Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
28 March 2026 15:00
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga telur global kembali jadi sorotan. Dalam hitungan bulanan, lonjakannya ekstrem, terutama di Amerika Serikat.
Pasar bergerak cepat, dari fase kejatuhan tajam menuju reli singkat yang dipicu kombinasi pasokan, musim, dan efek sisa krisis lama.
Melansir dari Trading Economics, harga telur Amerika Serikat (AS) pada Jumat (27/3/2026) berada di US$1,17 per dozen atau turun 0,11%. Kendati turun, harga telur alam satu bulan melonjak 186%. Sepanjang tahun ini, harganya sudah terbang 97%.
Lonjakan harga telur ini dikhawatirkan bisa ikut melambungkan inflasi AS. Padahal, inflasi AS juga diperkirakan akan mendapat beban lebih dari kenaikan harga BBM di tengah perang Iran yang justru dipicu kebijakan Presiden AS Donald Trump.
Foto: Trading Economics
Pergerakan Harga Telur AS
Di China, harga telur berada di CNY 3.480 /ton, naik 2,08% harian, dengan kenaikan bulanan 6,81% dan tahunan 11,97%.
Pasar telur sedang berada dalam fase penyesuaian yang tajam, bukan tren satu arah.
Fase penurunan sebelumnya punya akar yang bisa ditelusuri. Melansir dari USDA, pasar telur sempat mengalami tekanan berat akibat wabah flu burung atau highly pathogenic avian influenza (HPAI) sepanjang 2024 hingga awal 2025.
Populasi ayam petelur terpukul, pasokan menyusut drastis, dan harga melonjak hingga level yang membuat telur berubah status menjadi barang mahal di banyak rumah tangga.
Ketika kasus flu burung mulai mereda pada pertengahan 2025, produsen bergerak cepat membangun kembali populasi ayam. Produksi pulih dalam skala besar.
USDA mencatat harga eceran telur bahkan sudah turun 34,2% pada awal 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, sementara harga di tingkat peternak diproyeksi turun lebih dalam hingga 44,1% sepanjang tahun ini. Ini fase koreksi setelah lonjakan ekstrem.
Data dari Texas memperkuat gambaran ini. Melansir dari WFAA, harga telur di wilayah tersebut kini berada di sekitar US$2,50 per dozen, turun 58% dari tahun lalu.
Jumlah ayam petelur meningkat dari 292 juta ekor pada Maret 2025 menjadi 308 juta tahun ini. Artinya suplai kembali melimpah. Ketika pasokan naik dan permintaan sempat melemah akibat harga tinggi sebelumnya, tekanan turun pada harga menjadi tak terhindarkan.
Namun lonjakan bulanan yang terjadi saat ini datang dari sisi berbeda. Lonjakan ini terjadi akibat dorongan musiman.
Permintaan meningkat menjelang Paskah periode dengan konsumsi telur tinggi untuk kebutuhan makanan dan tradisi. Dalam kondisi pasokan sudah pulih, kenaikan permintaan jangka pendek tetap cukup untuk mengangkat harga dalam waktu singkat, meski tidak mengubah tren tahunan.
Faktor lain muncul dari sisi hilir. Melansir dari The Guardian, industri makanan olahan berbasis telur seperti cokelat Paskah mengalami tekanan biaya yang kompleks, terutama dari bahan baku seperti kakao yang sempat melonjak dalam beberapa tahun terakhir.
Produsen merespons dengan penyesuaian ukuran dan harga. Ini memberi sinyal bahwa tekanan biaya di rantai pangan belum sepenuhnya reda, meski harga telur di hulu sempat turun.
Ada juga dinamika substitusi. Saat harga daging sapi dan protein lain tetap tinggi USDA memproyeksikan kenaikan harga beef dan veal sekitar 5,5% tahun ini konsumen beralih ke telur sebagai sumber protein yang lebih murah. Pergeseran ini menahan penurunan harga agar tidak terlalu dalam, sekaligus menciptakan lonjakan permintaan sesaat saat harga mulai stabil.
Lonjakan bulanan ini merupakan hasil interaksi tiga lapis, pemulihan pasokan pasca flu burung, tekanan biaya di sektor pangan, dan lonjakan permintaan musiman.
Dalam konteks ini, pergerakan ekstrem dalam jangka pendek menjadi bagian dari proses normalisasi, bukan anomali.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

4 hours ago
3
















































