Sentimen Pekan Depan, Harap-harap Cemas Data Inflasi dan Tenagakerja

5 hours ago 4

Sentimen Pekan Depan

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

29 March 2026 15:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki pekan perdagangan yang menjembatani akhir Maret dan awal April 2026, pelaku pasar akan memantau sejumlah rilis data makroekonomi dari berbagai kawasan. Rangkaian data ini mencakup indikator inflasi, aktivitas perdagangan, hingga kondisi ketenagakerjaan.

Angka aktual yang dirilis nantinya akan dibandingkan dengan konsensus dan proyeksi pasar untuk mengukur arah kebijakan moneter dari bank sentral terkait, baik dari Bank Indonesia hingga The Federal Reserve terutama di tengah dinamika perang saat ini.

Perbandingan antara data historis dan estimasi ke depan ini akan menjadi dasar bagi penentuan posisi aset pada instrumen ekuitas maupun komoditas global yang masih mengalami volatilitas sangat tinggi

Ekspektasi Pembukaan Lapangan Kerja Amerika Serikat

Data pembukaan lapangan kerja Amerika Serikat atau Job Openings and Labor Turnover Survey untuk bulan Februari dijadwalkan rilis pada tanggal 31 Maret 2026. Pada bulan Januari, jumlah lowongan pekerjaan tercatat sebesar 6,946 juta.

Untuk bulan Februari, konsensus pasar memperkirakan adanya sedikit penurunan ke angka 6,85 juta, dan diproyeksikan angka 6,7 juta. Proyeksi penurunan ini menunjukkan adanya moderasi pada tingkat permintaan tenaga kerja dari sisi perusahaan.

Ke depannya, tren pembukaan lapangan kerja yang lebih rendah dari rata-rata historis pra-pandemi ini mengonfirmasi bahwa pasar tenaga kerja Amerika Serikat sedang menuju keseimbangan baru.

Kondisi ini dapat mengurangi tekanan inflasi yang berasal dari kenaikan upah, yang pada gilirannya dapat menjadi pertimbangan bagi The Federal Reserve dalam mengevaluasi kebijakan suku bunga restriktifnya.

Relevansi Kinerja Sektor Manufaktur Tiongkok

Dari kawasan Asia, sentimen pasar turut mempertimbangkan rilis data Caixin China General Manufacturing PMI untuk bulan Februari yang telah diumumkan sebelumnya. Indeks tercatat di level 52,1, lebih tinggi dari konsensus pasar di 51,9 dan perkiraan di 51,7, serta meningkat dari pencapaian bulan Januari di 50,3.

Angka di atas 50 mengindikasikan sektor manufaktur masih dalam fase ekspansi. Ke depannya, data yang lebih baik dari ekspektasi ini memberikan indikasi stabilitas pada permintaan eksternal, mengingat survei Caixin didominasi oleh perusahaan menengah yang berorientasi ekspor.

Stabilitas pada sektor manufaktur Tiongkok ini memberikan sentimen yang relatif positif terhadap pergerakan harga komoditas global, termasuk barang tambang logam yang sering diimpor oleh sektor industri negara tersebut.

Antisipasi Rilis Data Inflasi Indonesia

Di tingkat domestik, Badan Pusat Statistik akan merilis data inflasi Indonesia untuk periode Maret pada tanggal 1 April 2026. Berdasarkan data bulan Februari, tingkat inflasi tahunan berada di posisi 4,76%, yang merupakan angka tertinggi sejak pertengahan 2023.

Untuk rilis bulan Maret, estimasi diperkirakan tingkat inflasi dapat mencapai 4,9%. Peningkatan estimasi ini mempertimbangkan tren harga pada komponen perumahan dan makanan.

Ke depannya, tingkat inflasi yang persisten di atas rentang sasaran Bank Indonesia dapat membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter. Hal ini berpotensi menjaga imbal hasil Surat Berharga Negara di level yang kompetitif untuk menahan arus keluar modal asing, namun di sisi lain dapat memberikan beban tambahan bagi sektor emiten yang sensitif terhadap tingkat suku bunga tinggi di pasar saham domestik.

