IHSG Dibuka Hijau, Rupiah Perkasa di Tengah Tekanan Dolar AS

17 hours ago 8

loading...

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (31/7). FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA - Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat setelah data ekonomi Negeri Paman Sam dirilis lebih lemah dari perkiraan pasar. Sejalan dengan penguatan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka di zona hijau, mencerminkan sentimen positif di pasar keuangan domestik.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah tajam setelah data inflasi PCE dan PDB AS yang jauh lebih lemah dari perkiraan," kata Analis Doo Financial Futures Lukman Leong, Jumat (31/7/2026).

Baca Juga: IHSG Menguat Tipis Hari Ini, Sektor Keuangan dan Industri Lesu

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah menguat 37 poin atau 0,20% menjadi Rp18.074 per dolar AS. Penguatan tersebut membalikkan pelemahan pada perdagangan Kamis (30/7), ketika mata uang Garuda ditutup turun 38 poin atau 0,21% ke level Rp18.111 per dolar AS.

Lukman menjelaskan pelemahan dolar AS dipicu oleh rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap penguatan dolar AS dalam jangka pendek.

Meski demikian, ia menilai ruang penguatan rupiah masih dibatasi oleh sejumlah sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak mentah sekaligus meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, yang berpotensi menekan mata uang negara berkembang.

Selain itu, kenaikan harga energi memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan dapat memperburuk neraca perdagangan negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia. Sementara dari dalam negeri, investor masih mencermati perkembangan terkait kepemimpinan dan independensi Bank Indonesia (BI). "Sentimen domestik masih relatif lemah, terutama yang berkaitan dengan kepemimpinan dan independensi BI," ujar Lukman.

Baca Juga: Rupiah Menanti Nakhoda Baru

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |