Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (27/3/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,09% ke level Rp16.910/US$. Pergerakan ini berbalik dari perdagangan sebelumnya, Kamis (26/3/2026), saat rupiah ditutup menguat tipis 0,06% di posisi Rp16.895/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau bergerak stabil di level 99,902. Posisi ini tercapai setelah pada perdagangan sebelumnya DXY ditutup menguat 0,30%, sekaligus mencatat kenaikan dalam tiga hari perdagangan beruntun.
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, terutama dari eksternal.
Dari pasar global, dolar AS kembali menguat setelah harapan meredanya konflik di Timur Tengah memudar. Pelaku pasar melihat peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran masih cukup kecil, sehingga kekhawatiran terhadap perang yang lebih panjang kembali meningkat. Kondisi ini ikut mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.
Seorang pejabat Iran menyebut proposal dari AS belum memenuhi syarat minimum untuk mencapai kesepakatan. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga mengaku belum yakin ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Situasi ini membuat pasar semakin khawatir konflik akan terus berlanjut.
Kekhawatiran tersebut makin besar karena Selat Hormuz masih berisiko terganggu. Jika jalur ini tetap terhambat, pasokan energi global bisa semakin tertekan dan memicu lonjakan harga minyak. Risiko itu pada akhirnya membuat investor mulai mengantisipasi dampak ekonomi yang lebih berat, termasuk tekanan inflasi global.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menanti rilis perkembangan uang beredar yang dijadwalkan diumumkan Bank Indonesia pada hari ini, Jumat (27/3/2026). Data ini penting untuk melihat kondisi likuiditas di perekonomian, terutama setelah pada periode sebelumnya pertumbuhan uang beredar masih cukup tinggi.
Pada rilis terakhir, Bank Indonesia melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Januari 2026 tumbuh 10,0% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang tumbuh 9,6%.
Nilai M2 pada Januari 2026 tercatat mencapai Rp10.117,8 triliun, dengan pertumbuhan ditopang oleh uang beredar sempit (M1) yang naik 14,9% dan uang kuasi yang tumbuh 5,4%.
(evw/evw)
Addsource on Google

11 hours ago
6
















