Perkiraan Kinerja Neraca Perdagangan Indonesia

Bersamaan dengan data inflasi, data neraca perdagangan Indonesia untuk bulan Februari juga akan diumumkan pada tanggal 1 April 2026. Pada bulan Januari, surplus neraca perdagangan tercatat sebesar USD 0,95 miliar, turun dari bulan-bulan sebelumnya seiring dengan kenaikan impor dan penurunan nilai ekspor migas.

Untuk bulan Februari, proyeksi dari diperkirakan surplus berada di kisaran USD 1,2 miliar. Ke depannya, pelebaran surplus yang moderat ini menunjukkan bahwa kinerja ekspor neto masih menghadapi tantangan dari dinamika harga komoditas global dan penyesuaian tarif perdagangan internasional.

Meskipun demikian, capaian surplus yang konsisten tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas transaksi berjalan dan memberikan dukungan pada nilai tukar Rupiah dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan global.

Indikator Sektor Manufaktur Amerika Serikat

Aktivitas sektor riil Amerika Serikat akan diukur melalui rilis data ISM Manufacturing PMI untuk bulan Maret pada tanggal 1 April 2026. Indeks pada bulan Februari tercatat di level 52,4.

Untuk bulan Maret, konsensus pasar memperkirakan indeks berada di level 52,3, sementara diproyeksikan angka 52,0. Angka estimasi ini mengindikasikan bahwa sektor manufaktur diperkirakan masih berekspansi, namun dengan laju yang lebih lambat.

Ke depannya, perhatian pasar akan difokuskan pada komponen subindeks harga yang dibayar oleh produsen, mengingat pada bulan sebelumnya terjadi peningkatan beban biaya akibat harga material dasar dan tarif.

Apabila indeks headline turun namun subindeks harga tetap tinggi, hal ini dapat mengindikasikan efisiensi margin perusahaan yang mengetat, sebuah sentimen yang perlu dipertimbangkan dalam valuasi ekuitas sektor industri Amerika Serikat.

Proyeksi Penambahan Tenaga Kerja Non-Pertanian Amerika Serikat

Fokus utama pasar pada akhir pekan depan akan tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls Amerika Serikat untuk bulan Maret, yang dijadwalkan pada tanggal 3 April 2026.

Data bulan Februari menunjukkan adanya penurunan jumlah pekerjaan sebesar 92.000, yang merupakan indikasi pelemahan setelah revisi ke bawah pada data bulan-bulan sebelumnya. Untuk bulan Maret, konsensus pasar memperkirakan adanya penambahan pekerjaan sebesar 48.000, dan diproyeksikan angka 50.000.

Ke depannya, apabila realisasi penambahan tenaga kerja kembali berada di bawah ekspektasi pasar, hal ini akan mengonfirmasi tren pelemahan ekonomi makro.

Data yang lemah akan meningkatkan keyakinan pasar bahwa bank sentral akan melakukan intervensi melalui penurunan suku bunga acuan untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi, yang biasanya akan direspons dengan penguatan instrumen obligasi.

Tingkat Pengangguran Amerika Serikat dan Arah Kebijakan Moneter

Bersamaan dengan data jumlah pekerja, tingkat pengangguran Amerika Serikat untuk bulan Maret juga akan dirilis pada tanggal 3 April 2026. Pada bulan Februari, tingkat pengangguran tercatat naik ke level 4,4%.

Untuk rilis mendatang, konsensus pasar dan proyeksi dari diperkirakan tingkat pengangguran akan kembali meningkat ke level 4,5%. Ke depannya, jika angka 4,5% ini terealisasi, pasar akan melihat hal ini sebagai sinyal berkurangnya daya serap angkatan kerja.

Peningkatan pengangguran yang konsisten memiliki implikasi langsung terhadap penurunan daya beli konsumen, yang merupakan komponen utama pembentuk Produk Domestik Bruto Amerika Serikat.

Bagi para pelaku pasar, metrik ini akan menjadi katalis utama dalam menentukan ekspektasi pelonggaran moneter The Federal Reserve pada kuartal-kuartal mendatang.

-

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |