Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Jepang berencana mencabut pembatasan operasional pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) untuk sementara waktu sebagai langkah darurat dalam mengatasi krisis energi yang dipicu oleh berkecamuknya perang di Timur Tengah. Langkah ini diambil guna memastikan stabilitas pasokan listrik domestik di tengah ketidakpastian jalur logistik energi global yang kian mencekam.
Pejabat Kementerian Industri Jepang Takahide Soeda mengonfirmasi pada Jumat (27/03/2026) bahwa laporan mengenai rencana penggunaan kembali energi fosil tersebut memang benar adanya. Soeda menegaskan bahwa proposal ini akan segera dipresentasikan di hadapan pertemuan panel ahli pada hari yang sama untuk mendapatkan persetujuan teknis.
"Fakta yang dilaporkan itu benar adanya dan rencana tersebut akan dipresentasikan pada rapat panel ahli hari ini," kata Soeda kepada AFP.
Sebelum kebijakan ini muncul, penyedia layanan listrik di Jepang diwajibkan untuk menjaga tingkat operasional pembangkit listrik bertenaga batu bara yang menghasilkan emisi karbon dioksida tinggi pada angka atau di bawah 50%. Aturan ketat tersebut awalnya diberlakukan untuk memenuhi komitmen iklim Jepang dalam mengurangi emisi gas rumah kaca secara bertahap.
Namun, Soeda menjelaskan bahwa pemerintah saat ini berniat untuk mengizinkan operasional penuh bagi pembangkit batu bara tua yang kurang efisien selama satu tahun penuh. Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku pada tahun fiskal baru yang akan dimulai pada bulan April mendatang sebagai respons cepat terhadap kelangkaan energi.
"Pemerintah bermaksud untuk mengizinkan operasional penuh pembangkit listrik tenaga batu bara tua yang kurang efisien selama satu tahun mulai tahun fiskal baru pada April," ujar Soeda.
Inisiatif ini mengikuti jejak banyak negara Asia lainnya yang mulai beralih kembali ke batu bara untuk menggerakkan ekonomi mereka sejak perang di Timur Tengah pecah akhir bulan lalu. Konflik tersebut telah memicu Iran untuk menutup sebagian Selat Hormuz yang merupakan rute perdagangan energi paling krusial di dunia bagi pasokan minyak dan gas global.
Korea Selatan juga dilaporkan berencana untuk mencabut batas kapasitas pembangkitan listrik tenaga batu bara sembari meningkatkan operasional pembangkit nuklir mereka. Selain itu, Filipina turut berniat menggenjot output PLTU batu bara mereka guna menjaga biaya listrik agar tetap rendah karena perang telah mengacaukan pengiriman gas internasional.
Jepang sendiri sangat bergantung pada pembangkit listrik termal untuk menghasilkan sekitar 70% dari kebutuhan listrik nasionalnya, di mana batu bara berperan sebagai bahan bakar utama. Meskipun Jepang sangat bergantung pada Timur Tengah untuk pasokan minyaknya, negara ini membeli hampir 80% impor batu baranya dari Australia dan Indonesia.
Pada Kamis, pemerintah menyatakan telah mulai melepaskan sebagian lagi cadangan minyak strategisnya karena menghadapi tantangan serius terhadap impor minyak. Hal ini menjadi krusial mengingat 90% pasokan minyak Jepang biasanya didatangkan langsung dari kawasan Timur Tengah yang kini sedang dilanda konflik bersenjata.
(luc/luc)
Addsource on Google

5 hours ago
1
















































