Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi mencapai kesepakatan dengan Bangladesh untuk menurunkan tarif impor atas produk dari negara Asia Selatan tersebut.
Dalam perjanjian yang diumumkan Senin (9/2/2026) waktu setempat, AS memangkas tarif timbal balik (reciprocal tariff) AS terhadap barang Bangladesh dari 20% menjadi 19%, sekaligus membuka peluang pembebasan bea masuk untuk tekstil dan garmen tertentu.
Kesepakatan itu tertuang dalam pernyataan bersama Gedung Putih yang menyebut Washington juga berkomitmen mengupayakan mekanisme agar produk tekstil dan pakaian jadi tertentu dari Bangladesh dapat menikmati tarif timbal balik 0%, khususnya untuk barang yang menggunakan bahan baku asal Amerika Serikat.
Tarif timbal balik sendiri diberlakukan AS sejak tahun lalu untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan dan praktik yang dinilai tidak adil oleh Washington. Sebelumnya, Trump sempat menetapkan tarif setinggi 37% untuk produk Bangladesh sebelum akhirnya diturunkan menjadi 20% pada Agustus lalu, dan kini kembali dipangkas menjadi 19%.
"Washington berkomitmen untuk menetapkan mekanisme yang memungkinkan barang-barang tekstil dan garmen tertentu dari Bangladesh menerima tarif timbal balik nol persen," demikian pernyataan dalam kesepakatan tersebut, seperti dikutip AFP, Selasa (10/1/2026).
Perjanjian ini dinilai krusial bagi Bangladesh, mengingat sektor tekstil dan garmen menyumbang sekitar 80% dari total ekspor negara itu. Industri tersebut juga baru mulai pulih setelah terdampak gejolak politik pada 2024 yang menggulingkan pemerintahan sebelumnya.
Pemimpin pemerintahan sementara Bangladesh, Muhammad Yunus, mengatakan kesepakatan tersebut akan mulai berlaku setelah kedua negara menyampaikan pemberitahuan resmi.
"Ini akan memberikan kepastian bagi eksportir kami dan memperkuat hubungan perdagangan dengan AS," ujarnya dalam pernyataan di media sosial.
Penasihat Keamanan Nasional Bangladesh, Khalilur Rahman, menambahkan pembebasan tarif yang diharapkan untuk ekspor tekstil dan pakaian jadi yang menggunakan input dari AS akan memberi "dorongan tambahan yang substansial bagi sektor garmen kami."
Selain tekstil dan garmen, AS juga akan mengidentifikasi produk lain dari Bangladesh yang berpotensi mendapatkan tarif timbal balik nol persen, dengan volume impor tertentu dikaitkan dengan nilai ekspor tekstil AS ke Bangladesh, termasuk kapas dan serat buatan.
Pada 2024, Bangladesh mengekspor barang ke AS senilai sekitar US$8,4 miliar (sekitar Rp134 triliun). Sementara impor Bangladesh dari AS tercatat sekitar US$2,2 miliar (Rp35 triliun). Produk-produk garmen Bangladesh memasok sejumlah merek besar AS, mulai dari Fruit of the Loom, Levi Strauss, hingga VF Corp yang membawahi Vans, Timberland, dan The North Face.
Kesepakatan ini menjadi sorotan karena Bangladesh merupakan negara tetangga Indonesia di kawasan Asia dan sesama eksportir produk tekstil, sehingga perubahan tarif AS berpotensi mempengaruhi peta persaingan produk garmen di pasar global.
(tfa/tfa)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2
















































