Semua Minggir, Kapal Minyak Negara Ini Lolos Lewat Selat Hormuz

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Republik Islam Iran dilaporkan tetap nekat mengirimkan minyak mentah dalam jumlah besar ke China melalui Selat Hormuz. Langkah berisiko tinggi ini tetap dilakukan di tengah berkecamuknya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran yang telah melumpuhkan pasokan energi di jalur peluncuran global tersebut.

Berdasarkan data dari TankerTrackers, Iran tercatat telah mengirimkan sedikitnya 11,7 juta barel minyak mentah melalui Selat Hormuz sejak perang pecah pada 28 Februari 2024. Seluruh muatan emas hitam tersebut diketahui memiliki satu tujuan utama, yakni China.

Co-founder TankerTrackers, Samir Madani, mengungkapkan bahwa pihaknya terus memantau pergerakan kapal menggunakan citra satelit. Teknologi ini memungkinkan deteksi terhadap kapal-kapal yang mencoba "menghilang" dengan mematikan sistem pelacakan mereka setelah adanya ancaman dari Teheran.

"Banyak kapal telah 'menjadi gelap' setelah Teheran mengancam akan menyerang kapal mana pun yang mencoba melewati jalur air tersebut," ujar Madani kepada CNBC International, Rabu (11/3/2026).

Senada dengan temuan tersebut, penyedia data intelijen pelayaran Kpler memperkirakan sekitar 12 juta barel minyak mentah telah melewati selat itu sejak perang dimulai. Meskipun identifikasi tujuan akhir semakin sulit, China tetap menjadi tersangka utama penerima pasokan tersebut.

"Mengingat China telah menjadi pembeli utama minyak mentah Iran dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar dari barel-barel ini pada akhirnya kemungkinan besar akan menuju ke sana," kata Analis Minyak Mentah Kpler, Nhway Khin Soe.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur air sempit yang sangat krusial bagi transportasi sekitar seperlima minyak dan gas dunia. Namun, lalu lintas pelayaran di sana kini dilaporkan merosot tajam hingga hanya menyisakan sedikit aktivitas karena para operator tanker cenderung menghindari wilayah yang terkepung perang tersebut.

Berdasarkan data Organisasi Maritim Internasional (IMO), sepuluh kapal di dalam atau di sekitar Selat Hormuz telah menjadi sasaran serangan Teheran dalam waktu kurang dari dua minggu sejak perang dimulai. Insiden tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya tujuh pelaut di atas kapal.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa risiko bagi kapal yang melintas sepenuhnya berada di tangan operator. Ketegangan ini membuat navigasi di wilayah tersebut menjadi sangat berbahaya bagi kapal-kapal internasional.

"Tanker minyak yang transit melalui Selat Hormuz harus sangat berhati-hati," tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah wawancara.

Respons Trump

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menanggapi situasi ini dengan nada keras. Di tengah melonjaknya harga minyak akibat kekhawatiran gangguan pasokan, Trump meminta kapal-kapal yang tertahan di dekat jalur tersebut untuk tidak gentar.

"Kapal-kapal yang terdampar di dekat lorong tersebut perlu menunjukkan keberanian dan menerobos saluran itu. Tidak ada yang perlu ditakutkan, mereka tidak punya Angkatan Laut, kami sudah menenggelamkan semua kapal mereka," kata Trump kepada Fox News.

Kondisi ini juga memaksa Iran untuk mencari alternatif ekspor. Selama ini, Terminal Pulau Kharg menangani sekitar 90% ekspor minyak Iran. Namun, kini Iran mulai memfungsikan kembali terminal minyak dan gas Jask di sepanjang Teluk Oman, yang terletak di selatan Selat Hormuz guna menambah kapasitas pengiriman.

Menurut catatan TankerTrackers, sebuah kapal Iran terlihat sedang memuat 2 juta barel minyak mentah di Jask. Ini merupakan pemuatan kelima yang terjadi di lokasi tersebut dalam lima tahun terakhir, yang menandakan upaya Teheran membypass Selat Hormuz.

"Aktivitas baru di Jask menunjukkan bahwa Teheran sedang menjajaki alternatif selain Selat Hormuz, meskipun sejauh mana terminal ini dapat berfungsi sebagai rute pengiriman yang layak masih belum pasti," jelas Nhway Khin Soe dari Kpler.

Meski terminal Jask memungkinkan Iran menghindari Selat Hormuz sepenuhnya, fasilitas ini dinilai kurang efisien dibandingkan Pulau Kharg. Proses pemuatan untuk kapal jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) di Jask memakan waktu jauh lebih lama.

"Memuat satu VLCC bisa memakan waktu hingga 10 hari. Ini memiliki nilai propaganda domestik yang bagus, tetapi tidak banyak memberikan keuntungan logistik. Sebagai perbandingan, VLCC hanya membutuhkan waktu satu atau dua hari untuk memuat di Pulau Kharg," tambah Madani dari TankerTrackers.


Timbun Cadangan Energi

Sementara itu, gempuran pasokan ke China ini bertepatan dengan upaya Beijing menimbun cadangan energi. Kpler mencatat ekspor Iran mencapai rekor tertinggi sebesar 3,78 juta barel per hari pada minggu 16 Februari, melonjak dua kali lipat dari rata-rata mingguan biasanya.

Hingga Januari, China diperkirakan telah mengumpulkan 1,2 miliar barel inventaris minyak yang dapat memenuhi permintaan selama 3 hingga 4 bulan. Langkah ini diambil saat AS mulai menargetkan sumber pasokan utama China, termasuk Venezuela dan Iran.

Kini, pasar energi global tetap berada dalam ketidakpastian tinggi seiring dengan harga minyak yang sempat menyentuh US$ 120 (Rp 2,02 juta) per barel pada awal pekan ini. Para pemimpin dunia, termasuk negara-negara G7, dikabarkan tengah mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak terbesar sepanjang sejarah untuk meredam syok harga akibat perang yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda tersebut.

(tps/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |