Jakarta, CNBC Indonesia — Saham Bank Central Asia (BBCA) mengalami tekanan jual besar pagi ini, Senin (30/3/2026). Saham emiten grup Djarum tersebut mencatat nilai transaksi terbesar di pasar, yakni Rp 1,19 triliun.
BBCA tercatat anjlok ke level 6.425 atau turun 4%. Bahkan pada awal-awal pembukaan pasar, BBCA sempat menyentuh level 6.350.
Mengutip Refinitiv, BBCA menjadi beban terbesar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini. BBCA menyeret IHSG ke bawah sebesar -21,32 poin per pukul 09.05 WIB.
Saham bank jumbo lain juga mengalami koreksi, tetapi tidak sebesar BBCA.
Saham lain yang juga membebani IHSG adalah Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Barito Renewables Energy (BREN), hingga Sumber Alfaria Trijaya (AMRT). Akan tetapi secara bobot, selisih jauh bila dibandingkan dengan BBCA. DSSA yang berada di urutan kedua top laggard berkontribusi -9,56 indeks poin.
Adapun dalam sebulan terakhir, tekanan jual BBCA memang cukup besar, utamanya berasal dari asing. Sejak awal Maret 2026, net foreign sell BBCA mencapai Rp 3,66 triliun atau terbesar di pasar reguler.
Sementara itu, IHSG dibuka turun lebih dari 1% pagi ini ke level 7.020,53. IHSG bahkan sempat nyaris anjlok 2% dengan menyentuh level terendah di 6.955,57.
Tekanan IHSG diperkirakan masih berlanjut pekan ini. Padahal IHSG itu sempat mencetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa (All-Time High) di posisi 9.174,47 pada awal 2026. Artinya, dari titik tertingginya tahun ini, IHSG sudah terkoreksi lebih dari 20%.
Dalam kondisi saat ini, ruang kenaikan IHSG masih sangat terbatas karena belum adanya katalis positif yang kuat dari sisi global.
Pasar pada dasarnya menunggu clear signal seperti gencatan senjata di Timur Tengah, dibukanya kembali jalur energi utama seperti Selat Hormuz, serta penurunan harga minyak kembali ke bawah US$80 per barel.
Selama faktor-faktor tersebut belum terjadi, IHSG cenderung akan sulit untuk mengalami rebound signifikan karena tekanan eksternal masih mendominasi.
Eskalasi konflik sendiri kini memasuki fase yang lebih kompleks dengan munculnya risiko double chokepoint.
Jika sebelumnya pasar hanya fokus pada Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% minyak dunia, kini perhatian mulai bergeser ke Bab el-Mandeb setelah kelompok Houthi di Yaman mulai terlibat dalam konflik.
Jalur ini merupakan penghubung utama Asia-Eropa melalui Terusan Suez dan mencakup sekitar 6-12% arus perdagangan global. Jika kedua jalur ini terganggu secara bersamaan, maka sekitar 25-30% pasokan minyak global berpotensi terdampak, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan memperbesar kemungkinan resesi. Dalam skenario ini, harga minyak berpotensi bertahan tinggi (higher for longer).
Bagi Indonesia, kondisi tersebut menjadi tekanan tambahan karena harga minyak yang tinggi berada di atas fiscal comfort zone yang idealnya di bawah US$80 per barel.
Dengan asumsi APBN menggunakan harga minyak US$70 per barel, setiap kenaikan US$10 dapat meningkatkan defisit sekitar Rp51,8 triliun.
Jika harga minyak mencapai US$100 per barel, tambahan subsidi energi diperkirakan mencapai Rp236 triliun, sementara tambahan penerimaan hanya sekitar Rp81 triliun, sehingga berpotensi menambah defisit hingga Rp155 triliun. Tekanan terhadap fiskal ini pada akhirnya turut membebani sentimen pasar saham domestik.
Di sisi lain, dinamika global juga dipengaruhi oleh kebijakan the Fed yang sejatinya bertugas menjaga inflasi dan lapangan kerja, namun secara tidak langsung juga berperan menjaga stabilitas sistem keuangan yang sangat bergantung pada likuiditas.
Sementara itu militer Israel menyatakan sedang menyerang berbagai target di ibu kota Iran, Tehran. Pemerintah Iran juga mengatakan infrastruktur energi mengalami kerusakan, namun media Iran melaporkan listrik telah pulih di sebagian besar wilayah Teheran dan kota terdekat, Karaj.
Sebuah universitas di kota Isfahan, Iran bagian tengah, menjadi sasaran serangan untuk kedua kalinya pada akhir pekan ini.
Di sisi lain, Israel menyatakan kebakaran di sebuah lokasi industri di bagian selatan negara itu-yang disebabkan oleh serangan Iran-telah berhasil dikendalikan, beberapa jam setelah sebelumnya menyatakan terjadi "insiden bahan berbahaya" di area tersebut. Foto yang telah diverifikasi menunjukkan sebuah jet militer Amerika Serikat mengalami kerusakan parah di sebuah pangkalan udara di Saudi Arabia.
Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran mengatakan pasukan mereka "menunggu" kehadiran pasukan darat Amerika Serikat untuk "menghujani mereka dengan api", setelah pengumuman AS bahwa sekitar 3.500 tentara berada di kawasan tersebut bersama kapal perang USS Tripoli.
(mkh/mkh)
Addsource on Google

2 hours ago
3
















































