Impor Ayam AS Dibuka, Proyek Rp20 Triliun Danantara Bisa Terdampak

9 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana pemerintah membuka impor produk ayam dari Amerika Serikat (AS) dinilai berpotensi memunculkan tantangan baru bagi program hilirisasi sektor perunggasan yang tengah digarap pemerintah melalui investasi Danantara senilai Rp20 triliun.

Kesepakatan dagang Indonesia-AS melalui skema Agreement on Reciprocal Trade (ART) memungkinkan masuknya sejumlah produk unggas dari Negeri Paman Sam, salah satunya berupa unggas hidup untuk kebutuhan grand parent stock (GPS) sebanyak 580.000 ekor dengan nilai sekitar US$17-20 juta.

Selain itu, Indonesia juga membuka impor mechanically deboned meat (MDM) yang banyak digunakan sebagai bahan baku produk olahan seperti sosis, nugget, dan bakso. Volume impor MDM diperkirakan berada di kisaran 120.000 hingga 150.000 ton per tahun.

Ekonom Senior Indef Tauhid Ahmad menilai kebijakan membuka keran impor komoditas pangan, termasuk ayam, berpotensi memengaruhi keberlangsungan program hilirisasi yang saat ini sedang digencarkan pemerintah.

Ia menjelaskan, pemerintah sebenarnya telah memulai proyek hilirisasi ayam melalui sejumlah proyek percontohan di beberapa daerah. Namun, kebijakan impor yang lebih terbuka dinilai dapat memengaruhi daya saing industri domestik.

"Pemerintah kan punya hilirisasi ayam (Danantara), sudah ada pilot project dan sudah dilakukan di beberapa lokasi," kata Tauhid saat ditemui di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Menurut Tauhid, produk ayam impor berpeluang lebih cepat menembus pasar domestik, terlebih jika tidak disertai persyaratan tambahan seperti kewajiban sertifikasi halal. Kondisi ini berpotensi menggeser konsumsi ayam lokal, khususnya di kota-kota besar dengan tingkat permintaan yang terus meningkat.

Situasi tersebut juga beririsan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditargetkan menjangkau sekitar 82,9 juta penerima manfaat. Program ini membutuhkan dukungan produksi ayam dari dalam negeri melalui proses hilirisasi.

Menurut Tauhid, jika impor dibuka lebar, pasar bisa saja lebih memilih produk luar negeri karena prosesnya lebih cepat dibandingkan menunggu hasil produksi dari proyek hilirisasi yang masih dalam tahap pengembangan.

"Kalau impor dibuka ya lebih gampang impor, karena kalau di sana kan sangat murah sekali. Saya kira ini menjadi problem ya, termasuk misalnya untuk pembibitan, kan juga dibuka peluang untuk industri mereka masuk untuk indukan. Padahal kalau kita mau harusnya itu bisa dilakukan di dalam negeri," tuturnya.

Kendati demikian, ia menilai program hilirisasi tidak otomatis gagal hanya karena adanya kesepakatan dagang dengan AS. Menurutnya, keputusan pasar pada akhirnya akan sangat dipengaruhi oleh faktor harga.

"Menurut saya bukan terancam gagal, tapi market akan milih mana yang lebih murah. Kita belum tahu harga yang akan dihasilkan oleh Danantara berapa banyak dan berapa besar, tetapi kalau misalnya impor ini bisa jauh lebih murah, pasti konsumen akan milih harga yang lebih murah," terang dia.

Karenanya, Tauhid menyarankan pemerintah memperkuat daya saing industri perunggasan nasional. Salah satu langkah penting adalah menekan biaya produksi, terutama dari sisi pakan ternak yang menjadi komponen terbesar dalam industri ayam.

Selain itu, dukungan pemerintah juga dibutuhkan dalam penyediaan obat dan layanan kesehatan ternak serta pembangunan infrastruktur pendukung. Dengan biaya produksi yang lebih efisien, industri ayam domestik diharapkan mampu bersaing dengan produk impor di pasar dalam negeri.

(hsy/hsy)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |