Jika Batu Bara Dipangkas, Australia-Afrika Siap Gantikan Pasokan RI

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana pemerintah untuk memangkas produksi batu bara nasional pada tahun ini dinilai berisiko. Pasalnya, hal ini membuka peluang bagi negara pesaing untuk mengambil alih pangsa pasar Indonesia.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy menilai kenaikan harga batu bara saat ini seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi.

Menurutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan kembali kebijakan pembatasan produksi dan membuka peluang peningkatan di tengah kenaikan harga di pasar global. Terutama, guna memenuhi kebutuhan negara-negara di Asia Tenggara.

"Seperti Filipina, Vietnam dan Malaysia yang sudah mendapatkan kesulitan untuk memenuhi energi nasionalnya sehubungan dengan krisis minyak internasional dan mereka memerlukan tambahan pasokan batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi nasionalnya," kata Widhy kepada CNBC Indonesia, Rabu (25/3/2026).

Widhy mengakui Indonesia memiliki kapasitas produksi batu bara yang besar. Hal ini terlihat dari realisasi produksi nasional pada 2025 yang mencapai sekitar 790 juta ton.

Ia memandang, pembatasan produksi menjadi di kisaran 600 juta ton pada Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 justru berpotensi memberikan ruang bagi negara produsen lain untuk mengisi kekosongan pasar yang ditinggalkan Indonesia.

"Seperti Australia, Afrika Selatan, dan Kolombia untuk mengambil keuntungan dengan mengisi kekosongan yang ditinggalkan Indonesia, dan mendapatkan keuntungan yang optimal dari harga batu bara yang sedang tinggi di pasar global saat ini," ujarnya.

Kendati demikian, berdasarkan perkembangan terbaru, pemerintah kemungkinan akan membatalkan rencana pemangkasan produksi, dan bahkan akan menggenjot produksi batu bara pada 2026 ini.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, pemerintah tengah mengevaluasi kenaikan volume produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026. Langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat kabinet pada Kamis (19/3/2026) lalu.

Adapun, peningkatan produksi batu bara diharapkan dapat membantu menekan risiko lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) serta komoditas energi lainnya akibat gejolak geopolitik.

"Maka tadi Bapak Presiden juga meminta agar volume daripada produksi batu bara bisa ditingkatkan. Artinya akan ada perbaikan terkait dengan RKAB," kata Airlangga di Istana Negara.

Selain peningkatan produksi, pemerintah juga tengah mengkaji skema pajak ekspor batu bara sebagai salah satu upaya untuk mengoptimalkan penerimaan negara.

Dengan adanya potensi kenaikan harga komoditas, pemerintah berharap dapat memperoleh tambahan pendapatan dari windfall profit sektor batu bara.

"Harapannya pendapatan pemerintah juga naik dengan adanya windfall profit, itu juga akan ada pendapatan pemerintah yang ikut meningkat," ujarnya.

Perlu diketahui, berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (24/3/2026) berada di level US$ 139,75 per ton.

(wia)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |