Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
08 June 2026 12:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Korea Selatan tengah berada dalam tekanan besar. Indeks saham utama Korea Selatan, KOSPI, terpantau ambruk cukup dalam pada perdagangan pagi ini, sejalan dengan tren pelemahan nilai tukar won Korea Selatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Melansir Refinitiv, pada Senin (8/6/2026) per pukul 09.50 WIB, KOSPI melemah 4,24% ke level 7.814,74. Tekanan terhadap bursa saham Korea Selatan terjadi setelah pasar global kembali diguncang oleh kekhawatiran atas arah suku bunga AS.
Bahkan, KOSPI sempat anjlok hingga 8,8% pada awal perdagangan. Koreksi tajam tersebut membuat otoritas bursa mengaktifkan penghentian sementara perdagangan (Trading Halt), sehingga perdagangan sempat dihentikan sementara selama 20 menit.
Ini menjadi trading halt pertama dalam tiga bulan terakhir, sekaligus yang ketiga sepanjang tahun ini.
Tekanan besar terutama datang dari saham-saham teknologi dan semikonduktor. Dua saham raksasa chip Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK Hynix, masing-masing sempat anjlok lebih dari 10%.
Koreksi tajam ini terjadi setelah data ketenagakerjaan AS yang kuat kembali memicu kekhawatiran pasar bahwa The Federal Reserve atau The Fed masih berpeluang mempertahankan sikap ketat, bahkan membuka ruang kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Sebelumnya pada perdagangan Jumat pekan lalu, bursa teknologi AS juga mengalami tekanan besar.
Nasdaq jatuh 4,2%, sementara Philadelphia Semiconductor Index ambles 10%. Tekanan pada saham teknologi global ini ikut menyeret pasar Korea Selatan, mengingat KOSPI memiliki bobot besar pada saham-saham semikonduktor.
Han Ji-young, analis Kiwoom Securities dikutip dari Reuters, menyebut kejutan dari data tenaga kerja AS telah memicu kenaikan imbal hasil obligasi dan menjadi alasan koreksi di pasar yang sebelumnya sudah bergerak terlalu panas, terutama setelah lonjakan saham-saham semikonduktor.
Meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi, tekanan ini belum tentu berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Han menilai valuasi KOSPI sudah mulai menurun setelah koreksi terbaru, sementara momentum laba saham-saham semikonduktor masih cukup solid.
Di tengah tekanan tersebut, investor asing juga masih mencatatkan aksi jual.
Asing membukukan jual bersih sekitar 200 miliar won atau setara US$128,86 juta, sekaligus memperpanjang tren net sell menjadi 21 sesi beruntun.
Meski anjlok tajam pada perdagangan hari ini, KOSPI secara tahun berjalan masih mencatatkan kenaikan sangat besar. Indeks saham Korea Selatan tersebut masih menguat sekitar 83% sepanjang 2026, setelah pada 2025 juga melesat 76% dan menjadi salah satu indeks dengan performa terbaik di dunia.
Won Korea Kembali ke Level Terlemah Sejak 2009
Tekanan di pasar saham Korea Selatan juga terjadi bersamaan dengan pelemahan won terhadap dolar AS. Mata uang Negeri Ginseng kembali berada di bawah tekanan besar dan menyentuh level terlemahnya sejak krisis keuangan global 2009.
Melansir data Refinitiv, won Korea Selatan mengakhiri perdagangan Jumat (5/6/2026) dengan pelemahan tajam terhadap greenback. Won terdepresiasi 1,78% dalam sehari, membuat kursnya melonjak ke level KRW1.559,08/US$.
Posisi tersebut sekaligus membawa won kembali ke level terlemahnya sejak Maret 2009, ketika pasar keuangan global masih berada dalam tekanan besar akibat krisis finansial.
Meski begitu, pada perdagangan pagi ini, Senin (8/6/2026) per pukul 10.14 WIB, won terpantau mengalami technical rebound. Won menguat 0,64% ke posisi KRW1.549,29/US$.
Secara tren, tekanan terhadap won memang semakin terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini sejalan dengan pergerakan banyak mata uang Asia lainnya yang juga tertekan oleh kuatnya dolar AS, termasuk rupiah.
Tekanan terhadap won mulai tampak semakin jelas sejak meletusnya perang antara AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari 2026. Sebelum perang, kurs won masih berada di sekitar KRW1.439/US$. Kini, posisinya sudah bertahan di atas level KRW1.500/US$.
Artinya, won sudah melemah sekitar 7,3% terhadap dolar AS sejak perang tersebut dimulai.
Ada sejumlah faktor yang membuat mata uang Negeri Ginseng terus berada di bawah tekanan, mulai dari kuatnya dolar AS hingga perubahan struktural dalam perilaku investasi masyarakat Korea Selatan.
Dolar AS Menguat, Won Makin Tertekan
Pelemahan won Korea Selatan tidak lepas dari penguatan dolar AS dalam beberapa waktu terakhir. Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, dolar AS kembali menjadi aset buruan pelaku pasar.
Kondisi ini membuat banyak mata uang Asia berada di bawah tekanan, termasuk won Korea Selatan. Ketika permintaan terhadap dolar AS meningkat, mata uang negara lain cenderung melemah karena pelaku pasar memilih masuk ke aset yang dianggap lebih aman.
