Politisi Murtad yang Didukung Trump Kalah Pemilihan Pendahuluan, Justru karena Namanya Khas Muslim

2 hours ago 4

loading...

Amir Hassan, politisi Partai Republik yang telah keluar dari Islam, kalah dalam pemilihan pendahuluan di Michigan, AS. Foto/via Instagram/christinalorey

WASHINGTON - Amir Hassan, kandidat anggota Kongres Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik untuk Daerah Pemilihan (Distrik) ke-8 Michigan, kalah dalam pemilihan pendahuluan pekan ini. Kekalahan politisi yang didukung Presiden Donald Trump ini diduga karena namanya yang khas Muslim meski dia sudah keluar dari Islam.

Hassan, seorang mantan veteran militer AS, selama kampanyenya menyatakan bahwa dia telah berpindah agama dari Islam ke Kristen. Namun, hal itu tampaknya tidak cukup meyakinkan sebagian pemilih Partai Republik.

Baca Juga: AIPAC akan Kucurkan Lebih Banyak Uang untuk Kandidat Senat Republik dan Kalahkan El-Sayed

Di situs resmi kampanyenya, Hassan, yang merupakan warga Amerika keturunan Afrika, menyatakan: "Saya baru-baru ini meneguhkan kembali komitmennya kepada Kristus, dan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamatnya."

Meski demikian, pencalonannya tetap menuai penolakan dari sebagian kalangan sayap kanan pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA) pro-Trump.

Pada akhir bulan lalu, setelah Trump mengumumkan dukungannya untuk Hassan melalui platform media sosial Truth Social, sejumlah pengguna membalas unggahan tersebut dengan komentar yang menyatakan mereka tidak menginginkan "Muslim" menduduki jabatan publik.

Seorang pengguna mempertanyakan loyalitas Hassan kepada Amerika Serikat, sementara pengguna lain mengkritik keputusan Trump dengan mengatakan bahwa presiden "telah kehilangan akal sehatnya" karena memberikan dukungan kepada Hassan. Mereka juga menyebut bahwa sudah "terlalu banyak Muslim" berada di pemerintahan.

Salah satu pengguna Truth Social menulis: "Kalau harus memilih antara pajak dan Islam, saya memilih pajak. Begitu kaum Muslim berkuasa, jika Anda bukan Muslim dan mereka tidak membunuh Anda terlebih dahulu, Anda juga harus membayar pajak khusus untuk bisa tinggal di negara mereka."

Istilah "pajak khusus" tersebut jelas merupakan tuduhan atau stereotip yang merujuk pada "jizyah", yaitu pajak yang secara historis dikenakan dalam beberapa pemerintahan Islam kepada warga non-Muslim.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |