Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
05 April 2026 13:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Tepat setahun setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meluncurkan kebijakan tarif besar-besaran yang dia sebut sebagai "Liberation Day", Gedung Putih kini mengklaim hasil sangat positif atas kebijakan tersebut. Pemerintah AS menyebut defisit dagang menyempit, investasi manufaktur mengalir deras, aktivitas pabrik bangkit, hingga pekerja Amerika kembali diuntungkan.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis di situs Gedung Putih pada Kamis (2/4/2026), pemerintah AS bahkan menyebut perekonomian negaranya kini lebih tangguh, lebih kompetitif, dan lebih aman dibandingkan setahun lalu.
Pemerintah Trump juga menegaskan bahwa kebijakan dagang "America First" telah melindungi pekerja, menghasilkan pemasukan baru dari tarif, memperbaiki hubungan dagang, serta mempercepat kembalinya manufaktur ke tanah Amerika.
Namun, jika dilihat lebih dalam, cerita setahun perang dagang ini ternyata tidak sesederhana narasi kemenangan yang dijual Gedung Putih. Sejumlah data memang menunjukkan ada perubahan yang menguntungkan bagi AS. Tetapi di sisi lain, banyak janji besar Trump yang belum sepenuhnya terlihat di lapangan.
Defisit Dagang Memang Menyempit
Salah satu klaim utama pemerintah AS adalah soal defisit dagang barang yang menurun tajam.
Pemerintah Trump menyebut defisit perdagangan barang AS pada April 2025 hingga Februari 2026 turun 24% dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya. Defisit dagang dengan China juga diklaim turun 32% dalam setahun terakhir, sementara dengan Uni Eropa menyusut hampir 40%.
Dari sisi ini, pemerintah AS memang punya bahan untuk menyebut kebijakan tarif telah memberi hasil. Penurunan defisit dagang selama ini menjadi salah satu target utama Trump.
Bagi pemerintah, semakin kecil ketergantungan pada impor dan semakin membaik neraca perdagangan, maka semakin kuat pula posisi ekonomi Amerika di hadapan mitra dagangnya.
Namun, persoalannya tidak berhenti di sana. Defisit dagang yang mengecil belum otomatis berarti sektor industri AS benar-benar pulih. Neraca perdagangan hanyalah satu ukuran. Sementara untuk menilai apakah perang dagang benar-benar menghidupkan kembali manufaktur Amerika, pasar tenaga kerja, investasi, dan harga barang juga harus ikut dilihat.
Janji Investasi Besar Belum Sepenuhnya Terlihat
Gedung Putih juga mengklaim perang dagang telah memicu gelombang reshoring atau kepulangan industri ke AS. White House menyebut triliunan dolar investasi swasta dan asing kini mengalir ke sektor manufaktur Amerika, dari perusahaan teknologi, otomotif, hingga farmasi.
Akan tetapi, melansir dari tulisan Tax Foundation menunjukkan gambaran yang lebih hati-hati.
Data investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI) ke AS sepanjang 2025 tidak menunjukkan lonjakan dramatis seperti yang berulang kali diklaim Trump.
Data Bureau of Economic Analysis menunjukkan investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI) ke AS sepanjang 2025 tidak menunjukkan lonjakan dramatis seperti yang berulang kali diklaim Trump. Total FDI pada 2025 tercatat sebesar US$288,4 miliar, justru berada di bawah rata-rata 10 tahun sebelumnya yang mencapai US$320,7 miliar. Nilai itu juga lebih rendah dibandingkan capaian tahunan pada 2021, 2022, 2023, dan 2024.
Artinya, meski ada banyak pengumuman investasi dan komitmen dari perusahaan besar, hal itu belum benar-benar tercermin sebagai lonjakan besar dalam statistik makro. Dengan kata lain, narasi investasi terdengar besar di atas kertas, tetapi realisasinya secara agregat belum menunjukkan ledakan seperti yang dijanjikan.
Aktivitas Pabrik Membaik, Tapi Pekerjaan Belum Kembali Ramai
Pemerintahan Trump juga mengangkat mulai pulihnya aktivitas manufaktur sebagai bukti keberhasilan.
