RI Butuh Banyak Uang Demi Ekonomi 8%, Prabowo Bocorkan Sumbernya!

6 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto percaya diri fiskal pemerintah kini makin kuat untuk memenuhi kebutuhan pembangunan melalui program-program strategis sehingga ekonomi bisa tumbuh 8%.

Hal ini ia ungkapkan merespons pertanyaan mantan menteri keuangan yang kini menjadi anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Chatib Basri dalam acara Presiden Prabowo Menjawab. Acara itu tayang di Youtube Prabowo Subianto.

"Mungkin concernnya begini pak, karena tax ratio kita kan rendah pak, tax ratio terhadap GDP kita hanya 9% sekarang, sementara orang melihat pembiayaannya ini besar, maka pertanyaannya selalu financingnya dari mana?" kata Chatib kepada Prabowo, dikutip Rabu (25/3/2026).

"Koreksi saya kalau salah pak, bapak mau ambil itu dari leakage (kebocoran) yang ada, jadi tax ratio, plus leakage itu, kemudian plus efisiensi, itulah yang untuk membiayai programnya?" tegasnya.

Merespons pertanyaan itu, Prabowo mulanya membenarkan pernyataan Chatib bahwa dirinya akan mengambil sumber pembiayaan program pembangunannya dari menutup berbagai kebocoran anggaran yang selama ini terjadi, peningkatan tax ratio, hingga efisiensi.

Ia mengatakan, khusus untuk mencegah kebocoran dan inefisiensi, pemerintah telah memiliki program digital seperti govtech. Menurut DEN, Prabowo mengatakan, govtech tidak hanya mengurangi kebocoran-kebocoran anggaran, melainkan juga bisa meningkatkan tax ratio Indonesia.

"Dan DEN si pimpin Pak Luhut sendiri yang lapor ke saya dengan govtech, dengan digitalisasi, semua ini bisa terus mengurangi kebocoran. Kemudian perhitungan DEN sendiri juga bahwa tax ratio kita dalam waktu dekat bisa naik 3,5%. Kalau benar itu kita sudah setingkat sama Asia lain," tutur Prabowo.

Prabowo menekankan, dengan kenaikan pertumbuhan pajak yang selama dua bulan terakhir mampu tumbuh 30%, maka tax ratio dengan sendirinya juga akan naik bila trennya mampu dipertahankan. Ia percaya diri tax ratio akan bisa naik ke level 12-13% dari yang selama ini di kisaran 9%.

"Kalau tren tiga bulan ini naik 30%, 30%, 30%, ini tax ratio kita lumayan itu nanti. Jadi, kalau kita bisa naik tax kita naik bener 30% tiap bulan, rata-rata satu tahun ini 2026 wah itu berarti dari 9% ya benar sudah 12-13%," tegas Prabowo.

Meski begitu, Chatib menganggap, kenaikan setoran pajak dalam dua bulan terakhir yang di kisaran 30% itu hanya secara bruto. Sebab, neto nya hanya sekitar 7%, karena 23% sisanya harus dikembalikan dalam bentuk restitusi. Merespons itu, Prabowo memastikan akan ada strategi dari pemerintah untuk menghitung ulang.

"Ya tapi itu kan strategi aja, nanti kita akan hitung, tapi kita masih banyak dana-dana lain," tegas Prabowo.

Kendati begitu, Kementerian Keuangan sebelumnya mengungkapkan bahwa pertumbuhan pajak sebesar 30,4% hingga Februari 2026 ialah penerimaan pajak negto, bukan bruto, sehingga penerimaan pajak mencapai Rp 245,1 triliun dalam dua bulan pertama tahun ini.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, tumbuh tingginya penerimaan pajak awal tahun ini ditopang oleh pertumbuhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang melonjak hingga 97%.

"PPN dan PPnBM dibayar jika ada transaksi. Ini menunjukkan bahwa di perekonomian kita transaksi berjalan terus, kegiatan ekonomi, aktivitas ekonomi itu berjalan terus," ujar Suahasil, dikutip Jumat (13/3/2026).

(arj/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |