Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka melemah pada awal perdagangan hari ini, Rabu (20/5/2026).
IHSG turun 0,29% atau 18,47 poin ke posisi 6.352,20. Sebanyak 156 saham terkoreksi, 146 saham menguat, dan 314 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 158 miliar dengan volume perdagangan 235 juta saham dalam 31.500 kali transaksi. Adapun kapitalisasi pasar menciut menjadi Rp 11.079 triliun
Sesaat setelah dibuka IHSG tercatat langsung ambles makin dalam ke zona merah dan melemah hingga 1,35%. Pagi ini saham-saham yang paling ramai ditransaksikan adalah BBCA, ASPR, BBRI, BUMI dan TPIA.
Sejumlah sentimen akan membayangi kinerja pasar modal hari ini, dengan yang paling utama datang dari bank sentral. Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu siang ini (20/5/2026).
Keputusan tersebut menjadi salah satu agenda paling penting yang ditunggu pelaku pasar, terutama di tengah tekanan berat terhadap rupiah dan pasar keuangan domestik.
Berdasarkan polling CNBC Indonesia, dari 15 lembaga/institusi yang berpartisipasi, sebanyak sembilan lembaga memperkirakan BI akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,00%.
Sementara enam lembaga lainnya memproyeksikan BI masih akan menahan suku bunga acuan di level 4,75%.
Mayoritas pelaku pasar kini melihat kenaikan suku bunga mulai menjadi skenario utama pada RDG kali ini. Tekanan yang kian berat terhadap nilai tukar rupiah, ditambah meningkatnya risiko eksternal, membuat ruang BI untuk tetap menahan suku bunga semakin sempit.
Pada RDG terakhir di April 2026, BI kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap sebesar 3,75%, sementara Lending Facility dipertahankan di 5,50%.
Keputusan tersebut menjadi kali ketujuh BI menahan suku bunga acuannya secara berturut-turut.
Jika hasil RDG kali ini sesuai dengan mayoritas konsensus, maka ini akan menjadi kenaikan suku bunga pertama dalam dua tahun terakhir. Terakhir kali BI menaikkan suku bunga terjadi pada April 2024, saat bank sentral mengerek BI Rate sebesar 25 basis poin dari 6,00% menjadi 6,25%.
Tekanan terhadap rupiah menjadi salah satu alasan utama pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga.
Mata uang Garuda terus mencetak level terlemah baru terhadap dolar AS, sementara gejolak eksternal dari perang AS-Iran masih membuat ketidakpastian global tinggi dan menahan harga energi dunia di level yang mahal.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko imported inflation, terutama jika harga minyak terus bertahan tinggi dan rupiah tetap lemah. Di sisi lain, tekanan terhadap pasar keuangan domestik juga masih terlihat dari pergerakan IHSG dan yield SBN.
(fsd/fsd)
Addsource on Google

1 hour ago
4

















































