Menakutkan! Sekutu Amerika Mulai Jor-Joran Beli Senjata

2 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

12 May 2026 20:40

Jakarta, CNBC Indonesia - Negara-negara sekutu Amerika Serikat (AS) kini semakin serius memperkuat militernya. Anggaran pertahanan mereka naik tajam, terutama di Eropa dan kawasan Indo-Pasifik. 

Mengutip The Economist, perbandingan tahunan anggaran militer global menunjukkan adanya pergeseran terbesar dalam belanja pertahanan negara-negara sekutu AS sejak 2001.

Perubahan ini terjadi setelah Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte pada tahun lalu sempat menjanjikan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa anggaran pertahanan Eropa akan naik secara besar-besaran.

Kini, janji tersebut mulai terlihat. Negara-negara sekutu AS mulai meningkatkan belanja militernya, baik untuk meredakan tekanan dari Trump maupun untuk bersiap menghadapi kemungkinan berkurangnya perlindungan keamanan dari Amerika.

The EconomistFoto: The Economist

Dalam pemeringkatan tersebut, The Economist menggunakan estimasi dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).

Anggaran militer dibandingkan melalui tiga ukuran, yakni nilai dalam dolar AS, porsi terhadap produk domestik bruto (PDB), serta berdasarkan military purchasing-power parity (PPP).

PPP digunakan untuk menyesuaikan perbedaan upah dan harga lokal di tiap negara. Dengan ukuran ini, anggaran pertahanan suatu negara bisa dibandingkan secara lebih sepadan dengan anggaran AS.

Namun, biaya peralatan militer tidak ikut disesuaikan. Alasannya, sebagian besar perangkat keras pertahanan merupakan barang impor dan kualitasnya sulit dibandingkan secara langsung.

Belanja Militer Dunia Tembus US$2,9 Triliun

Secara global, belanja militer dunia mencapai US$2,9 triliun pada 2025 atau setara Rp50.779 triliun (asumsi kurs Rp17.510/US$1). Angka ini naik 2,9% dibandingkan 2024 setelah memperhitungkan inflasi.

Kenaikan tersebut juga menjadi peningkatan tahunan ke-11 secara beruntun. Artinya, dunia terus memperbesar belanja pertahanan selama lebih dari satu dekade terakhir.

Eropa menjadi salah satu pendorong utama kenaikan belanja militer global. Negara-negara Eropa, di luar Rusia dan Ukraina, menyumbang hampir separuh dari total kenaikan tersebut.

Belanja pertahanan di kawasan itu melonjak 14,1% menjadi US$864 miliar.

Belanja Pertahanan PPPFoto: The Economist - Belanja Pertahanan PPP

Sebaliknya, AS justru bergerak ke arah berbeda. Anggaran pertahanan AS turun 7,5% menjadi US$954 miliar pada 2025. Level tersebut kira-kira kembali ke posisi anggaran pertahanan AS pada 2021.

Sebagian perubahan ini memang terkait dengan dukungan terhadap Ukraina. AS tidak menyetujui tambahan anggaran baru untuk Ukraina pada 2025, sementara negara-negara Eropa justru memperbesar dukungan mereka.

Namun, peningkatan belanja pertahanan Eropa tidak hanya berkaitan dengan perang Ukraina.

Jika Rusia, Ukraina, dan bantuan militer terkait perang dikeluarkan dari perhitungan, belanja pertahanan Eropa tetap naik 13,4%.

Ini menunjukkan bahwa negara-negara Eropa tidak hanya merespons perang, tetapi juga mulai membangun ulang kemampuan militernya sendiri dalam jangka panjang.

Negara sekutu AS lainnya juga mulai memperkuat anggaran militernya. Jepang, misalnya, menaikkan anggaran pertahanannya sebesar 9,7% pada 2025 menjadi US$62 miliar.

Belanja pertahanan Jepang kini setara 1,4% terhadap PDB. Ini menjadi porsi tertinggi sejak 1958.

Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa negara-negara sekutu AS di kawasan Indo-Pasifik juga semakin serius memperkuat kemampuan pertahanan mereka, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan.

Belanja Sekutu AS Kini Salip Amerika

Kenaikan belanja tersebut membuat negara-negara sekutu AS, jika disesuaikan dengan daya belanja militer, kini membelanjakan anggaran pertahanan lebih besar dari AS untuk pertama kalinya sejak 2001.

Negara-negara NATO ditambah sekutu perjanjian AS di Indo-Pasifik, yakni Australia, Jepang, Korea Selatan, Thailand, dan Filipina, membelanjakan dana setara 111% dari anggaran pertahanan AS pada 2025.

Sementara itu, sekutu NATO di Eropa dan Kanada saja membelanjakan dana setara 81% dari anggaran AS.

The EconomistFoto: The Economist

Dengan kata lain, jika dihitung berdasarkan daya beli militer, sekutu-sekutu AS kini sudah menjadi kekuatan belanja pertahanan yang sangat besar.

AS Tetap Nomor Satu, China Kedua

Meski demikian, AS tetap menjadi negara dengan belanja militer terbesar di dunia jika dilihat dari nilai dolar dan PPP militer.

China berada di posisi kedua. SIPRI memperkirakan anggaran militer China naik 7,4% pada 2025 menjadi US$336 miliar.

Jika disesuaikan dengan PPP militer, anggaran China setara US$599 miliar atau 12,7% dari total belanja militer global.

Sebagai perbandingan, porsi AS mencapai 20,2% dari total global.

Sementara itu, Ukraina masih menjadi negara dengan belanja pertahanan terbesar jika dilihat dari porsi terhadap PDB. Negara itu mengalokasikan 40% output ekonominya untuk pertahanan, jauh di atas Rusia yang sebesar 7,5%.

Belanja Naik, Tapi Belum Mandiri dari AS

Ke depan, AS masih berpeluang memperlebar kembali keunggulannya dalam nilai dolar. Trump ingin membawa belanja pertahanan AS mendekati 5% terhadap PDB.

Di sisi lain, meski anggaran pertahanan negara-negara NATO meningkat pada tahun ini, sebagian besar anggotanya masih baru berada di sekitar 2% terhadap PDB.

Laporan Kiel Institute sebuah lembaga riset, menilai operasi tempur besar di Eropa masih sulit dibayangkan tanpa persetujuan, perangkat lunak, dan senjata dari AS.

Artinya, belanja pertahanan sekutu AS memang naik cepat. Namun, kenaikan itu belum cukup untuk membuat mereka benar-benar mandiri dari Amerika.

Dengan kata lain, sekutu-sekutu AS kini semakin banyak mengeluarkan uang untuk pertahanan. Tetapi dalam praktiknya, payung militer Amerika masih tetap sulit digantikan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |