Hidup Makin Susah, Anak Muda di China Terpaksa Berbagi Ranjang

18 hours ago 9

loading...

Sepasang kekasih sedang beristirahat di atas tempat tidur dalam instalasi ruang pamer di sebuah toko di Beijing, China, pada 5 Juli 2026. FOTO/Reuters

BEIJING - Tekanan ekonomi yang kian berat membuat sejumlah anak muda di kota-kota besar China menempuh cara tak biasa untuk memangkas pengeluaran dengan berbagi kamar hingga satu ranjang dengan orang asing. Fenomena ini muncul di tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat, pendapatan yang stagnan, dan ketidakpastian pasar tenaga kerja yang masih tinggi.

"Ini adalah masalah bertahan hidup," kata Winnie Zeng (25), pekerja muda asal Wuhan dikutip dari Reuters, Minggu (2/8/2026).

Zeng memilih tinggal satu kamar apartemen dengan seorang perempuan yang baru dikenalnya demi menekan biaya sewa bulanan sebesar 450 yuan atau sekitar Rp1,2 juta per bulan. Dengan skema hemat itu, ia bisa menyisihkan sekitar tiga perempat dari gaji bulanannya sebesar 4.000 yuan atau setara Rp10 juta per bulan.

Baca Juga: China Sangkal Bakal Kirim 400 Peluncur Rudal ke Iran untuk Melawan AS

Di Wuhan, Zeng dan teman sekamarnya tinggal di salah satu dari lima kamar dalam satu unit apartemen. Kamar tersebut dilengkapi lemari pakaian, meja kecil, dan satu ranjang besar yang mereka bagi bersama setelah menjalani masa uji coba tinggal bersama selama delapan hari.

Praktik hemat ekstrem ini memicu perbincangan luas di media sosial China. Tagar bertema berbagi ranjang sempat menjadi salah satu topik terpopuler di Weibo dengan lebih dari 14 juta tayangan, sementara konten serupa di Douyin meraup hampir 40 juta penayangan. Di Xiaohongshu, pencarian kata kunci "bed-sharing" juga menghasilkan puluhan ribu unggahan yang menawarkan kamar bersama hingga pembagian kasur.

Mingwei Liu, profesor di University of Maryland, menilai fenomena tersebut mencerminkan realitas ekonomi terkini ketika konsumen makin berhati-hati dan stabilitas kerja anak muda semakin rapuh. Menurut dia, kondisi itu menunjukkan keputusasaan sebagian anak muda yang kehilangan rasa memiliki terhadap kota tempat mereka bekerja, tidak memiliki jaminan pekerjaan jangka panjang, dan menghadapi prospek pendapatan yang tidak pasti.

Sejumlah ekonom memperingatkan, jika tren semacam ini meluas, dampaknya bisa menekan konsumsi rumah tangga, melemahkan permintaan properti, serta memengaruhi angka pernikahan dalam jangka panjang.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |