Jakarta, CNBC Indonesia - Perencanaan tata ruang nasional dinilai tidak akan pernah akurat tanpa fondasi data yang presisi dari tingkat paling bawah. Kepala BRIN Arif Satria mengungkapkan bahwa tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan pada kurangnya teknologi, melainkan kualitas data dasar yang masih lemah.
Dalam sejumlah survei yang pernah dilakukan BRIN, ditemukan perbedaan signifikan antara laporan administratif desa dan kondisi riil di lapangan. Selisih tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kesalahan kebijakan dalam jangka panjang.
"Pengalaman kami lima tahun lalu ketika melakukan survei di ratusan desa, deviasi data itu bisa mencapai 47%. Kesalahannya sangat besar," ungkap Arif.
"Ini di satu desa, Laporannya berapa? 20 hektare. Ketika kami hadir melakukan pendataan secara presisi dengan menggunakan drone dan sebagainya, ternyata hanya 10 hektare," lanjutnya.
Fenomena ini bukan kasus tunggal, melainkan gambaran persoalan data desa secara nasional. Untuk menjawab persoalan tersebut, BRIN mendorong pemanfaatan teknologi satelit dan kecerdasan buatan. Teknologi ini memungkinkan interpretasi citra dilakukan secara otomatis tanpa harus selalu menunggu analisis manual para ahli.
"Sekarang satelit bukan hanya memotret gambar, tapi sudah bisa menarasikan isi gambar dengan AI. Jadi tidak perlu lagi selalu ada expert untuk menafsirkan," jelasnya.
Pantura Butuh Giant Sea Wall-Tanggul
Selain penguatan AI, BRIN juga tengah membahas pengadaan konstelasi satelit baru bersama sejumlah kementerian. Tujuannya memperluas jangkauan pemantauan wilayah sekaligus meningkatkan akurasi data spasial nasional.
Isu data dan teknologi ini kemudian beririsan dengan persoalan perubahan iklim yang mulai dirasakan nyata di wilayah Pantai Utara Jawa. Arif menyinggung pengalaman pemodelan kenaikan muka air laut di Pekalongan yang terjadi lebih cepat dari perkiraan awal.
Menurutnya, perencanaan berbasis data dan teknologi menjadi satu-satunya cara untuk menghindari kesalahan prediksi yang berdampak besar terhadap masyarakat pesisir.
"Dulu kami memodelkan rob baru akan sampai tengah kota pada 2030, ternyata 2020 sudah terjadi. Karena itu teknologi seperti giant sea wall dan tanggul menjadi sangat penting untuk menyelamatkan Pantura," sebut Arif.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

10 hours ago
6















































