Jakarta, CNBC Indonesia - Pertempuran senjata antarkelompok geng di wilayah pinggiran ibu kota Haiti Port-Au-Prince telah menyebabkan sedikitnya 78 orang tewas sejak Sabtu, (09/05/2026), berdasarkan data yang dirilis Kantor PBB di Haiti (BINUH). Ini terjadi saat negara tersebut masih terus bergolak dengan kelompok kriminal bersenjata.
Kondisi mengerikan ini disampaikan secara resmi oleh otoritas PBB terkait eskalasi kekerasan yang terjadi di komune Cite Soleil dan Croix-des-Bouquets. Dari jumlah itu, 10 orang merupakan warga sipil.
"Bentrokan bersenjata antara beberapa geng di komune Cite Soleil dan Croix-des-Bouquets telah menyebabkan sedikitnya 78 orang tewas dan 66 luka-luka sejak 9 Mei," kata BINUH mengutip laporan dari AFP.
Haiti yang merupakan negara termiskin di wilayah Karibia memang tengah dilanda kekerasan geng yang sistematis. Situasi di negara tersebut dilaporkan terus memburuk secara signifikan selama dua tahun terakhir.
Gelombang kekerasan sejak akhir pekan itu telah memaksa sekitar 5.300 orang untuk mengungsi. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebutkan bahwa masih banyak keluarga yang terperangkap di zona konflik.
Lumpuhnya layanan kesehatan menjadi dampak nyata dari perang ini, di mana sebuah rumah sakit dan fasilitas Doctors Without Borders (MSF) terpaksa berhenti beroperasi. Sebelum mengevakuasi seluruh staf, pihak medis melaporkan situasi yang sangat kritis di lapangan.
"Doctors Without Borders melaporkan bahwa 40 korban luka tembak dirawat di rumah sakit dalam waktu kurang dari 12 jam," tulis laporan tersebut.
Data dari BINUH menunjukkan bahwa wilayah Cite Soleil dan Croix-des-Bouquets memang menjadi titik panas konflik dalam beberapa bulan terakhir. Antara 5 Maret hingga 11 Mei, jumlah total korban jiwa di dua wilayah itu sudah mencapai angka yang sangat mengkhawatirkan.
"BINUH mengatakan pada hari Kamis bahwa antara 5 Maret dan 11 Mei setidaknya 305 orang tewas dan 277 terluka di Cite Soleil dan Croix-des-Bouquets," lanjut pernyataan tersebut.
Dari ratusan korban jiwa tersebut, mayoritas merupakan anggota geng yang bertikai, namun warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak tetap menjadi pihak yang paling terdampak.
Untuk menangani krisis ini, sebuah pasukan anti-geng multinasional baru mulai dikerahkan guna membantu polisi setempat yang kekurangan sumber daya. Hingga saat ini, kontingen pertama yang terdiri dari 400 tentara asal Chad sudah tiba di Port-au-Prince. Kepemimpinan pasukan internasional ini pun mulai diperkuat dengan kehadiran perwira tinggi militer dari Mongolia.
(tps/tps)
Addsource on Google

3 hours ago
3

















































