Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju kencang sepanjang sesi 1 hari ini, Rabu (1/4/2026). IHSG menutup sesi 1 di level 7.150,69, naik 102,47 poin atau 1,45%.
Sebanyak 505 saham naik, 210 turun, dan 243 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 8,63 triliun dengan volume perdagangan 16,41 miliar saham dalam 1,12 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun terkerek naik menjadi Rp 12.598 triliun.
Mengutip Refinitiv, semua sektor berada di zona hijau. Penguatan IHSG ditopang oleh sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps), terutama dari sektor energi dan komoditas. Namun di sisi lain, laju IHSG juga tertahan oleh tekanan dari saham-saham sektor energi dan batu bara.
Laju IHSG juga selaras dengan pergerakan bursa Asia. Kospi di Korea Selatan memimpin penguatan dengan kenaikan 8,22%. Kemudian Nikkei di Jepang naik 4,69%. Indeks Hang Seng di Hong Kong melesat 2,12% dan STI di Singapura naik 1,96%.
Penguatan IHSG juga merespons kebijakan pemerintah untuk mengantisipasi dampak rambatan konflik di Timur Tengah. Sebagaimana diketahui perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah membuat gejolak harga energi dunia.
Di antaranya adalah pemberlakuan work from home atau WFH satu kali dalam sepekan untuk ASN, yakni hari Jumat, penghematan BBM, refocusing anggaran serta perubahan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan delapan poin kebijakan ini merupakan langkah mitigasi terhadap dinamika global sekaligus momentum langkah transformasi dan perubahan.
"Program kebijakan ini disebut dengan 8 Butir Kebijakan Transformasi Budaya Kerja Nasional dan Kebijakan Energi Pemerintah," ucap Airlangga saat konferensi pers secara live dari Seoul pada Selasa (30/3/2026).
Kendati demikian, pasar juga masih dibayangi tantangan dari sektor energi. Pemerintah memang memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi belum naik per 1 April 2026 dan pasokan energi domestik tetap aman, tetapi gejolak harga energi global akibat perang di Timur Tengah tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Selasa (31/3/2026) menegaskan bahwa pemerintah belum akan menaikkan harga BBM non-subsidi per 1 April 2026.
"Terkait dengan urusan BBM Pertadex atau solar kualitas tinggi belum ada penyesuaian harga dan apa yang disampaikan Mensesneg itu sama tidak kurang dan tidak lebih. Tentu dengan fluktuasi harga dunia kami juga akan kaji sesuai perkembangan dunia," kata Bahlil dalam konferensi pers, Selasa (31/3/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Bahlil juga memastikan pasokan energi domestik masih dalam kondisi aman. Dia menyebut cadangan BBM, baik solar, bensin, avtur, maupun LPG, saat ini berada di atas standar minimum nasional.
"Artinya sekalipun kita tahu ketegangan geopolitik belum tahu kapan selesai, dan beberapa negara lain telah ada kebijakan untuk efisiensi. Kita bersyukur atas petunjuk presiden cadangan BBM kita semua di atas standar minimum nasional," ujarnya.
Bahlil juga menegaskan bahwa pemerintah telah memperoleh sumber pengganti impor minyak dan LPG yang sebelumnya berasal dari Timur Tengah. Menurut dia, langkah ini dilakukan untuk memastikan gejolak di kawasan tersebut tidak langsung mengganggu kebutuhan energi nasional.
"Ketika ketegangan Timur Tengah, kita mengganti dari middle east. Alhamdulillah sudah dapat, tidak ada keraguan lagi. Kita sudah dapat," tegas Bahlil.
(mkh/mkh)
Addsource on Google

5 hours ago
3
















































