Perang Iran Tinggalkan "Cacat Permanen", Harga Energi Sulit Turun

4 hours ago 6

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

09 April 2026 13:05

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar energi global sempat bernapas lega setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu di kawasan Teluk serta dengan syarat pembukaan kembali Selat Hormuz secara "lengkap, segera, dan aman".

Pengumuman tersebut langsung menekan harga minyak dunia, dengan Brent turun 12% dari US$103 menjadi US$91 per barel. Brent tidak pernah volatil separah ini sejak awal era pandemi Covid-19.

Namun, di balik penurunan harga tersebut, kondisi pasar energi masih jauh dari stabil. Ketidakpastian geopolitik, gangguan distribusi, hingga kerusakan infrastruktur membuat pasar diperkirakan akan terus menghadapi tekanan dalam waktu yang tidak singkat.

Pasar Masih Rentan, Risiko Belum Hilang

Sebelum pengumuman gencatan senjata, pasar energi menunjukkan tekanan yang signifikan. Harga minyak Amerika Serikat-West Texas Intermediate (WTI) bahkan sempat diperdagangkan lebih mahal dari Brent, indikasi kuat bahwa pembeli berlomba mengamankan pasokan.

Selain itu, harga Dated Brent sempat menyentuh rekor US$144 per barel hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata diumumkan.

Meski kini harga mulai turun, minyak masih lebih mahal sekitar 30% dibandingkan sebelum konflik, sementara harga gas naik sekitar 40%.

Ratusan Kapal Masih Terjebak di Selat Hormuz

Gejolak pasar energi global yang disebabkan oleh konflik Amerika-Iran terjadi karena beberapa faktor, salah satunya yang utama adalah penutupan Selat Hormuz.

Saat ini, sekitar 187 kapal tanker yang membawa 172 juta barel minyak dan produk olahan masih terjebak di kawasan Teluk.

Tidak hanya itu, sekitar 15 kapal gas alam cair (liquefied natural gas (LNG)) dan puluhan kapal pengangkut pupuk juga tertahan. Jika dihitung dengan kapal kargo lainnya, total kapal yang terjebak mencapai 715 unit.

Meski secara teori kemacetan ini bisa diurai dalam waktu satu minggu, banyak operator kapal masih enggan melintas sebelum keamanan benar-benar terjamin.

Contoh pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa ketika Houthis (milisi Yaman yang didukung Iran) menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah pada Oktober 2025, Maersk-perusahaan pelayaran komersial besar-masih membutuhkan waktu sekitar dua bulan sebelum kembali berani melintasi jalur tersebut.

Selain itu, di tengah tingginya rasa takut, premi asuransi kapal ikut melonjak. Akibatnya, pemulihan lalu lintas pelayaran diperkirakan memerlukan waktu berminggu-minggu dan akan menimbulkan biaya yang jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.

Risiko dan Biaya Masih Membayangi

Arus kapal yang masuk kembali ke Teluk untuk mengisi muatan masih sangat terbatas karena tingginya risiko jika negosiasi damai gagal.

Kondisi ini membuat banyak pemilik kapal bernilai tinggi, terutama LNG, cenderung menahan diri. Bahkan, analis dari Columbia University menilai hampir tidak ada operator yang bersedia membawa kapal masuk ke Teluk saat ini, sehingga tambahan pasokan LNG kemungkinan hanya berasal dari muatan yang sudah terlanjur berada di dalam kawasan dan bisa keluar dalam waktu dekat.

Ketidakpastian juga muncul dari potensi biaya tambahan. Selama konflik, kapal yang hendak melintas harus membayar ke Iran hingga US$2 juta untuk sekali melintas. Jika kebijakan ini berlanjut, biaya perjalanan pulang-pergi bisa mencapai US$4 juta.

Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya Rahadian
Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?

Biaya tersebut berpotensi mengurangi daya saing minyak dari kawasan Teluk, terutama bagi kapal kecil.

Johannes Rauball-analis Kpler, menunjukkan bahwa biaya US$4 juta tersebut dapat membuat kapal yang lebih kecil, seperti kapal tanker Aframax (yang membawa 600.000-800.000 barel) keluar dari pasar karena tidak sanggup beroperasi lagi.

Lebih jauh, meskipun kemacetan kapal berhasil diurai, dampaknya terhadap pasokan energi global tidak akan langsung terasa. Kapal yang menuju Asia membutuhkan waktu setidaknya tiga minggu untuk tiba, sementara pengiriman ke Eropa bisa memakan waktu empat hingga enam minggu.

Di saat yang sama, banyak kapal telah beralih mengambil muatan dari wilayah lain, sehingga proses normalisasi pasokan diperkirakan dapat memakan waktu hingga berbulan-bulan.

Pemulihan Produksi Energi Butuh Waktu Lama

Di sisi produksi, dampaknya bahkan lebih serius. Konflik telah memangkas lebih dari 10 juta barel per hari produksi minyak-sekitar 10% dari permintaan global. Pemulihan produksi tidak bisa dilakukan secara instan karena berisiko merusak sumur minyak.

Sementara itu, sektor gas menghadapi tantangan yang lebih berat. Serangan terhadap fasilitas LNG di Qatar merusak sekitar 17% kapasitas produksi, dengan estimasi waktu perbaikan mencapai 3 hingga 5 tahun. Bahkan untuk kembali ke kapasitas penuh, fasilitas yang masih berfungsi diperkirakan membutuhkan waktu hampir empat bulan.

Dampaknya meluas ke berbagai sektor, termasuk pupuk dan industri logam. Kerusakan pada fasilitas aluminium di Abu Dhabi bahkan diperkirakan membutuhkan waktu hingga satu tahun untuk pulih sepenuhnya.

(mae/mae)

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |