Hukum Sahur saat Puasa, Sunnah Muakkadah Penuh Keutamaan dan Berkah

6 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Ibadah puasa di bulan Ramadan merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki banyak keutamaan, salah satunya terkait sahur, yakni makan dan minum sebelum fajar. Memahami hukum sahur saat puasa penting agar ibadah yang dijalankan sesuai syariat dan mendapatkan berkah penuh.

Kedudukan sahur sering menimbulkan pertanyaan, apakah termasuk kewajiban yang jika ditinggalkan membatalkan puasa atau sekadar anjuran. Penjelasan yang tepat akan membantu umat Muslim menjalankan puasa dengan benar tanpa kekhawatiran kesalahan.

Berikut Liputan6.com melansir dari berbagsi sumber, Senin (9/3), hukum sahur saat puasa beserta dalil, keutamaan, dan waktu pelaksanaan yang dianjurkan. Dengan pemahaman ini, umat Islam dapat melaksanakan sahur dan puasa secara maksimal serta memperoleh pahala yang lebih besar.

Kedudukan Hukum Sahur dalam Islam

Dalam ajaran Islam, hukum sahur saat puasa adalah sunnah, bukan wajib. Ini berarti bahwa puasa seseorang akan tetap sah dan tidak batal meskipun ia tidak melaksanakan sahur karena suatu alasan, seperti terlambat bangun atau lupa. Pemahaman ini penting agar tidak ada keraguan dalam menjalankan ibadah puasa.

Meskipun tidak wajib, sahur digolongkan sebagai sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Anjuran ini didasarkan pada berbagai hadits Nabi yang menunjukkan pentingnya sahur bagi umat Muslim. Oleh karena itu, meninggalkannya berarti kehilangan banyak keutamaan.

Dalil dan Anjuran Bersahur

Anjuran untuk bersahur memiliki dasar yang kuat dalam syariat Islam, baik dari Al-Qur’an maupun Hadits Nabi Muhammad SAW. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 187 disebutkan:

"Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam."

Ayat ini secara jelas menunjukkan batas waktu sahur hingga terbitnya fajar, sekaligus menegaskan pentingnya sahur dalam menjalankan ibadah puasa.

Rasulullah SAW juga menganjurkan sahur melalui berbagai hadits. Salah satu hadits yang populer menyebutkan:

 تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً 

Artinya: "Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan." (HR. Bukhari)

Hadits lain dari HR. Ahmad menegaskan, "Bersahur itu adalah suatu keberkahan, maka janganlah kamu meninggalkannya, walaupun hanya dengan seteguk air, karena Allah dan para malaikat bersalawat atas orang-orang yang bersahur."

Selain keberkahan, sahur juga menjadi pembeda ibadah puasa umat Islam dengan umat lainnya. Sebagaimana hadits riwayat Muslim menyatakan:

 وَتَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ فَرْقًا بَيْنَ صَوْمِنَا وَصَوْمِ أَهْلِ الْكِتَا

Artinya: "Bersahurlah, karena sahur itu membedakan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab."

Hal ini menunjukkan bahwa sahur bukan sekadar makan, melainkan bagian dari identitas spiritual dan keistimewaan puasa dalam Islam.

Ragam Keutamaan Melaksanakan Sahur

Melaksanakan sahur tidak hanya sekadar mengikuti anjuran, tetapi juga mendatangkan keutamaan spiritual dan pahala besar, termasuk ketenangan hati serta kekuatan tubuh. Keberkahan ini menjadi motivasi utama bagi umat Muslim untuk tidak melewatkan sahur.

Secara fisik, sahur berfungsi sebagai sumber energi penting agar tubuh tetap bugar dan konsentrasi terjaga sepanjang hari. Dengan asupan yang cukup, risiko lemas dapat diminimalisir sehingga ibadah puasa dapat dijalankan dengan optimal tanpa mengganggu produktivitas.

Keutamaan lain dari sahur adalah sebagai pembeda puasa umat Islam dari puasa Ahli Kitab, menegaskan identitas ibadah kita. Selain itu, Allah SWT dan para malaikat mendoakan orang yang bersahur, sementara waktu sahur menjelang Subuh menjadi saat mustajab untuk doa, dzikir, dan membaca Al-Qur’an.

Dari sisi kesehatan, sahur membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil, mencegah dehidrasi, dan mengurangi risiko kelelahan. Lebih dari itu, melaksanakan sahur berarti mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk kecintaan dan ketaatan kepada beliau.

Waktu Terbaik dan Batas Akhir Sahur

Pemahaman waktu sahur sangat penting agar ibadah puasa berjalan dengan benar. Waktu sahur dimulai setelah tengah malam hingga terbitnya fajar yang menandai masuknya waktu Subuh, memberikan fleksibilitas bagi umat Muslim untuk mempersiapkan diri.

Waktu terbaik untuk sahur adalah mengakhirinya mendekati Subuh, yaitu pada sepertiga malam terakhir sekitar 30–40 menit sebelum azan. Hal ini sesuai sunnah Rasulullah SAW, yang menganjurkan sahur mendekati waktu fajar, dengan jarak cukup untuk membaca sekitar lima puluh ayat Al-Qur’an sebelum Shalat Subuh.

Batas akhir sahur adalah saat terbitnya fajar shadiq atau ketika azan Subuh berkumandang. Setelah azan, makan dan minum tidak diperbolehkan lagi, dan jika masih ada makanan di mulut, wajib dimuntahkan agar puasa tetap sah.

Perlu dicatat, waktu Imsak bukan batas akhir sahur, melainkan hanya pengingat bahwa sahur akan segera berakhir. Kementerian Agama Republik Indonesia menegaskan bahwa umat masih diperbolehkan makan dan minum setelah Imsak hingga azan Subuh berkumandang.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

1. Apakah sahur wajib saat puasa Ramadan?

Sahur hukumnya sunnah muakkadah, bukan wajib. Puasa seseorang tetap sah meskipun ia tidak melaksanakan sahur.

2. Apa saja keutamaan utama melaksanakan sahur?

Sahur membawa keberkahan, memberikan energi, menjadi pembeda puasa umat Islam, dan Allah serta malaikat bershalawat atas orang yang bersahur.

3. Kapan waktu terbaik untuk sahur?

Waktu terbaik untuk sahur adalah pada sepertiga malam terakhir, sekitar 30 hingga 40 menit sebelum adzan Subuh, mengakhirkan sahur mendekati fajar.

4. Apakah masih boleh makan atau minum saat waktu Imsak?

Ya, waktu Imsak hanya sebagai pengingat atau tanda kehati-hatian. Anda masih diperbolehkan makan dan minum hingga adzan Subuh berkumandang.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |