Amalia Zahira, CNBC Indonesia
28 March 2026 11:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa tambang global Rio Tinto resmi menutup tambang berlian terakhirnya, Diavik Diamond Mine di Kanada. Bisnis berlian yang telah dijalankan selama lebih dari setengah abad ini harus berakhir pada 2026.
Penutupan ini bukan hanya karena faktor siklus alami tambang yang telah mencapai akhir umur produksi, tetapi juga tekanan industri yang semakin berat, mulai dari kelebihan pasokan hingga meningkatnya popularitas berlian sintetis (lab-grown).
Meskipun produksi berlian telah menurun dan operasi berakhir pada tahun ini tetapi kegiatan penutupan tambang dijadwalkan akan terus berlangsung hingga akan ditutup sepenuhnya pada 2029.
Sebelum menutup tambang Diavidk, Rio Tinto sudah terlebih dahulu menutup tambang Kimberley di Australia.
Tambang Raksasa yang Capai Puncak Produksi
Berlokasi di wilayah terpencil Northwest Territories, sekitar 200 km dari Lingkar Arktik, tambang Diavik dikenal sebagai salah satu proyek pertambangan paling kompleks di dunia karena berada di bawah danau beku.
Selama beroperasi sejak 2003, Diavik mencatat produksi besar dan menghasilkan sejumlah berlian spektakuler, termasuk berlian kuning langka yang jumlahnya sangat terbatas.
Foto: Tambang Berlian Diavik, yang dikenal dengan berlian putih berkualitas tinggi dan sejumlah kecil berlian kuning langka. (Dok. Rio Tonto)
Tambang Berlian Diavik, yang dikenal dengan berlian putih berkualitas tinggi dan sejumlah kecil berlian kuning langka. (Dok. Rio Tonto)
Tambang ini juga dikenal karena kecanggihan teknologinya dalam menahan air danau untuk memungkinkan eksplorasi di bawah permukaan.
Praktik pertambangannya juga diklaim etis serta ramah lingkungan. Rio Tinto melalui Diavik turut menggandeng masyarakat adat, pemerintah setempat, hingga berbagai bisnis lokal sebagai partner bisnis yang kuat.
Oversupply dan Serbuan Berlian Sintetis
Meski memiliki rekam jejak kuat, bisnis berlian Rio Tinto dalam beberapa tahun terakhir mengalami tekanan berat. Pasar global menghadapi kelebihan pasokan, sementara berlian sintetis semakin diminati karena harga lebih murah dan dipandang lebih ramah lingkungan.
Hal ini berdampak langsung pada kinerja keuangan perusahaan, bahkan mencatat kerugian pada unit berlian hingga US$79 juta pada 2025. Selain Rio Tinto, produsen berlian terbesar di dunia, De Beers, turut kesulitan menjual berliannya.
Situasi ini menunjukkan bahwa industri berlian alami berada dalam masalah struktural, bukan sekadar siklus biasa.
Persoalan serupa sebenarnya juga sudah dialami De Beers yang bsnisnya merosot karena berlian imitasi.
Berlian Lab: Lebih Murah, Cepat, dan Ramah Lingkungan
Melemahnya industri berlian alami turut didukung oleh menjamurnya berlian buatan laboratorium (lab-grown diamond) sebagai pesaing utama. Berlian sintetis ini tetap memenuhi fungsi estetikanya bahkan lebih efisien dan ramah lingkungan.
Berbeda dengan berlian alami yang terbentuk selama miliaran tahun di dalam perut bumi, berlian lab dapat diproduksi hanya dalam hitungan minggu hingga bulan menggunakan teknologi seperti High Pressure High Temperature (HPHT) dan Chemical Vapor Deposition (CVD).
Meski dibuat di laboratorium, berlian ini tetap memiliki sifat kimia, fisik, dan optik yang identik dengan berlian alami. Tingkat kekerasan serta kilaunya juga serupa dengan berlian alami.
Keunggulan utama berlian lab terletak pada aspek biaya dan lingkungan. Tanpa proses pertambangan, produksinya cenderung memiliki jejak karbon lebih rendah dan tidak merusak ekosistem, menjadikannya pilihan yang lebih menarik bagi konsumen modern.
Selain itu, harga yang lebih terjangkau memungkinkan pembeli mendapatkan ukuran atau kualitas yang lebih tinggi dengan anggaran yang sama. Secara global, produksi berlian lab kini didominasi oleh China yang menguasai 56% pangsa pasar, diikuti India dan Amerika Serikat.
Fenomena ini menandakan pergeseran besar dalam industri berlian, dari eksploitasi tambang konvensional menuju manufaktur berbasis teknologi. Ke depan, dinamika ini berpotensi mengubah struktur pasar global, di mana efisiensi, keberlanjutan, dan inovasi menjadi faktor utama penentu daya saing.
Dari Sarang Semut ke Pasar Global: Kisah Legendaris Berlian Argyle Rio Tinto
Berlian ada sebelum kehidupan manusia di bumi, bahkan sebelum dinosaurus. Sebagian besar berlian terbentuk di kedalaman mantel Bumi antara 1-3 miliar tahun yang lalu. Batu berharga ini mencapai permukaan melalui serangkaian letusan vulkanik yang terjadi 300-400 juta tahun yang lalu.
Pada 1979, Rio Tinto menemukan ladang berlian Kimberley di Australia Barat, ketika dua geologinya, Frank Hughes dan Warren Atkinson, secara kebetulan melihat sebuah berlian kecil yang tertanam di sarang semut.
Ya, semut. Partikel berlian itu dibawa ke permukaan oleh serangga kecil yang tak sengaja menyingkap salah satu deposit berlian terkaya yang pernah ada.
Setelah 10 tahun menelusuri sungai dan anak sungai, mengikuti petunjuk di outback Australia yang luas dan terpencil, Hughes dan Atkinson akhirnya berdiri di atas cerobong yang kelak menjadi Tambang Berlian Argyle.
Foto: Tambang Berlian Diavik, yang dikenal dengan berlian putih berkualitas tinggi dan sejumlah kecil berlian kuning langka. (Dok. Rio Tonto)
Tambang Berlian Diavik, yang dikenal dengan berlian putih berkualitas tinggi dan sejumlah kecil berlian kuning langka. (Dok. Rio Tonto)
Penemuan itu kemudian menjadi cikal bakal Tambang Berlian Argyle, salah satu deposit berlian paling kaya di dunia. Tambang ini mulai beroperasi pada 1983 dan menghasilkan berlian kecil berwarna, termasuk merah muda langka.
Pada November 2020, kegiatan penambangan di Argyle dihentikan setelah 37 tahun operasi dan menghasilkan lebih dari 865 juta karat berlian kasar, termasuk sebagian kecil berlian merah muda yang sangat langka.
Tambang Argyle lebih dikenal dengan berlian kecil berwarna, umumnya untuk pasar perhiasan mode yang terjangkau, serta volume sangat kecil berlian merah muda, yang menjadi incaran kolektor kelas atas, desainer, dan konnoisseur berlian di seluruh dunia.
Rio Tinto juga memiliki tambang Diavik yang terkenal dengan berlian putih berkualitas tinggi dan jumlah kecil berlian kuning langka, telah mencapai tonggak penting dengan memproduksi 150 juta karat berlian kasar sejak operasi dimulai pada 2003.
(mae/mae)
Addsource on Google

5 hours ago
2
















































