AS-Iran Deal Tanpa Israel, 5 Misi Besar Netanyahu Ini Belum Tercapai

5 hours ago 4

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

09 April 2026 12:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki fase baru setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada Minggu (7/4/2026).

Namun, kesepakatan ini justru menempatkan Binyamin Netanyahu dalam posisi yang semakin kompleks antara sekutu, pihak yang disalahkan, atau bahkan pengganggu perdamaian.

Satu jam setelah pengumuman gencatan senjata pada 7 April, sirine peringatan masih berbunyi di berbagai kota di Israel, seiring rudal Iran terus diluncurkan. Kondisi ini menegaskan bahwa setelah 40 hari serangan udara Iran ke Israel, namun Israel belum mampu menghilangkan ancaman udara tersebut.

Meskipun perang ini didukung luas oleh publik Israel yang memandang Iran sebagai ancaman eksistensial, namun hasil yang belum konklusif berpotensi memicu pertanyaan apakah perang tersebut sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.

Israel Tersisih dari Negosiasi

Situasi menjadi lebih rumit ketika AS mulai bernegosiasi langsung dengan Iran. Israel memang mengetahui adanya pembicaraan, namun tidak dilibatkan sebagai pihak dalam negosiasi.

Bahkan, sebelum pengumuman resmi oleh Donald Trump, angkatan udara Israel tengah bersiap menyerang infrastruktur energi Iran. Rencana tersebut akhirnya dibatalkan, menandakan kendali penuh berada di tangan Washington.

Dari perspektif Netanyahu, perang ini tetap memberikan satu keuntungan strategis. Israel dan AS saling bekerja sama dalam menentukan target dan menjalankan misi.

Namun, cara gencatan senjata ini dicapai melalui mediasi Pakistan antara AS dan Iran tanpa kehadiran Israel, yang menunjukkan realitas hubungan kedua negara tersebut.

Target Strategis Israel Belum Tercapai

Sebelum konflik dimulai, Israel menargetkan pelemahan signifikan terhadap kapabilitas militer Iran hingga mendorong perubahan rezim. Namun setelah rangkaian serangan intensif, sebagian besar target tersebut belum berhasil dicapai.

Meski demikian, dari sisi taktis dan militer jangka pendek, Israel tetap mencatat sejumlah capaian signifikan. Iran kehilangan sebagian besar kekuatan angkatan udara dan lautnya, sementara sistem pertahanan udaranya mengalami kerusakan berat. Industri persenjataan Iran juga terdampak cukup besar.

Di dalam negeri, sistem pertahanan rudal Israel berhasil mencegat sebagian besar dari lebih 600 rudal yang diluncurkan Iran, dengan korban jiwa sekitar 20 orang angka ini jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan awal untuk konflik berskala besar seperti ini.

Posisi Binyamin Netanyahu berpotensi bergeser dari sekutu menjadi pihak yang disalahkan. Ia sebelumnya meyakinkan Donald Trump untuk melancarkan perang pada 28 Februari melalui serangkaian operasi, termasuk pembunuhan terhadap pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta puluhan pejabat senior lainnya.

Namun, laporan media AS mengungkap bahwa sejumlah pejabat tinggi Washington telah menyampaikan keraguan terhadap rencana tersebut sejak awal. Munculnya kebocoran ini menjelang akhir konflik mengindikasikan adanya upaya dari sebagian lingkaran pemerintahan AS untuk menjaga jarak dari Netanyahu, terutama di tengah memburuknya persepsi publik Amerika terhadap Israel.

Reaksi Israel Terhadap Gencatan Senjata

Dalam pernyataannya, Binyamin Netanyahu mengatakan bahwa Israel mendukung keputusan Donald Trump untuk menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua minggu, namun menekankan bahwa langkah tersebut hanya bersifat sementara.

Gencatan senjata tidak mencakup Lebanon, di mana Israel masih berkonflik dengan Hizbullah yang didukung Iran. Bahkan setelah kesepakatan berlaku, Israel tetap melancarkan serangan terhadap puluhan target Hizbullah di wilayah tersebut.

Kondisi ini bertentangan dengan posisi Iran yang menginginkan gencatan senjata mencakup seluruh front, termasuk kelompok proksinya. Iran pun memperingatkan bahwa jika serangan terhadap Hizbullah terus berlanjut, maka mereka akan kembali melancarkan serangan terhadap Israel.

Dalam situasi ini, Donald Trump dihadapkan pada keputusan penting yang berpotensi memicu ketegangan baru dalam hubungan dengan Israel.

Di sisi lain, menjelang pemilu pada akhir Oktober, Netanyahu berupaya menjaga hubungan dekat dengan Trump sebagai salah satu modal politik utama. Ia harus mampu meyakinkan publik bahwa Israel tetap menjadi sekutu strategis AS sekaligus berhasil mencapai tujuan perang di Iran dan Lebanon.

(mae/mae)

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |