Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara menanjak pada perdagangan Senin. Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 117,5 per ton atau menguat 0,21% pada Senin (9/2/2026).
Penguatan ini menjadi kabar baik setelah harga batu bara melandai 0,3% pada Jumat pekan lalu.
Dari China dilaporkan harga batu bara termal di pelabuhan utara China naik moderat meskipun permintaan dari pembeli masih lesu akibat liburan Tahun Baru Imlek.
Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi pasokan yang tetap ketat setelah liburan karena stok di pelabuhan menurun dan importir/penjual mengantisipasi kekurangan.
Permintaan titik akhir (end-user) seperti pembangkit listrik dan industri masih relatif lemah atau belum pulih sepenuhnya setelah liburan panjang.
Aktivitas transaksi masih terbatas, dengan pembeli cenderung hati-hati menunggu konfirmasi harga atau sinyal pasar yang lebih jelas.
Salah satu penopang kenaikan adalah penurunan stok batu bara di pelabuhan. Ekspektasi ketatnya pasokan impor dan domestik juga mendorong penjual untuk mempertahankan atau sedikit menaikkan harga.
Jika perminatan batu bara kokas naik tipis tidak demikian dengan kokas. Pasar batu bara kokas memulai minggu ini dengan gambaran yang sangat suram. Sentimen perdagangan tetap lesu sehingga harga melemah.
Aktivitas pembelian di hilir (seperti pabrik baja/kokas dan pengguna industri) menurun signifikan karena banyak pembeli menghentikan operasi atau menahan pembelian saat liburan panjang, sehingga mengurangi permintaan terhadap batu bara kokas.
Di sisi pasokan, banyak kegiatan produksi berkurang atau tertunda menjelang atau selama liburan, sehingga pasokan batu bara kokas tidak aktif kembali secara normal. Ini berarti volume perdagangan yang aktif turun.
Dengan permintaan dan pasokan yang sama-sama melambat, dukungan harga melemah. Saat ini, kalangan pelaku pasar cenderung bersikap "wait-and-see", menunggu liburan selesai dan sinyal permintaan/pasokan lebih jelas sebelum melakukan aksi pembelian atau penjualan besar-besaran.
India Ganti Haluan
Impor batu bara kokas India dengan cepat bergeser ke Amerika Serikat (AS), menjauh dari Australia yang selama ini menjadi pemasok terbesar.
Pergeseran ini telah berlangsung jauh sebelum pengumuman terbaru mengenai kerangka perdagangan India-AS, dan menegaskan adanya perubahan struktural dalam strategi pengadaan energi India.
Analisis Business Standard terhadap data terbaru Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa meskipun Australia masih menjadi pemasok tunggal terbesar, dominasinya melemah tajam.
Pangsa Australia dalam impor batu bara kokas India turun menjadi 43% pada Full Year 2025 dari 69% pada Full Year (FY) 2020 secara volume. Australia mengekspor 35,92 juta ton (mt) batu bara kokas pada FY20, yang turun menjadi 24,54 mt pada FY25.
Dalam periode yang sama, Amerika Serikat muncul sebagai pemasok utama, dengan pangsa naik dari 7,3% menjadi lebih dari 15% pada FY25, seiring pengiriman AS ke India berlipat ganda dalam lima tahun.
AS mengekspor 3,77 mt batu bara kokas pada FY20, yang meningkat menjadi 8,47 mt pada FY25. Pada periode yang sama, pangsa Rusia juga meningkat menjadi 7,75 mt dari 1,1 mt.
Pergeseran ini terjadi di tengah ketergantungan India yang berkelanjutan pada impor batu bara kokas. India diperkirakan memiliki 37 miliar ton sumber daya batu bara kokas, terutama di Jharkhand, dengan cadangan tambahan di Madhya Pradesh, Benggala Barat, dan Chhattisgarh.
Namun, sekitar 95% kebutuhan batu bara kokas sektor baja masih dipenuhi melalui impor, yang meningkat menjadi 57,07 mt pada FY25 dari 51,83 mt pada FY20.
Niat terbaru India untuk membeli batu bara kokas dari AS di bawah kerangka perdagangan bilateral yang diusulkan muncul seiring strategi diversifikasi ini yang telah berjalan cukup lama.
Pernyataan bersama India-AS yang dirilis pada Sabtu menyebutkan bahwa India berniat membeli produk AS senilai US$500 miliar selama lima tahun, termasuk produk energi, logam mulia, dan batu bara kokas.
Perubahan sumber pasokan ini semakin cepat meskipun pemerintah berupaya mengurangi kerentanan terhadap impor batu bara kokas. Kementerian Batu Bara bulan lalu menetapkan batu bara kokas sebagai mineral kritis, yang menandakan perlunya meningkatkan produksi domestik dan mengamankan pasokan.
Para analis menyebut diversifikasi ini mencerminkan upaya sadar pembeli India untuk mengurangi risiko akibat konsentrasi pasokan.
"Pergeseran ini mencerminkan strategi diversifikasi yang disengaja untuk mengurangi paparan terhadap gangguan pasokan dan volatilitas harga yang terkait dengan ekspor batu bara kokas Australia," ujar Rajib Maitra, Partner dan Pemimpin Sektor di Deloitte South Asia.
Ketergantungan pada satu wilayah geografis membuat produsen baja rentan terhadap guncangan pasokan akibat siklon, gangguan tambang, dan periode pasar yang ketat, yang secara langsung memengaruhi biaya mendarat (landed cost).
Amit Bhargava, National Leader Metals and Mining KPMG India, mengatakan fokus pengamanan batu bara kokas sangat penting mengingat arah pengembangan industri baja India.
"Ekspansi kapasitas baja India berskala sangat besar secara global. Jalur tanur tinggi (blast furnace), yang merupakan jalur dominan, juga akan berperan signifikan dalam ekspansi tersebut, sehingga membuat batu bara kokas menjadi krusial," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kerangka perjanjian perdagangan sementara India-AS menunjukkan niat untuk memperluas wilayah sumber pasokan.
"AS sejak lama memiliki potensi untuk memasok batu bara kokas, dan kerangka ini menciptakan niat yang lebih jelas untuk mengembangkan pasokan tersebut. Ini akan membantu proses pencampuran (blending) dan optimalisasi biaya secara keseluruhan bagi pelaku industri India," katanya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)

2 hours ago
2
















































