Jakarta, CNBC Indonesia - Isu krisis energi dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di beberapa negara ternyata belum berdampak signifikan terhadap peningkatan minat masyarakat untuk membeli sepeda motor listrik. Pelaku industri masih menunggu momentum yang lebih tepat untuk melihat perubahan perilaku konsumen.
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI), Budi Setiyadi, menilai waktu kemunculan isu tersebut kurang ideal karena berdekatan dengan periode Lebaran, saat fokus masyarakat lebih condong pada konsumsi kebutuhan hari raya.
"Ini kan ribut-ribut tentang bensin mahal baru dua mingguan. Dan kebetulan momentumnya bersamaan dengan Lebaran, di saat orang fokus mikirin konsumsi untuk itu," kata Budi kepada CNBC Indonesia, Kamis (26/3/2026).
Kondisi tersebut membuat evaluasi dampak terhadap penjualan kendaraan listrik menjadi kurang relevan jika dilakukan dalam waktu dekat. Aktivitas belanja masyarakat pun tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi normal.
"Mungkin setelah beberapa waktu, setelah minggu depan, baru kita lihat evaluasi. Karena satu minggu ini tidak efektif untuk menilai perubahan perilaku masyarakat," ujarnya.
Budi menegaskan bahwa secara umum belum ada dorongan kuat yang membuat masyarakat beralih dari motor berbahan bakar ke listrik. Hal ini juga dipengaruhi oleh belum adanya kebijakan kenaikan harga BBM dari pemerintah.
"Kalau menurut saya sih mungkin ada efek, tapi tidak signifikan. Karena sekarang juga belum ada isu kenaikan harga BBM yang benar-benar jadi perhatian utama," ungkapnya.
Foto: Karyawan di depan motor listrik Adora di Shoowrom Indomobil E-Motor, Jakarta, Rabu (20/8/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Karyawan di depan motor listrik Adora di Shoowrom Indomobil E-Motor, Jakarta, Rabu (20/8/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Isu yang berkembang di masyarakat sebelumnya lebih banyak berkaitan dengan asal pasokan BBM, bukan soal kelangkaan atau kenaikan harga.
"Yang ramai kemarin itu soal BBM dari Singapura atau Malaysia, bukan soal kenaikan harga atau kelangkaan. Jadi dampaknya ke konsumsi tidak besar," jelas Budi.
Dalam pandangannya, faktor psikologis masyarakat terhadap harga BBM masih relatif stabil. Hal ini membuat dorongan untuk beralih ke kendaraan listrik belum menjadi kebutuhan mendesak.
Di sisi lain, pemerintah disebut tengah mendorong program konversi motor listrik dalam skala besar. Namun, implementasinya masih menunggu kejelasan arah kebijakan dan target yang lebih konkret.
Budi juga mengungkapkan bahwa dirinya dijadwalkan untuk mempresentasikan kesiapan industri di hadapan Dewan Ekonomi Nasional dalam waktu dekat.
"Kalau pemerintah nanti benar-benar membuat kebijakan konversi, kami diminta untuk mempresentasikan kesiapan industri sepeda motor listrik," katanya.
Menurutnya, evaluasi yang lebih akurat baru bisa dilakukan setelah aktivitas masyarakat kembali normal pasca Lebaran.
"Jadi kita lihat saja minggu depan atau setelahnya. Apakah benar ada pergeseran minat atau tidak," tutupnya.
(fys/wur)
Addsource on Google

1 hour ago
2
















































