Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden China Xi Jinping secara resmi menyerukan percepatan perencanaan dan pembangunan sistem energi baru guna melindungi keamanan energi negaranya. Langkah strategis ini diambil hanya berselang beberapa minggu setelah pecahnya perang Iran yang memicu guncangan energi di tingkat global.
Pemimpin ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut juga menekankan pentingnya pengembangan pembangkit listrik tenaga air serta perlindungan ekologis. Mengutip laporan media pemerintah CCTV, Presiden Xi turut mendesak dilakukannya ekspansi tenaga nuklir secara aman dan tertib demi memperkuat ketahanan nasional.
"Komite Sentral Partai telah memperoleh pemahaman mendalam tentang tren pengembangan energi global dan membuat keputusan besar dengan memajukan strategi keamanan energi baru secara mendalam," tegas Xi Jinping saat merujuk pada pusat otoritas Partai Komunis yang berkuasa, dikutip Selasa (7/4/2026).
Meskipun dalam pidatonya yang dikutip oleh CCTV Xi tidak menyebutkan perang secara langsung, situasi geopolitik saat ini tengah memanas. Amerika Serikat dan Iran dilaporkan sedang mempertimbangkan rencana yang diperantarai Pakistan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima pekan, meski Teheran masih menolak tekanan untuk segera membuka kembali Selat Hormuz.
Para analis menilai bahwa China berada dalam posisi yang relatif lebih baik untuk menyerap kenaikan harga minyak dunia. Hal ini dikarenakan batu bara masih menyumbang lebih dari separuh bauran energinya, ditambah lagi China memiliki cadangan minyak yang melimpah dan impor melalui Selat Hormuz hanya mewakili sekitar 5% dari total konsumsi energinya.
"Jalur yang kita ambil dengan menjadi yang pertama mengembangkan tenaga angin dan surya kini terbukti visioner. Pada saat yang sama, pembangkit listrik tenaga batu bara tetap menjadi fondasi sistem energi kita dan harus terus memainkan peran pendukungnya," kata Xi.
Saat ini, China mengoperasikan lebih dari separuh kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara di dunia, menjadikannya penghasil emisi karbon terbesar yang kerap memicu kritik dari inisiatif iklim pimpinan Barat. Kendati mempercepat transisi energi terbarukan, Negeri Tirai Bambu tetap menempatkan batu bara sebagai tulang punggung keandalan dan sistem cadangan yang fleksibel.
Walaupun menekankan peran vital batu bara dalam bauran energi nasional, Presiden Xi menegaskan bahwa China sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia harus tetap berkomitmen pada pembangunan rendah karbon yang bersih. Hal ini menjadi kunci bagi keberlanjutan ekonomi jangka panjang negara tersebut di tengah ketidakpastian global.
"Sistem energi baru yang lebih hijau, lebih terdiversifikasi, dan tangguh akan memberikan jaminan kuat bagi keamanan energi dan pembangunan ekonomi China," lapor CCTV.
Sebagai langkah nyata, China telah memulai pembangunan bendungan hidroelektrik terbesar di dunia di pinggiran timur Dataran Tinggi Tibet pada Juli lalu. Selain itu, pada hari Senin, kantor berita Xinhua melaporkan bahwa pembangunan pembangkit listrik tenaga surya termal oleh China General Nuclear Power Group di ketinggian 4.550 meter di Tibet juga telah resmi dimulai.
(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
3
















