Bagi won, tekanan ini menjadi semakin berat karena pasar Korea Selatan cukup sensitif terhadap pergerakan dolar AS dan arus modal asing. Apalagi, ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed juga masih menjadi perhatian utama pasar.
Selama dolar AS masih kuat dan ketidakpastian global belum mereda, ruang penguatan won diperkirakan masih terbatas.
Warga Korea Makin Banyak Beli Aset Luar Negeri
Selain tekanan dari dolar AS, pelemahan won juga dipengaruhi oleh faktor struktural dari dalam Korea Selatan sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat, institusi keuangan, hingga perusahaan Korea semakin agresif menempatkan dananya ke aset luar negeri, terutama aset berbasis dolar AS.
Aset tersebut mencakup saham AS, obligasi luar negeri, hingga properti di luar negeri. Ketika warga dan institusi Korea membeli aset-aset tersebut, mereka membutuhkan dolar AS. Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat, sementara won ikut tertekan.
Dengan kata lain, won tidak lagi hanya ditentukan oleh kinerja ekspor-impor atau surplus perdagangan Korea Selatan. Mata uang Negeri Ginseng kini juga semakin dipengaruhi oleh keputusan investor domestik dalam mengalokasikan kekayaannya ke pasar global.
Tekanan ini terlihat dari derasnya arus investasi keluar Korea Selatan. Pada periode Januari-November 2025, penduduk Korea Selatan tercatat menginvestasikan sekitar US$129,4 miliar ke luar negeri. Pada saat yang sama, surplus transaksi berjalan Korea Selatan hanya sebesar US$101,8 miliar.
Artinya, arus dana keluar tersebut lebih besar dibandingkan devisa yang dihasilkan dari transaksi berjalan. Selisih sekitar US$27,6 miliar harus ditutup, salah satunya melalui cadangan devisa Bank of Korea.
Kondisi ini membuat pasar membaca pelemahan won sebagai tekanan yang tidak sepenuhnya bersifat sementara. Selama masyarakat dan institusi Korea terus meningkatkan penempatan dana ke luar negeri, permintaan terhadap dolar AS akan tetap tinggi dan berpotensi menjaga won dalam tren lemah.
Di sisi lain, ekspektasi pelemahan won juga bisa menciptakan tekanan tambahan. Ketika pelaku pasar memperkirakan won akan terus melemah, mereka semakin terdorong membeli dolar AS atau aset luar negeri untuk melindungi nilai kekayaannya.
Namun, aksi tersebut justru dapat memperbesar permintaan dolar dan membuat won semakin sulit pulih. Kondisi inilah yang membuat pelemahan won Korea Selatan saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen global, tetapi juga oleh perubahan perilaku investasi masyarakat domestiknya sendiri.
Asia Dibayangi Risiko Krisis Mata Uang Baru
Tekanan terhadap won Korea Selatan juga menjadi bagian dari tekanan lebih luas yang sedang menghantam mata uang Asia. Dalam laporan video Al Jazeera berjudul "Is Asia Facing a New Currency Crisis?", sejumlah mata uang Asia disebut tengah berada dalam tekanan berat akibat kombinasi konflik geopolitik, lonjakan ketidakpastian global, dan penguatan dolar AS.
Konflik di sekitar Selat Hormuz membuat pasokan minyak dan gas dunia terganggu.
Bagi banyak negara Asia yang masih sangat bergantung pada impor energi, kondisi ini menjadi tekanan ganda. Di satu sisi, harga energi berisiko naik. Di sisi lain, pelemahan mata uang membuat biaya impor menjadi semakin mahal.
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa beberapa mata uang Asia, termasuk rupee India dan peso Filipina, sempat menyentuh rekor terendah terhadap dolar AS. Kondisi ini terjadi karena investor global cenderung mengalihkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas dan surat utang pemerintah AS.
Pelemahan mata uang pada akhirnya tidak hanya terasa di pasar keuangan, tetapi juga langsung menekan masyarakat. Ketika mata uang lokal melemah, harga barang impor seperti pangan dan bahan bakar menjadi lebih mahal. Kondisi ini kemudian menambah beban rumah tangga dan dunia usaha.
Sejumlah pemerintah Asia mulai merespons tekanan tersebut dengan berbagai cara. India, misalnya, mendorong penghematan sukarela seperti mengurangi perjalanan ke luar negeri dan konsumsi emas, serta menaikkan bea masuk logam mulia.
Sementara itu, Indonesia juga masuk disebut berupaya menstabilkan rupiah melalui dua jalur. Pertama, peningkatan kendali negara atas devisa hasil ekspor komoditas strategis seperti batu bara dan minyak sawit, yang akan dilakukan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Kedua, pembatasan transaksi valuta asing non-underlying oleh Bank Indonesia, agar permintaan valas tidak semakin menekan rupiah.
Namun, para narasumber dalam laporan tersebut menilai langkah-langkah itu belum tentu cukup. Tekanan mata uang Asia tidak hanya dipicu oleh konflik di Timur Tengah, tetapi juga oleh kelemahan struktural ekonomi dan arus modal global yang lebih banyak mengarah ke pasar saham AS.
CNCB INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

12 hours ago
4

















































