Jakarta, CNBC Indonesia - Sedikitnya 42 orang tewas dalam bentrokan berdarah antarkelompok etnis yang terjadi di wilayah timur negara Chad. Otoritas setempat mengonfirmasi bahwa kekerasan mematikan ini pecah di sub-prefektur Guereda, Provinsi Wadi Fira, pada hari Senin (27/04/2026).
Insiden tragis tersebut bermula dari sebuah perselisihan warga yang dipicu oleh perebutan akses terhadap sumber air atau sumur. Sengketa yang awalnya bersifat lokal tersebut dengan cepat meluas hingga melibatkan massa dari kelompok etnis yang berbeda di wilayah itu.
Menanggapi situasi yang semakin genting, pemerintah pusat segera mengambil langkah tegas dengan menerjunkan tim gabungan ke lokasi konflik. Sejumlah menteri senior bersama kepala staf militer telah mendarat di lokasi kejadian untuk memimpin proses rekonsiliasi dan pengamanan.
"Situasi saat ini sudah berada di bawah kendali dan tetap stabil," ujar Wakil Perdana Menteri urusan Administrasi Wilayah dan Desentralisasi, Limane Mahamat, dalam pernyataannya melalui siaran pers resmi pemerintah.
Kawasan timur Chad memang telah lama menjadi titik panas perselisihan antara kelompok petani menetap dengan para penggembala Arab nomaden. Persaingan memperebutkan lahan pertanian dan area penggembalaan menjadi akar permasalahan yang sulit dipadamkan selama bertahun-tahun.
Kondisi keamanan di wilayah perbatasan ini juga semakin rawan akibat dampak dari perang saudara di negara tetangga, Sudan. Gelombang pengungsi yang terus masuk ke Chad menambah tekanan besar pada sumber daya alam yang sudah sangat terbatas.
Berdasarkan catatan dari LSM International Crisis Group, konflik lahan di Chad tercatat telah menelan lebih dari 1.000 korban jiwa dalam periode tiga tahun terakhir. Ribuan orang lainnya dilaporkan luka-luka akibat kekerasan serupa yang terus berulang tanpa solusi permanen.
(tps/luc)
Addsource on Google

2 hours ago
3
















































