Jakarta, CNBC Indonesia - Selama ini, keamanan Presiden Amerika Serikat (AS) selalu dijaga sangat ketat karena menyangkut stabilitas politik dan persepsi publik.
Namun, sejarah membuktikan, sistem sekuat apapun tetap bisa jebol. Salah satu tragedi terbesar terjadi pada Presiden ke-16 AS, Abraham Lincoln, yang meninggal setelah ditembak tepat hari ini 161 tahun lalu.
Cerita bermula pada sehari sebelumnya, yakni 14 April 1865. Mengutip The Guardian, hari itu, Lincoln menghadiri pertunjukan drama bersama istrinya, Mary Todd Lincoln, di Ford's Theatre, Washington, D.C. Ribuan penonton memadati gedung teater, sementara Lincoln duduk di balkon khusus presiden yang terpisah dari kursi penonton biasa.
Di tengah pertunjukan, seorang pria diam-diam masuk ke balkon tersebut. Tanpa banyak gerak, pria itu mendekati Lincoln dari belakang, lalu mengeluarkan pistol dan menembakkannya ke arah kepala sang presiden.
Awalnya, hampir tak ada penonton yang menyadari insiden tersebut. Suara letusan pistol bercampur dengan riuh antusiasme pertunjukan, sehingga banyak orang mengira itu bagian dari drama. Kepanikan baru pecah ketika Mary Todd Lincoln berteriak histeris melihat suaminya roboh bersimbah darah.
Saat penonton mulai sadar telah terjadi penembakan, pelaku sudah lebih dulu melarikan diri. Dia melompat dari balkon teater, lalu kabur dengan menunggang kuda.
Lincoln segera dibawa ke rumah terdekat untuk mendapatkan pertolongan dari para ahli bedah. Namun, segala upaya penyelamatan gagal. Pada pagi 15 April 1865, tepat hari ini 161 tahun lalu, nyawa orang nomor satu di AS itu tak tertolong.
Sorotan kemudian tertuju pada sosok pelaku. Mengutip Smithsonian Institute, pemerintah AS mengerahkan ribuan tentara untuk memburunya. Bahkan mengadakan sayembara sebesar US$50 ribu bagi siapa pun yang berhasil membantu penangkapan.
Dua minggu kemudian, pelaku akhirnya ditemukan. Dia tertangkap saat bersembunyi di sebuah lumbung di Virginia dan tewas ditembak tentara setelah menolak menyerah dalam pelarian.
Belakangan terungkap, pelaku adalah aktor terkenal bernama John Wilkes Booth. Pria berusia 26 tahun ini merupakan simpatisan garis keras Konfederasi atau kubu Selatan, yang sangat membenci Lincoln dan pemerintahan Utara. Saat itu, AS masih terbelah antara Kubu Utara dan Kubu Selatan.
Ratusan tahun kemudian diketahui motifnya adalah dendam politik. Hal ini diungkap setelah ditemukan surat yang ditulis langsung oleh Booth. Dalam laporan New York Times, Booth marah setelah kubu Lincoln memenangkan Perang Saudara AS pada 9 April 1865, hanya beberapa hari sebelum penembakan. Kekalahan Selatan membuat Booth memilih jalan ekstrem, yakni membunuh presiden sebagai aksi balas dendam.
Bahkan, rencana Booth sebenarnya lebih besar. Dia tak hanya menargetkan Lincoln, tetapi juga Wakil Presiden Andrew Johnson dan Menteri Luar Negeri William Seward. Namun, hanya serangan terhadap Lincoln yang berujung fatal.
Setelah kematian Lincoln tampuk kepemimpinan berganti kepada Andrew Johnson. Setelahnya pengamanan presiden semakin diperketat, meskipun sejarah juga mencatat beberapa dekade kemudian pembunuhan Presiden AS terus berulang.
(mfa)

5 hours ago
5
















