Pemerintah AS menyebut indikator aktivitas pabrik pada Januari, Februari, dan Maret 2026 menunjukkan ekspansi, bahkan menjadi yang tertinggi sejak Agustus 2022. Produksi industri juga disebut berada di level tertinggi sejak 2019, sementara produktivitas manufaktur mencatat kenaikan tahunan terbesar dalam hampir dua dekade.
Secara mudah, ini memberi sinyal bahwa sektor manufaktur memang mulai bergerak membaik. Namun, pemulihan di tingkat aktivitas belum sepenuhnya tercermin di pasar tenaga kerja.
Data US Bureau of Labor Statistics mencatat bahwa lapangan kerja di sektor manufaktur justru masih menurun setelah Liberation Day. Dari April 2025 hingga Februari 2026, jumlah pekerjaan manufaktur berkurang sekitar 89.000. Penurunan itu menunjukkan kebangkitan industri yang dijanjikan belum sepenuhnya tercermin di pasar kerja.
Ini menjadi celah penting dalam narasi kemenangan pemerintah. Sebab, jika perang dagang benar-benar membuat pabrik kembali hidup dalam skala besar, maka pasar kerja manufaktur seharusnya juga mulai menunjukkan pemulihan yang lebih kuat. Kenyataannya, pemulihan itu belum tampak jelas.
Tarif Memang Menambah Uang Negara, Tapi Jauh dari Janji Bombastis
Trump sejak awal juga menjual tarif sebagai mesin pemasukan baru bagi negara. Ia pernah menyebut tarif akan membawa ratusan miliar bahkan triliunan dolar ke kas pemerintah, sekaligus membantu membayar utang AS.
Dalam praktiknya, tarif memang meningkatkan penerimaan bea masuk. Data US Department of the Treasury menunjukkan, sebelum Mahkamah Agung AS membatalkan dasar hukum tarif IEEPA pada Februari 2026, kebijakan itu menghasilkan sekitar US$166 miliar pembayaran tarif. Secara keseluruhan, bea masuk pada Januari-Desember 2025 mencapai US$264 miliar.
Masalahnya, angka itu tetap jauh dari janji besar yang pernah digaungkan Trump dan para penasihatnya. Tambahan pemasukan dari tarif memang ada, tetapi tidak cukup besar untuk mendekati klaim bahwa kebijakan ini bisa menjadi alat utama membayar utang nasional. Bahkan, utang federal tetap terus naik selama periode tersebut.
Dengan kata lain, perang dagang memang memberi tambahan uang ke pemerintah, tetapi hasilnya tidak semegah narasi politik yang dibangun sejak awal.
Siapa yang Sebenarnya Menanggung Tarif?
Satu lagi klaim penting dari pemerintahan Trump adalah bahwa beban tarif pada akhirnya ditanggung produsen asing, bukan rakyat Amerika. White House mengutip studi Bank of England yang menunjukkan harga ekspor ke AS turun setelah Liberation Day, yang mereka tafsirkan sebagai tanda bahwa pihak luar negeri ikut menanggung sebagian beban tarif.
Namun, realitasnya tidak sesederhana itu. Tarif pada dasarnya adalah pajak atas barang impor yang secara hukum dibayar importir, tetapi secara ekonomi bebannya bisa menyebar ke banyak pihak, mulai dari importir, pelaku usaha hilir, konsumen akhir, hingga produsen asing.
Sejumlah riset yang dirangkum dalam kajian tersebut juga menunjukkan tarif mendorong kenaikan harga di AS. Pricing Lab Harvard memperkirakan bahwa hingga Oktober 2025, dampak tarif terhadap harga eceran telah mencapai 24% dan menyumbang tambahan 0,76 poin persentase terhadap inflasi indeks harga konsumen. Ketua Federal Reserve Jerome Powell bahkan menyebut inflasi barang yang masih tinggi banyak dipengaruhi efek tarif.
Ini berarti tarif tidak sepenuhnya dibayar pihak asing. Sebagian bebannya tetap merembet ke dalam negeri, baik melalui harga barang yang lebih mahal, tekanan biaya bagi pelaku usaha, maupun pelemahan perekrutan tenaga kerja.
CNCB INDONESIA RESEARCH
(evw)
Addsource on Google

7 hours ago
4
















































