Jakarta, CNBC Indonesia - PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mencatat volume penjualan semen sepanjang tahun 2025 mengalami penurunan 0,6% jadi 37,8 juta ton per tahun dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 38,3 juta ton.
Volume penjualan tersebut mempengaruhi pendapatan sepanjang tahun 2025 yang turun 2,6% dibandingkan tahun 2024. Selain itu, penurunan pendapatan juga dipengaruhi oleh tekanan harga jual sebagai dampak melemahnya permintaan semen, khususnya semen proyek.
"Karena volume lebih rendah dan juga harga di semester I juga lebih rendah. Semester I kami membukukan pendapatan Rp15,6 triliun, semester II bisa tumbuh ke 19,6 triliun," kata Direktur Utama SMGR Indrieffouny Indra dalam rapat bersama Komisi VI di gedung DPR RI Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Ia memaparkan, penurunan kinerja tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi pasar industri semen yang oversupply dan permintaan produk semen yang melemah. "Sebelumnya 63%, kemudian saat ini hanya 52%. Ini penyebabnya adalah karena sejak 2019 demand semen tidak mengalami kenaikan," sebutnya.
Selain itu, utilisasi pabrik sampai saat ini juga masih mengalami penurunan sejak tahun 2019. "Sementara kapasitas produksi itu mengalami kenaikan. Dari 111 juta ton sekarang sudah menjadi 122 juta ton," imbuhnya.
Ia berharap dengan adanya program 3 juta rumah dari pemerintah dapat meningkatkan permintaan semen dalam negeri. "Kira-kira 3 juta rumah ini akan membutuhkan semen sekitar 9 juta ton atau 3% dari kapasitas pangsa pasar," tutupnya.
(mkh/mkh)
Addsource on Google

2 hours ago
4
















































