Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah akan menaikkan Harga Mineral Acuan (HMA) nikel.
Menurut Bahlil, hal ini dilakukan sebagai upaya mendukung penerimaan negara dari sektor mineral. Mengingat, Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan khusus untuk meningkatkan penerimaan negara dari sektor sumber daya alam, khususnya mineral.
"Bukan kemungkinan, sudah menjadi keputusan dari kami. Bahwa kami akan menaikkan HMA-nya. Jadi harga standar acuan nikelnya kami akan naikkan," kata Bahlil di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Selain itu, Bahlil menjelaskan pihaknya juga tidak akan mengubah kebijakan pemangkasan produksi nikel pada Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Menurutnya, hal ini ditujukan agar produksi nikel selaras dengan kebutuhan industri dalam negeri, sehingga harga di pasar tidak jatuh akibat kelebihan pasokan.
"Menyangkut dengan nikel. Nikel juga RKAB-nya kita akan membuat keseimbangan antara supply and demand. Berapa kebutuhan pabrik kita, itu yang kita akan mengeluarkan. Supaya harganya tidak juga jatuh," ujar Bahlil.
Sebelumnya, Bahlil membeberkan adanya arahan khusus dari Presiden Prabowo Subianto. Terutama untuk meningkatkan penerimaan negara dari sektor sumber daya alam, khususnya mineral.
Menurut Bahlil, Prabowo menekankan agar kepentingan negara menjadi prioritas utama dalam pengelolaan sumber daya alam yang merupakan aset strategis negara.
"Bapak Presiden memerintahkan kepada saya untuk bagaimana memperhatikan kepentingan negara, prioritas di atas segala-galanya. Dan kita menjaga sumber daya alam kita, sumber daya alam kita ini merupakan aset negara," kata Bahlil usai rapat terbatas dengan Presiden di Hambalang, Bogor, Rabu (25/3/2026).
Dalam konteks itu, Kementerian ESDM diminta untuk mencari sumber-sumber pendapatan baru yang selama ini dinilai belum memberikan porsi optimal.
Adapun, salah satu langkah yang tengah dipertimbangkan adalah penyesuaian Harga Patokan Mineral (HPM) untuk komoditas nikel yang berpotensi mengalami kenaikan.
"Kemungkinan besar HPM untuk nikel saya akan naikkan," tambah Bahlil.
Sebelumnya, Kementerian ESDM menargetkan produksi bijih nikel pada RKAB 2026 ini menjadi "hanya" sebesar 260 juta ton. Angka ini menurun dibandingkan RKAB 2025 yang mencapai 379 juta ton.
(wia)
Addsource on Google

4 hours ago
2
















































