Permintaan Minyak Global Diramal Turun Tajam di 2026, Terburuk sejak Pandemi Covid-19

4 hours ago 6

loading...

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan permintaan minyak global akan mengalami kontraksi pada 2026. FOTO/AP

LONDON - Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan permintaan minyak global akan mengalami kontraksi pada 2026, menjadi penurunan tahunan pertama sejak pandemi Covid-19 pada 2020. Pelemahan konsumsi dipicu terganggunya pasokan energi akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang menghambat arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

"Permintaan minyak global akan turun satu juta barel per hari pada 2026, menjadi kontraksi tahunan pertama sejak 2020," demikian laporan bulanan IEA yang dirilis hari ini, dikutip dari Euronews, Jumat (10/7/2026).

Baca Juga: Imbas AS Serang Iran: Qatar, Bahrain, dan Kuwait Panik

IEA menjelaskan penurunan tersebut memang jauh lebih kecil dibandingkan saat pandemi Covid-19, ketika permintaan minyak dunia sempat merosot sekitar delapan juta barel per hari. Namun, kondisi saat ini mencerminkan besarnya dampak ekonomi global dari terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute distribusi energi paling penting di dunia.

Menurut IEA, pelemahan permintaan terjadi tidak merata dan paling besar dirasakan negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi, terutama untuk kebutuhan bahan baku petrokimia seperti nafta dan liquefied petroleum gas (LPG). Di tengah kondisi tersebut, harga minyak mentah Brent bertahan di kisaran 76 dolar AS per barel atau sekitar 6 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik meningkat pada akhir Februari, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar 72 dolar AS per barel.

Di sisi pasokan, produksi minyak global meningkat 4,1 juta barel per hari pada Juni menjadi 98,8 juta barel per hari setelah sebagian jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali dibuka. Meski demikian, volume produksi tersebut masih sekitar 9,4 juta barel per hari lebih rendah dibandingkan tingkat sebelum konflik pecah.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |