Kisah Utsman bin Affan Merobohkan Masjid Nabawi, Bangun Ulang Menjadi Megah

5 hours ago 4

loading...

Utsman bin Affan menambah perluasan Masjid Nabawi besar-besaran, namun tidak hanya menambah perluasannya seperti yang dilakukan oleh Umar, melainkan ia mengadakan pembaruan dalam bangunan itu sesuai dengan kecenderungan aspirasinya.. Foto ilustrasi/ist

Kisah sahabat nabi Utsman bin Affan merobohkan Masjid Nabawi menaik untuk diketahui. Mengapa dirobohkan dan apa yang dilakukan salah satu khalifah Khulafaur Rasyidin ini?

Masjid Nabawi adalah masjid pertama yang dibangun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Masjid di kota Madinah ini adalah pusat pemerintahan bagi Baginda Nabi SAw. Di tempat inilah, Rasulullah SAW duduk di situ dalam mengatur segala persoalan umum, begitu juga di masa Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab . Kalau diperlukan musyawarah dengan mayoritas kaum Muslimin, maka diserukan azan bahwa salat sudah siap.

Sesudah orang banyak berkumpul di Masjid, Nabi SAW mengajak mereka bermusyawarah. Musyawarah demikian itu juga yang kemudian dilakukan oleh kedua orang penggantinya. "Juga Utsman meneruskan cara ini," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987).

Akan tetapi, kata Haekal, Utsman belum puas dengan bangunan Masjid itu sebagai pusat pemerintahan, yang juga demikian pada masa Nabi dan kedua Khalifah itu. Malah ia berpendapat akan melengkapi Masjid itu dengan lambang kewibawaan, sehingga dipandang pantas sebagai tempat yang akan mengeluarkan segala ketentuan kepada para petinggi di daerah-daerah yang tinggal dalam gedung-gedung mewah di Damsyik (Damaskus), Fustat, Kufah dan Basrah.

Baca juga: Masjid Nabawi: Perpaduan Jejak Sejarah Rasulullah dan Kemegahan Arsitektur Islam

Masjid Nabawi pada mulanya dibangun sangat sederhana. Dinding dari bata jemur, langit-langit dari pelepah daun kurma dan tiang-tiangnya dari batang pohon kurma. Selama enam tahun keadaan Masjid berturut-turut tetap seperti itu. Tak ada yang diubah sementara Islam sudah berkembang dan kota Madinah sudah bertambah makmur dan Allah sudah melimpahkan rezeki kepada penduduknya.

Sesudah Muslimin membebaskan Khaibar dan kota Madinah khusus hanya untuk kaum Muslimin jumlah orang yang dibukakan hatinya oleh Allah kepada Islam sudah bertambah banyak. Maka mau tak mau bangunan Masjid itu harus diperluas. Nabi sudah menambah luas Masjid seratus meter persegi atau lebih, tanpa mengubah bangunannya yang dari bata jemur, pelepah daun kurma dan batang pohon kurma itu.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar tak ada perubahan kecuali ada dituturkan bahwa kedua dinding Masjid yang sudah rapuh dibangun kembali.

Selama masa Umar bin Khattab, karena jumlah Muslimin di Madinah terus bertambah dan Masjid harus diperluas lagi, maka Umar menambah luasnya, tetapi bangunan Masjid tidak mengalami perubahan. Ia membangun dindingnya seperti yang dibangun oleh Rasulullah dan dasarnya dari batu dengan bata jemur di bagian atasnya, tiang-tiangnya dibuat dari kayu dan langit-langitnya dari pelepah daun kurma.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |