Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
05 March 2026 20:35
Jakarta, CNBC Indonesia- Iran sering muncul dalam peta energi global. Namun di sektor pangan, negara ini menyimpan kekuatan lain yang jarang disorot.
Data Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau FAO menempatkan Iran sebagai salah satu produsen utama berbagai komoditas bernilai tinggi, mulai dari saffron hingga kacang premium.
Iran merupakan produsen saffron terbesar di dunia. Rempah ini dikenal sebagai salah satu bahan pangan termahal secara global. Selain itu, Iran berada pada posisi kedua produsen pistachio dunia. Untuk komoditas kurma, madu, dan walnut, negara ini berada di kelompok tiga dan empat produsen terbesar dunia.
Sebagai catatan, saffron berasal dari bunga saffron crocus, yang merupakan bumbu termahal sebagai bahan masakan. Jika Anda ingin membeli satu ons saja, Anda akan membayar sejumlah uang terbilang mahal.
Foto: Saffron Crocus. (Dok: Istimewa)
Saffron Crocus. (Dok: Istimewa)
Rempah yang berasal dari bunga Crocus sativus atau dikenal saffron ternyata telah digunakan sejak zaman dahulu. Saffron dianggap memiliki beberapa manfaat untuk kesehatan.
Saffron sering disebut sebagai rempah paling mahal di dunia. Itu karena dalam produksinya petani harus memanen benang halus dari setiap bunga dengan tangan mereka.
Para peneliti menilai bahwa bunga saffron mengandung banyak senyawa aktif dan beberapa kandungan, seperti protein, lemak, serat, energi, kalsium, zat besi, fosfor, kalium, dan vitamin C.
Di puncak daftar rempah termahal, terdapat saffron dengan harga sekitar US$ 2.400 per pon atau US$ 5.291 per kg. Bila dirupiahkan angkanya Rp 88,8 juta/kg (US$1=16.800).
Rempah ini sering disebut "emas merah" karena proses produksinya yang sangat rumit. Dalam satu tahun, masa panennya hanya berlangsung tiga minggu, dan dibutuhkan hingga 80 ribu bunga untuk menghasilkan satu pon saffron kering.
Iran mendominasi pasar dengan menguasai sekitar 90% produksi dunia, sementara permintaan terus meningkat dari Eropa, Timur Tengah, hingga Amerika Serikat. Tidak heran, nilainya seringkali melebihi harga logam mulia.
Sementara itu, menjadi kacang bernilai tinggi karena faktor tenaga kerja. Menurut laporan yang sama, panen pistachio masih dilakukan manual, dengan harga US$3-7 per 100 gram atau sekitar Rp 117.000 per gram atau Rp 1,17 juta per kg.
Kekuatan produksi tersebut membuat Iran aktif di pasar ekspor pangan. Menurut FAO, Iran berada pada posisi kedua dunia dalam ekspor kismis dan terong. Negara ini juga menempati peringkat tiga eksportir semangka dan gooseberry secara global.
Beberapa komoditas hortikultura lain ikut memperkuat posisi Iran dalam peta pangan dunia.
Produksi sour cherry, almond, walnut, apel, aprikot, dan aubergine menempatkan negara ini dalam kelompok lima produsen terbesar dunia. Keragaman komoditas tersebut memperluas basis ekspor pertanian Iran.
Sektor tanaman pangan juga memiliki volume produksi besar. FAO mencatat produksi gandum Iran mencapai sekitar 15 juta ton pada 2020. Angka tersebut menempatkan Iran pada posisi ke-12 produsen gandum terbesar dunia. Untuk komoditas teh, Iran juga berada pada peringkat yang sama dengan produksi lebih dari 84 ribu ton.
Komoditas lain menambah skala produksi sektor pertanian negara tersebut. Iran menempati posisi ke-13 dalam produksi barley, peringkat ke-18 dalam produksi zaitun, serta peringkat ke-19 dalam produksi pir dan tomat secara global.
Kapasitas produksi tersebut ditopang kondisi geografis yang beragam. Iran memiliki wilayah dengan iklim berbeda yang mendukung produksi gandum, beras, buah, sayuran, hingga peternakan. Struktur pertanian ini menyediakan pasokan pangan domestik sekaligus menciptakan lapangan kerja di wilayah pedesaan.
Pemerintah Iran beberapa tahun terakhir mempercepat modernisasi sektor ini. Investasi diarahkan pada mesin pertanian, teknologi produksi, serta sistem pengelolaan air yang lebih efisien. Pengembangan irigasi, mekanisasi, dan pertanian presisi mendorong peningkatan produktivitas.
Langkah lain difokuskan pada pengelolaan lahan, pengembangan rumah kaca, serta perlindungan lingkungan dalam praktik budidaya. Kebijakan tersebut memperkuat daya saing sektor pertanian Iran sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap ekspor non-migas negara tersebut.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

9 hours ago
4
















































