Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
01 April 2026 17:20
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar energi global pernah menyaksikan momen yang nyaris tak masuk akal.
Pada 20 April 2020 atau sebulan setelah Covid-19 diumumkan sebagai pandemi global, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI), jatuh ke teritori negatif hingga sekitar -US$37 per barel. Namun hanya dalam beberapa tahun, harga justru berbalik arah-melonjak hingga mendekati bahkan menembus US$100 per barel di tengah konflik geopolitik terbaru.
Masalah muncul di sisi logistik, tangki penyimpanan penuh. Dalam kondisi ini, produsen justru harus merogoh kocek lebih dalam agar minyaknya diambil, karena biaya penyimpanan lebih mahal daripada nilai komoditas itu sendiri. Inilah yang membuat kontrak berjangka WTI untuk pengiriman Mei 2020 jatuh ke harga negatif.
Kejatuhan ini terjadi di tengah runtuhnya permintaan global akibat pandemi COVID-19. Aktivitas ekonomi berhenti, perjalanan dibatasi, konsumsi energi turun tajam dalam waktu singkat.
Harga Brent ikut tertekan hingga hanya US$9,12 per barel pada April 2020, jauh dari kisaran US$70 di awal tahun. Pada saat itu, pasar menghadapi kelebihan pasokan besar. Produksi tetap berjalan ketika konsumsi jatuh. Tangki penyimpanan penuh. Produsen tidak memiliki ruang untuk menampung minyak tambahan.
Mekanisme Kontrak Berjangka Mempercepat Tekanan
Kontrak yang mendekati jatuh tempo mengharuskan pemegangnya menerima pengiriman fisik. Dalam kondisi penyimpanan penuh, pelaku pasar melepas kontrak tersebut dengan harga berapa pun agar tidak menanggung beban logistik.
Volume kontrak Mei di tahun tersebut relatif kecil dibandingkan kontrak bulan berikutnya, sehingga tekanan jual menjadi lebih tajam. Harga bergerak ke wilayah negatif karena produsen memilih membayar pihak lain untuk mengambil minyak.
Faktor lain datang dari konflik produksi antara Arab Saudi dan Rusia pada Maret 2020. Kegagalan mencapai kesepakatan produksi memicu lonjakan suplai di tengah permintaan yang runtuh.
Situasi ini berlanjut hingga Organization of the Petroleum Exporting Countries dan mitranya menyepakati pemangkasan produksi sebesar 9,7 juta barel per hari mulai Mei 2020. Pemangkasan ini menjadi yang terbesar dalam sejarah, namun harga tetap tertekan sepanjang paruh pertama tahun tersebut.
Memasuki pertengahan 2020, pergerakan mulai berubah. Pelonggaran pembatasan aktivitas mendorong konsumsi. Brent naik ke rata-rata US$40 per barel pada Juni. Pada akhir tahun, harga WTI berada di sekitar US$48 per barel dan Brent di kisaran US$51 per barel. Melansir dari Matthew Johnston, optimisme terhadap distribusi vaksin ikut memperkuat pemulihan tersebut
2026 Kebalikannya Pasokan Tersendat, Harga Meledak
Enam tahun berselang, arah pasar berbalik. Melansir dari IEA per 12 Maret 2026, gangguan pasokan menjadi faktor utama. Konflik di Timur Tengah menghambat aliran minyak melalui Selat Hormuz yang sebelumnya menyalurkan sekitar 20 juta barel per hari. Arus minyak turun drastis, sementara kapasitas jalur alternatif terbatas. Negara-negara Teluk memangkas produksi lebih dari 10 juta barel per hari.
IEA mencatat pasokan global turun sekitar 8 juta barel per hari pada Maret 2026. Gangguan ini diikuti penutupan lebih dari 3 juta barel per hari kapasitas kilang di kawasan tersebut akibat serangan dan hambatan ekspor. Negara anggota IEA merespons dengan melepas 400 juta barel dari cadangan darurat untuk menjaga pasokan pasar.
Harga bergerak cepat mengikuti perubahan ini. Brent sempat mendekati US$120 per barel sebelum turun ke kisaran US$92, naik sekitar US$20 dalam satu bulan. Di sisi permintaan, gangguan penerbangan dan distribusi LPG menahan konsumsi sekitar 1 juta barel per hari dalam jangka pendek. Namun tekanan dari sisi suplai tetap dominan.
Tahun 2020 diisi kelebihan pasokan dengan permintaan yang jatuh tajam. Tahun 2026 diwarnai gangguan distribusi dan penurunan produksi. Pergerakan harga mengikuti arah tersebut tanpa jeda panjang.
Perubahan ekstrem ini menunjukan karakter minyak sebagai komoditas yang sensitif terhadap gangguan global. Ketika konsumsi berhenti, harga dapat jatuh hingga tidak memiliki nilai. Saat distribusi terganggu, harga bergerak naik dalam waktu singkat.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

2 hours ago
1
















































