyak, Minyak Kedelai & Harga Energi Global
Penguatan harga sawit tidak terjadi sendiri. Pasar CPO bergerak seiring dengan minyak nabati lainnya, terutama minyak kedelai, serta dipengaruhi oleh dinamika harga energi global.
Pada perdagangan sebelumnya, kontrak CPO sempat naik untuk tiga sesi beruntun, didukung oleh kenaikan harga minyak kedelai di Chicago serta reli harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak mentah ini turut meningkatkan daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel.
Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendorong harga minyak global, yang secara tidak langsung memberikan sentimen positif ke pasar sawit.
Lonjakan Ekspor & Kebijakan India Perkuat Sentimen
Dari sisi fundamental, kinerja ekspor Malaysia menjadi faktor penting yang menopang harga. Data surveyor menunjukkan ekspor produk sawit Malaysia periode 1-25 Maret melonjak antara 38,4% hingga 50,6% dibanding bulan sebelumnya.
Ditambah lagi, pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia sebesar 0.17% terhadap dolar Amerika membuat harga sawit menjadi relatif lebih murah bagi pembeli internasional, sehingga turut mendukung permintaan.
Kenaikan ekspor ini mencerminkan permintaan global yang tetap kuat, sekaligus memperketat pasokan di pasar internasional.
Di sisi lain, kebijakan India juga turut mempengaruhi dinamika pasar. Regulator pasar India memperpanjang larangan perdagangan derivatif untuk tujuh komoditas pertanian, termasuk CPO, hingga Maret tahun depan.
Sebagai negara importir CPO terbesar, perpanjangan larangan perdagangan derivatif ini dapat memicu kenaikan harga CPO di pasar global. Meski bertujuan menekan volatilitas domestik, kebijakan ini justru berpotensi meningkatkan permintaan CPO.
Sinyal harga yang menjadi kurang transparan berpotensi mendorong panic buying atau forward buying di kalangan importir, sehingga pasokan global semakin ketat dan harga pun menguat
(mae/mae)
Addsource on Google

2 hours ago
4
















































