Ramai-Ramai Maskapai Asia Ketar-ketir Harga BBM Naik

6 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Maskapai penerbangan di Asia kompak mengambil langkah darurat seiring lonjakan tajam harga bahan bakar jet akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan biaya energi ini memaksa pelaku industri menekan pengeluaran hingga menaikkan tarif tiket demi menjaga keberlangsungan bisnis.

Harga minyak mentah tercatat melonjak lebih dari 50% sejak konflik pecah pada 28 Februari, sementara harga bahan bakar jet global bahkan naik lebih dari dua kali lipat. Lonjakan ini menjadi pukulan telak bagi industri penerbangan yang sangat bergantung pada stabilitas harga energi.

Berikut situasi beberapa maskapai di dunia, seperti dikutip BBC International, Kamis (2/4/2026).

Korea Selatan (Korsel)

Tekanan kenaikan harga energi langsung terasa di Korea Selatan (Korsel) yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah. Dalam beberapa hari terakhir, maskapai besar seperti Korean Air, Asiana Airlines, dan Busan Air kompak menerapkan kebijakan manajemen darurat.

Langkah yang diambil umumnya berfokus pada efisiensi internal, mulai dari menahan ekspansi, menunda investasi, hingga mengoptimalkan operasional penerbangan. Tidak menutup kemungkinan, maskapai juga akan mengurangi frekuensi penerbangan untuk menekan beban biaya.

Seorang juru bicara Korean Air menyatakan pihaknya kini masuk ke mode manajemen darurat. "Kami akan menerapkan langkah-langkah pengurangan biaya internal untuk memastikan stabilitas perusahaan di tengah kenaikan harga bahan bakar dan ketidakpastian ekonomi global," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Korean Air Woo Ki-hong dalam memo internal kepada karyawan menegaskan perusahaan tengah bersiap menghadapi "lonjakan pengeluaran bahan bakar". Ia menyebut langkah efisiensi ini bukan sekadar respons jangka pendek, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat fondasi bisnis dalam jangka panjang.

China & Hong Kong

Sebagai importir minyak terbesar dunia, China tak luput dari dampak lonjakan harga energi global. Maskapai China Eastern Airlines memperingatkan bahwa konflik geopolitik akan memberi tekanan signifikan terhadap kinerja industri penerbangan tahun ini.

Sejumlah maskapai di China telah menaikkan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) sejak konflik memanas. Di sisi lain, pemerintah dilaporkan menahan ekspor bahan bakar untuk menjaga stabilitas harga domestik, yang berpotensi memperketat pasokan.

Di Hong Kong, Cathay Pacific juga mengambil langkah serupa dengan memasukkan biaya tambahan bahan bakar ke seluruh penerbangan. Dampaknya, harga tiket melonjak dan berisiko menekan permintaan, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Jepang

Berbeda dengan negara lain, dampak langsung di Jepang masih relatif terbatas. All Nippon Airways (ANA) menyatakan belum menaikkan biaya tambahan bahan bakar untuk tiket periode April hingga Mei karena harga telah dikunci sebelumnya.

"Dampak langsung saat ini masih terbatas," kata juru bicara ANA, menambahkan bahwa strategi lindung nilai (hedging) membantu meredam gejolak harga energi.

Sementara itu, Japan Airlines belum mengambil langkah spesifik terkait kenaikan biaya bahan bakar. Namun, maskapai mengakui adanya kenaikan harga pada rute tertentu, khususnya penerbangan Jepang-Eropa, akibat lonjakan permintaan setelah penutupan rute Timur Tengah.

India

Industri penerbangan India menghadapi tekanan berlapis. Selain kenaikan harga bahan bakar, maskapai juga terdampak pembatalan penerbangan ke Timur Tengah, salah satu pasar internasional terbesar mereka.

Otoritas penerbangan India memperkirakan maskapai akan memangkas kapasitas penerbangan domestik hingga 10% dalam periode Maret hingga Oktober. Langkah ini diambil untuk menyesuaikan biaya operasional yang melonjak.

Di sisi lain, pemerintah telah mencabut batas atas harga tiket sejak 23 Maret. Kebijakan ini memberi fleksibilitas bagi maskapai untuk menaikkan tarif guna menutup lonjakan biaya bahan bakar yang terus meningkat.

Filipina-Vietnam-Singapura


Dampak krisis energi juga terasa kuat di Asia Tenggara. Filipina menjadi negara pertama yang menetapkan status darurat energi nasional sebagai respons terhadap lonjakan harga bahan bakar.

Presiden Ferdinand Marcos memperingatkan bahwa penghentian operasional penerbangan akibat kekurangan bahan bakar menjadi "kemungkinan nyata", setelah sejumlah maskapai kesulitan mengisi bahan bakar di luar negeri.

Vietnam juga menghadapi ancaman serupa. Negara yang mengimpor hampir 90% kebutuhan minyaknya ini berpotensi mengalami kekurangan bahan bakar jet dalam waktu dekat. Vietnam Airlines bahkan telah menangguhkan beberapa penerbangan domestik sebagai langkah antisipasi.

Sementara itu Singapore Airlines dan anak usahanya Scoot menyesuaikan strategi dengan menaikkan tarif tiket. Biaya bahan bakar kini menyumbang sekitar 30% dari total pengeluaran, menjadikannya komponen terbesar dalam struktur biaya maskapai.

Meski demikian, maskapai mengakui kenaikan tarif hanya mampu menutup sebagian dari lonjakan biaya. Artinya, tekanan terhadap margin keuntungan tetap tinggi.

Otoritas penerbangan Singapura bahkan memutuskan menunda penerapan pungutan bahan bakar ramah lingkungan yang sedianya berlaku April 2026. Kebijakan ini diambil untuk mengurangi beban tambahan di tengah krisis energi global.

(sef/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |