Maskapai Asia Korban Perang AS-Israel Vs Iran, Harga Tiket Naik 70%

5 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Maskapai penerbangan di seluruh Asia kini mulai mengambil langkah drastis dengan menaikkan harga tiket pesawat dan menyusun rencana darurat, termasuk mengandangkan armada mereka. Langkah ini diambil seiring dengan eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengancam akan memicu guncangan harga minyak terburuk sejak tahun 1970-an.

Maskapai asal India dilaporkan telah menaikkan harga tiket untuk rute jarak jauh sebesar 15% dan tengah mempertimbangkan kenaikan lebih lanjut. Sementara itu, media pemerintah di Vietnam memperingatkan bahwa harga tiket pesawat dapat melonjak hingga 70% mengingat ketergantungan negara tersebut pada bahan bakar jet impor.

Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa maskapai di kawasan Asia tidak memiliki lindung nilai (hedging) yang kuat terhadap harga minyak dibandingkan pesaing mereka di Eropa atau Amerika Serikat. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap lonjakan mendadak harga bahan bakar jet, yang memicu maskapai berbiaya rendah di Asia Tenggara mulai mensimulasikan skenario penghentian operasional pesawat jika harga bahan bakar tidak lagi terjangkau.

Analis pasar minyak senior di Sparta Commodities, June Goh, mengungkapkan bahwa situasi saat ini telah memicu kepanikan di industri penerbangan. Menurutnya, maskapai yang tidak memiliki program lindung nilai yang kuat berada dalam posisi yang sangat berbahaya.

"Tombol panik telah ditekan di mana-mana. Maskapai di Asia yang memiliki program lindung nilai yang lemah sangat rentan dengan harga bahan bakar jet saat ini jika mereka menjual tiket pada harga sebelumnya yang lebih rendah dari posisi kita sekarang," ujar Goh dikutip The Straits Times, Selasa (10/3/2026).

Kekhawatiran juga datang dari potensi kebangkrutan maskapai berbiaya rendah yang memiliki margin keuntungan kecil jika kondisi ini bertahan lebih dari tiga bulan. Analis Deutsche Bank, Michael Linenberg, dalam catatannya menyebutkan bahwa maskapai di seluruh dunia bahkan bisa terpaksa mengandangkan ribuan pesawat akibat perang ini.

"Akibat perang tersebut, maskapai di seluruh dunia dapat dipaksa untuk mengandangkan ribuan pesawat, dengan maskapai terlemah akan menghentikan operasionalnya," tulisLinenberg.

Di sisi lain, Air New Zealand secara resmi telah menangguhkan panduan laba mereka pada 10 Maret karena fluktuasi harga bahan bakar jet yang sangat liar. Maskapai tersebut menyatakan bahwa asumsi yang mereka buat kurang dari dua minggu lalu sudah tidak lagi valid dalam situasi saat ini.

"Karena volatilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, asumsi harga bahan bakar jet yang mendasari panduan Air New Zealand tidak lagi tepat. Krisis ini diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap pendapatan semester kedua dan karenanya, maskapai telah menangguhkan panduan tahun fiskal 2026 hingga pasar bahan bakar dan kondisi operasi stabil," jelas pihak Air New Zealand dalam pernyataan resminya.

Tanda-tanda kesulitan di industri penerbangan ini menggarisbawahi dampak luas dari perang yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda setelah AS dan Israel menyerang Iran. Meskipun harga minyak sempat turun setelah Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal perang akan segera berakhir, ketidakpastian pasokan tetap menghantui industri kedirgantaraan global.

Namun, beberapa pemain industri masih mencoba bersikap optimis bahwa konflik ini tidak akan berlangsung dalam jangka waktu tahunan. Chief Executive Air Lease Corp, John Plueger, berpendapat bahwa gangguan ini kemungkinan besar hanya bersifat sementara.

"Pandangan pribadi saya adalah ini akan berumur lebih pendek. Poin utamanya di sini adalah dunia tidak berhenti. Ini mungkin hanya tertunda," kataPlueger.

Berbeda dengan maskapai Asia, maskapai Eropa seperti Lufthansa merasa lebih percaya diri karena memiliki perlindungan terhadap ayunan harga. CEO Deutsche Lufthansa, Carsten Spohr, menyatakan bahwa grup maskapai Jerman tersebut memiliki keunggulan kompetitif di tengah krisis ini.

"Lufthansa akan menikmati keuntungan relatif ketika para pesaing terpaksa menaikkan harga tiket karena perusahaan kami telah melakukan lindung nilai terhadap fluktuasi harga. Kami juga menambah kapasitas pada rute Asia dan Afrika, mengingat maskapai pesaing di Timur Tengah masih jauh dari operasional normal," ungkap Spohr.

Meski demikian, pasar saham maskapai Asia diperkirakan akan tetap volatil selama ketidakpastian ini berlanjut. Pada 9 Maret lalu, saham Asiana Airlines anjlok ke level terendah dalam 21 tahun, sementara indeks maskapai Asia Pasifik menyentuh titik terendah dalam lima tahun terakhir saat harga minyak mentah melambung di atas US$ 100 per barel.

(tps/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |