Kisah Daniel, Pencari Roti Gratis yang Sukses Jadi Pengusaha Stone Crusher

8 hours ago 3

loading...

Raden Danieli Sapyudin, alumnus ITB yang kini mendedikasikan diri selama 15 tahun di dunia tambang batu Indonesia. Foto/Dok. SindoNews

JAKARTA - Batu memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Tanpa batu, peradaban modern tidak akan berkembang seperti yang kita kenal saat ini. Hampir seluruh infrastruktur yang menopang kehidupan kita, baik pembangunan rumah, gedung bertingkat, bendungan, pelabuhan, bandara, hingga jalan raya—bergantung pada batu sebagai material konstruksi utama. Hingga saat ini, belum ada material lain yang mampu menggantikan peran batu secara luas dalam industri konstruksi.

Analogi tentang batu itu disampaikan Raden Danieli Sapyudin, alumnus ITB yang kini mendedikasikan diri selama 15 tahun di dunia tambang batu Indonesia. Daniel, panggilan akrabnya menjadi salah satu pilar penting dalam pengadaan stone crusher di sektor tambang yang umum disebut quarry.

Nama Daniel, mungkin belumlah tenar sebagai pemilik tambang batu di Indonesia. Namun dirinya juga tak dapat dianggap enteng di industri itu. Kendati belum menjadi seorang pemilik tambang, Daniel tak bisa dianggap remeh sebagai pengusaha penyedia unit stone crusher ataupun pembuatan stone crusher plant. Terjun di dunia tambang, khususnya mesin pencacah batu sejak tahun 2009, Daniel saat ini justru memiliki hubungan baik dengan salah satu pabrik crusher di negara Tiongkok.

Daniel bukanlah sosok pengusaha yang terlahir dari keluarga berkemampuan kapital tinggi. Dalam perbincangan singkat Kamis (30/7/2026), Daniel menceritakan masa kecil yang dilalui dengan cukup memprihatinkan karena bukan berasal dari keluarga kaya. Sang ayah yang bernama Raden Oo Mustopa diceritakannya ketika itu hanyalah penjahit dengan penghasilan pas-pasan .

Untuk membantu kehidupan keluarga, ibunya yang bernama Siti Masitoh turut bekerja sebagai buruh pabrik kain di Jakarta. Sebagai tambahan, sang ibu menyambi menjual berbagai kebutuhan rumah tangga kepada para tetangga dan rekan kerjanya dengan pembayaran yang dapat dicicil.

Tak hanya itu, Bu Masitoh juga membuat panganan gorengan yang kemudian dititipkan di warung sekitar sekolah dekat tempat tinggalnya. Daniel kecil tak jarang bahkan ikut menjual es mambo buatan ibunya atau menjajakan roti untuk membantu perekonomian keluarga. Kehidupan sederhana dialaminya tak urung membuat Daniel menjauhkan diri dari pergaulan di sekolah.

"Ikut bapak dibonceng ke pabrik roti merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya ketika itu. Bisa makan gratis roti hangat langsung dari pabrik," kekehnya ringan.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |