Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan teknologi raksasa induk dari Facebook, Instagram hingga Whatsapp (WA), Meta Platforms, menyiapkan skema insentif baru bagi para petinggi perusahaan dengan target yang sangat ambisius. Melalui program opsi saham terbaru, Meta mendorong jajaran eksekutifnya untuk meningkatkan valuasi perusahaan hingga menembus US$9 triliun pada 2031.
Sejumlah nama yang masuk dalam program ini antara lain CTO Andrew Bosworth, Chief Product Officer Chris Cox, COO Javier Olivan, CFO Susan Li, Chief Legal Officer C.J. Mahoney, serta Vice Chairman Dina Powell McCormick.
Sementara Pimpinan Eksekutif Meta, Mark Zuckerberg, tidak termasuk dalam program tersebut, demikian dikonfirmasi oleh perusahaan.
Meta berupaya memotivasi para jajaran pucuk pimpinannya untuk mengembangkan perusahaan dengan laju yang sangat agresif melalui program opsi saham baru. Upaya tersebut diyakini berpotensi memberikan imbalan ratusan juta dolar atau setara triliunan rupiah bagi yang berhasil mencapai target.
Target tersebut berarti lonjakan sekitar 500% dari posisi saat ini yang berada di kisaran US$1,5 triliun.
Juru bicara Meta mengatakan, hal ini merupakan taruhan besar. Paket gaji ini tidak akan terwujud kecuali Meta meraih kesuksesan besar di masa depan, yang akan menguntungkan semua pemegang saham.
"Seperti halnya semua opsi saham, nilai hanya akan ada jika harga saham secara signifikan melebihi harga pelaksanaan, dan dalam hal ini, hal itu harus terjadi dalam jangka waktu 5 tahun yang sangat agresif," ujarnya mengutip The Wall Street Journal, Kamis (26/3/2026).
Selain opsi saham, Meta juga meningkatkan alokasi restricted stock units (RSU) bagi sebagian eksekutif. Langkah ini diambil di tengah kompetisi ketat industri teknologi, khususnya dalam perebutan talenta kecerdasan buatan (AI).
Perlombaan AI sendiri telah mendorong lonjakan biaya kompensasi berbasis saham Meta. Tahun lalu, perusahaan agresif merekrut peneliti AI dengan paket kompensasi yang dalam beberapa kasus bisa melampaui US$1 miliar per individu.
Dari sisi keuangan, tekanan biaya tersebut terlihat signifikan. Sepanjang 2025, pengeluaran tunai terkait kompensasi saham mencapai sekitar US$42 miliar, atau setara 96% dari free cash flow perusahaan.
Perusahaan melaporkan pajak pemotongan tunai sebesar US$18,4 miliar terkait saham yang telah jatuh tempo dan menghabiskan sekitar US$23,6 miliar untuk pembelian kembali saham guna mengimbangi dilusi.
Dari 40 juta saham yang dibeli kembali Meta tahun lalu, 90% di antaranya diperlukan untuk menangkal dilusi dari penghargaan saham karyawan.
Strategi insentif agresif ini mencerminkan tren yang juga dilakukan perusahaan teknologi lain, seperti dewan direksi Tesla yang berhasil meyakinkan pemegang saham untuk menyetujui paket kompensasi CEO Elon Musk yang nilainya berpotensi mencapai US$1 triliun dalam 10 tahun.
Dalam skema tersebut, Musk diwajibkan meningkatkan valuasi Tesla dari sekitar US$1,2 triliun menjadi US$8,5 triliun. Rencana Meta membutuhkan tingkat pertumbuhan yang hampir setara dalam waktu setengah dari itu.
(fsd/fsd)
Addsource on Google

4 hours ago
6
















































